
Syakir tertawa saat mengenang kejadian satu tahun yang lalu jika wajah tampan adiknya itu terpkasa harus di salon oleh kak Annisa saat acara pernikahan mereka.
Saat itu kak Annisa mengomel-ngomel tidak jelas pada Arta. Kak Ira pun demikian. Arta menatap kesal pada Syakir yang kini terus tertawa itu.
Santi terpana melihat lelaki tampan berkumis tipis sama seperti Arta itu sedang tertawa dengan wajah tampan nya.
"Diam, Abang! Semua itu pun karena Abang. Hingga aku yang di omeli sama kakak!" ketusnya lagi masih dengan wajah kesalnya.
Kak Ira dan Annisa terkekeh-kekeh mengenang kejadian itu.
Bagaimana tidak. Saat Arta mengabari mereka semua, Arta pulang dengan wajah bonyok biru lebam di seluruh wajahnya.
Dan hari itu juga mereka akan dinikahkan secara siri dulu. Untuk urusan KUA bisa nanti, begitu kata ayah mertuanya.
__ADS_1
Annisa dan Kak ira yang sangat kesal kepada Arta yang menikah karena scandal dengan salah satu publik figur, ia mengomeli nya habis habisan saat wajah Arta dipoles make up miliknya.
Ia sengaja menekan luka di wajah lebam milik Arta saat itu karena saking kesalnya. Arta menangis menahan sakit.
"Abang terpaksa menikahi Dilla lantaran Papa Dilan kira, kalau Abang pelaku yang sudah membuat amoral dengan Dilla. Padahal bukan Abang. Pemuda itu sengaja bersemnbunyi di dalam kamar mandi karena tidak ingin dihajar oleh Papa Dilan!" Ketusnya masih juga bercerita.
Syakir masih saja meledeknya dengan tertawa. Tetapi arta tidak peduli lagi. Karena perhatiannya kini fokus pada wajah Risma yang mendadakl mendung setelah Arta menceritakan hal itu di hadapan semua orang.
"Ris, tidak seperti yang kamu fikirkan! Dengarkan dulu penjelasan Abang sampai tuntas." Imbuhnya pada Risma yang kini menunduk seperti merasa bersalah.
"Kami berdua tidur pun terpisah. Tidak pernah sekamar kecuali saat keluarga besar berkumpul ataupun ada acara apa saja. Tetap dalam satu kamar, tetapi kami tidak seranjang. Sama yang seperti kita lakukan tadi malam, sayang." Ingin sekali ia mengatakan hal itu pada Risma.
Tetapi itu tidak mungkin. Karena bukan hanya mereka berdua disana, masih ada orang lain yang mendengarkan ucapan nya saat ini.
__ADS_1
Arta menatap lekat pada Risma yang kini terus menunduk dengan tangan saling mere mas satu sama lainnya.
"Kami tidak pernah melakukan kewajiban kami seperti pasangan suami istri lainnya, karena Dilla sendiri yang membatasinya. Awalnya Abang ingin bertahan. Tetapi melihat Dilla yang tidak sesuai seperti yang terlihat, Abang pun memutuskan mengikuti syarat darinya. Bahwa kita berdua hanya menikah karena terikat status saja. Selebihnya tidak. Tidak ada hubungan suami istri ataupun yang lainnya."
"Bahkan untuk isi kamar Abang sendiri, Abang membelinya. Dan saat abang pulang kesini, Abang bawa semua perlengkapan Abang itu." Jelas Arta yang membuat Bunda Zizi bernafas lega
Annisa dan kak ira pun demikian. "Lantas, apakah istri kamu setuju jika kamu menikah lagi?" tanya Bunda Zizi lagi.
Arta mengangguk. "Ya, Dilla mengizinkannya. Dia bilang, dia tidak peduli dengan kehidupan ku. Kalau mau menikah ya menikah saja. Tetapi tidak untuk tinggal dirumah pemberian orang tuanya."
"Dan kamu setuju?" timpal Annisa
Arta mengangguk, "maka dari itu kamu membeli rumah baru untukmu dan istrimu tempati?" kali ini Syakir yang menimpalinya.
__ADS_1
Arta mengangguk lagi. Ia menatap lekat pada Risma yang kini semakin menundukkan wajahnya.
"Karena Abang ingin, di dalam rumah ini hanya kami berdua saja. Tidak ada orang lain lagi terutama Dilla. Abang sudah menginginkan Risma sejak pertama kali melihatnya. Dan ya, Allah kabulkan. Maka dari itu, Abang sengaja membeli rumah ini untuknya dan anak-anak kami nantinya. Mak sama Abang dan kakak, kapan pun bisa kesini dan tinggal disini. Karena abang mau, jika hanya Risma istri sah abang satu-satunya. Tiada yang lain selainnya.." lirih Arta yang membuat Risma semakin menunduk.