
"Jika bukan kamu seorang wanita yang sudah sah saya nikahi, maka saya tidak akan pernah menerima keras kepala dan egois seperti kamu! Sedari awal saya melihat kamu di hotel bersama pemuda itu, saya sudah bisa menebak siapa kamu yang sebenarnya Nona Faradilla Hermawan!"
Ddduuuaaarr!!
Serasa dihantam petir tubuh Dilla saat ini. Kakinya bergetar saat Arta membuka lagi aibnya dihadapan tiga orang yang kini menatapnya dengan datar.
"Tidak perlu malu dan takut Dilla. Mereka semua sudah tahu seperti apa kebiasaan dan kelakuan mu. Lihatlah saat ini. Kamu tetap saja sama. Kamu menghidangkan makanan untuk saya, tetapi kamu juga yang makan duluan. Bukan saya membenci kamu Nona Dilla. Hanya saja, pernikahan kita terjadi karena kesalahpahaman karena Papa Hermawan menuduh saya yang sudah menodai kamu. Padahal saya tidak melakukan itu. Saya datang ke hotel itu karena Farhan mengatakan jika ada salah satu penghuni hotel saat ini sedang pingsan karena terlalu banyak minum."
"Maka dari itu saya datang untuk mengobati lelaki kamu itu. Tetapi apa? Saya malah di berikan hadiah bogem mentah oleh papa kamu. Dan itu karena siapa? Karena kamu Nona Dilla! Seandainya kamu jujur, maka saya tidak perlu menikahi kamu. Maka saya sudah menikahi Risma sedari dulu."
Deg!
__ADS_1
Dilla menoleh pada Risma yang kini juga sedang menatapnya. "Risma, merupakan gadis yang akan dijodohkan dengan saya sebelum kamu malam itu datang dengan kelakuan burukmu yang membuat saya yang menjadi tumbal keegoisan kamu."
"Setelah saya masuk ke dalam perangkap kamu, kamu malah bebas melakukan apapun yang kamu mau. Oke, saya salah karena tidak menegur kamu. Karena pada dasarnya kamu sudah terbiasa dengan banyak lelaki. Jadi saya yang baru saja menikahi kamu terasa sulit untuk melarang kamu. Belum lagi dengan perjanjian konyol yang kamu buat itu yang semakin membuat saya terikat sekaligus harga diri saya sebagai seorang suami direndahkan begitu saja olehmu dan Papa kamu."
Deg!
"Seharusnya kamu sadar Dilla. Kamu dulu sendiri yang tidak menginginkan pernikahan ini ketika saya menginginkan pernikahan itu. Tetapi apa? Kamu menolaknya. Dan sekarang, kamu ingin kembali kepada saya disaat Risma sudah kembali di dalam hidup saya? Enak sekali kamu! Setelah kamu puas menginjak harga diri saya sebagai seorang lelaki dan seorang suami, sekarang kamu ingin memperbaiki segalanya? Cih! Itu tidak akan pernah terjadi!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
"Saya tidak mungkin menyirami ladang yang bukan milik saya sedari awal. Untuk itu, kamu boleh memilih pergi jika kamu tidak tahan dengan pernikahan ini. Saya sudah memberikan jalan padamu. Sekarang, semua keputusan ada di tangan kamu. Ingin bertahan tetapi kamu hanya mendapatkan nafkah lahir saja, dan ingin menyerah pun itu lebih bagus. Berarti saya sudah tidak menanggung dosa buah dari perbuatan yang selama pernikahan kita kamu lakukan dengan cara kamu berselingkuh dengan banyak pria dan juga tidak menghormati pernikahan kita!"
Ddduuuuaaaarrrr!!!
Dilla terkesiap mendengar ucapan Arta. Dilla mencelos saat dengan gamblangnya Arta yang mengatakan jika itu memang benar adanya.
Tetapi kenapa hatinya merasakan sakit yang tiada tara saat Arta sendiri yang mengatakan nya? Tentang rahasia nya?
Raga Dilla masih disana, tetapi pikiran dan hatinya melayang entah kemana. Seperti baru saja terbang tiba-tiba dihempaskan ke bawah hingga sulit lagi untuk bangkit.
Wajah itu pucat pasi saat ini. Seperti tidak dialiri darah sama sekali.
__ADS_1