Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Membuat Onar


__ADS_3

"Kau...!!!" tunjuk Dilla pada Yanti yang kini berkacak pingang dihadapannya dengan ponsel ia kalungkan di lehernya.


"Apa?! Nyonya sialaaaannn!!!" balasnya juga dengan memekik kuat hingga Dilla menutup kedua telinga nya.


Sedangkan Risma yang sudah tidak tahan ingin tertawa, pecahlah tawa itu di dalam ruangan makan itu yang membuat Dilla semakin marah pada istri kedua suaminya itu.


Hahhahahaha....


Risma tertawa saat mendengar ucapan asistennya itu untuk madunya. Ia tertawa sampai mengeluarkan air matanya.


Dilla mendekati Risma dan mengayunkan tangannya.


Plak!


Plak!


"Kau!!!!" pekiknya


"Apa kau?! Ingin memukul majikan muda saya?? Iya?? Heh, mimpi!" ketusnya


Risma yang melihat itu menjadi tidak enak. "Ambilkan air es Yanti! Nggak boleh gitu ah! Ayo!" tuturnya lembut tetapi terdengar begitu tegas pada Yanti yang membuat sang pembokat pengawal pembelanya itu mendengus pada Dilla.


"Jika bukan karena Nyonya muda saya, maka saya sudah robek mulut kamu itu!" ketusnya dengan segera berlalu meninggalkan Risma dan Dilla yang kini saling berpandangan.


Jika Dilla menatap marah pada Risma, sedang Risma tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Duduk dulu, Mbak. Lanjutkan lagi makannya. Ayo!" ajak Risma yang ditepis oleh Dilla saat Risma menyentuh lengannya.


"Jangan menyentuhku dengan tangan haram mu itu!" Ketusnya pada Risma sangat murka


"Cih! yang ada itu anda jangan sedikitpun menyentuh Nyonya muda saya! Anda itu yang haram! Seluruh tubuh anda itu yang haram! Bukan Majikan saya!" balas Yanti yang kini berjalan mendekati Risma dan memberikan mangkuk es pada Risma.


Risma menatap Yanti dan menggeleng, Yanti melengos. Ia sangat kesal kepada istri pertama tuan nya ini.


Dilla membulatkan matanya mendengar ucapan Yanti.


"Baru pertama datang saja sudah membuat onar! Gimana kalau bermalam disini? Pastilah tuan akan naik darah menghadapi wanita sepertinya ini. Cih! Wanita bar bar!" gumam Yanti dengan tangan terus bergerak membersihkan meja makan itu dan menyuruh pelayan lain untuk membawanya ke dapur.


Sedang Risma sedang berusaha mengompres pipi Dilla yang terkena samperan telapak tangan Yanti tadi saat tangan halusnya ingin menyentuh pipi mulus Risma.


"Saya kompres dulu ya Mbak?" Bujuk Risma sudah untuk yang kesekian kalinya


Yanti terkejut melihatnya. "Nyonya!" panggilnya sambil membantu Risma berdiri.


"Tak apa Mbak. Saya tidak apa-apa. Tenanglah." Bujuk Risma yang melihat Yanti merasa bersalah dan menatap nyalang pada Dilla.


"Jika kedatangan anda kesini hanya untuk membuat onar, lebih baik anda keluar dari rumah ini!"


Deg!


Dilla menatap nyalang padanya. "Kamu cuma pembantu disini. Jangan sok jadi majikan kamu dirumah suami saya!"

__ADS_1


Deg!


Yanti terkekeh sumbang. "Rumah suami anda? Anda lupa Nyonya tua??"


Deg!


Deg!


Mata Dilla melotot menatapnya. "Apa? Nggak suka jika saya bilang anda itu nyonya tua?" Dilla semakin melototkan matanya. "Jangan lupakan status anda nyonya tua. Anda istri pertama yang berarti istri tua. Jadi sudah sepantasnya saya memanggil anda dengan sebutan Nyonya tua!" ucap Yanti sambil mengejek Dilla yang kini semakin murka padanya.


"Diam kau pembokat sialaann!!!" pekiknya garang


"Kau yang wanita sialan!! Bukan saya! Baru datang saja sudah buat masalah. Dan sudah mengakui jika rumah ini rumah anda! Sadar anda Nyonya Tua, Faradilla yang tergosong!"


Deg!


Risma melipat bibirnya ke dalam ingin tertawa. ucapan Yanti sungguh menggelitik hatinya. Othor pun demikian. 🤣🤣


Kau...!! Aarrggghhttt.. Sialaannn!!!" pekik Dilla semakin kesal pada pembantu Risma itu.


Ia ingin mengambil piring miliknya dan melemparkannya pada Yanti yang kini terkejut melihat pergerakannya itu.


Tak.


Tangan Dilla dicekal erat oleh Risma. "Hentikan Mbak Dilla! Ini rumah saya! Saya pemilik sah dari rumah ini! Bukan rumah kamu! Jika kamu ingin dihargai disini, maka hargai semua orang yang ada disini! Mereka semua keluarga saya! Terserah jika Mbak tidak menerimanya. Yang jelas, apapun yang ada di dirumah ini merupakan keluarga saya! Dan jangan sekali-kali kamu menghancuran isi rumah saya seperti dirumah kamu! Karena rumah saya ini bukan rumah kamu! Pahan?"

__ADS_1


Ddduuuuaaaarrr!!!


Dilla terkesiap mendengar ucapan lembut Risma tetapi begitu tegas dan dingin. Wajah lembut nan ayu itu kini berubah menjadi datar dan dingin seketika.


__ADS_2