Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Berdamai


__ADS_3

"Baiklah papa. Saya sudah memutuskan tidak akan mengembalikan Dill sekarang. Karena semua ini berawal dari kesalahan saya, maka saya akan mengurusnya dan bertanggung jawab selagi ia belum sembuh. Dan kamu Dilla!" katanya pada papa Hermawan dan Dilla sekaligus.


Dilla menoleh menatap pada Arta dengan raut wajah sendu. Risma tidak sampai hati melihatnya. Tetapi tidak dengan Arta.


Sekali tidak, maka akan tidak. Tidak sedikit pun ia goyah dengan mata sendu istri pertama nya itu. Ia tetap pada pendirian nya.


"Saya akan mengurus dan bertanggung jawab dengan kondisi kamu saat ini. Saya akan membawa kamu ke rumah sakit untuk mengobati sakitmu. Sembuh atau tidak, saya hanya bisa pasrah. Selagi kamu belum sembuh kamu tetap istri saya. Risma dan Yanti akan menemani kamu saat dirumah sakit. Itu salah satu bentuk tanggung jawab saya kepada kamu karena saya juga ikut andil dalam kesalahan yang kamu buat." Imbuh Arta yang diangguki Risma dan Dilla bersamaan.


"Dan untuk Papa mertua.. Saya tetap akan mengadakan resepsi pernikahan kami. Semua ini tidak mungkin di undur. Karena resepsi ini Mak saya sendiri yang menyusun nya bersama dengan keluarga saya yang lainnya. Termasuk keluarga Bhaskara."


Deg!


Deg!


Mereka bertiga terkejut dan menelan salivanya. Mereka di jalan tadi baru tahu jika saudara-saudara Arta yang lainnya merupakan putra dan putri dari keluarga Bhaskara.


Yang membuat Papa Hermawan tidak berkutik karena saham terbesar di perusahaannya ialah milik Bhaskara Group.


Sempat terjadi penurunan di perusahaan papa Hermawan yang bergerak di properti. SDan yang menjadi penyelamat itu ialah salah satu putra Gilang Bhaskara.


Pengusaha terkenal yang memiliki usaha dimana saja yang saat ini sudah meninggal dunia bersama sang istri setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu.

__ADS_1


Mengingat Almarhum Gilang Bhaskara, papa hermawan menelan ludahnya dengan getir.


Ia mengangguk setuju dengan permintaan Arta karena takut akan perusahaan nya goyang kembali. Padahal semua itu tidak ada hubungan nya dengan keluarga Bhaskara.


"Baik. Akan kami turuti apapun yang kami katakan. Katakan saja kapan kamu akan mengembalikan Dilla, maka Papa akan datang kesini." Jawabnya yang diangguki oleh Arta.


Kini ia beralih pada Risma. "Nak.. Maafkan kami yang telah menuduh mu yang tidak-tidak dulunya.."


Arta mengernyitkan dahinya. Ia menoleh menatap pada Risma yang kini tersenyum hangat pada papa mertua Arta. Tetapi ia tidak ingin bertanya.


"Sudah tuan. Tidak perlu meminta maaf sama saya. Tugas saya sudah selesai untuk membuat Mbak Dilla tetap menjadi istri Bang Arta. Walau tidak sepenuhnya, tetapi saya sudah berhasil menahan langkahnya yang akan mengembalikan Mbak Dilla pada anda, tuan Hermawan." Imbuh Risma disertai senyum manis di bibirnya.


"Bertaubatlah sebelum ajal menjemputmu. Risma dan Arta masih memberikan kesempatan untuk mu. Maka dari itu, kamu harus berubah ke arah yang lebih baik lagi dan papa berdoa .. Semoga Allah mengangkat penyakitmu. Ayo Ma, Dava. Kita pulang. Assalamu'alaikum.." ucapnya dengan segera berdiri di ikuti oleh Arta dan Farhan yang kini menemani mereka bertiga menuju keluar.


Risma mengangguk dan tersenyum lembut pada papa Hermawan. Mama nya Dilla masih betah memeluk putri sulungnya itu.


Ia tidak menyangka jika perjalanan hidup putrinya ternyata sudah salah sebelum menikah dengan Arta. Dan yang lebih parah lagi, ternyata Dilla sedang sakit saat ini.


"Mama pulang, Nak. Jaga dirimu baik-baik. Mama akan selalu mendoakan mu," ucapnya mengecup kening Dilla dan segera beranjak setelah mengusap kepala Dilla sekilas.


Dilla tersedu.

__ADS_1


Kini tinggallah mereka semua disana dengan nafas lega. Masalah yang sudah lama ingin Arta selesaikan terselesaikan hari ini berkat risma.


Semuanya sudah berdamai dengan keadaan termasuk Dilla. Ia harus melakukan perawatan pada tubuhnya yang sudah mulai terjingkat penyakit yang mematikan.


Dilla pasrah pada hidupnya sekarang. Apapun yang Arta dan Risma katakan ia turuti.


Seminggu setelah pertemuan itu, Arta melakukan resepsi secara besar-besaran. Ia mengumumkan pada semua orang tentang pernikahan pertama dan terakhir untuk seumur hidupnya.


Ia menegaskan dengan sangat dihadapan Dilla, jika hanya Risma istrinya saja. Apa yang harus di perbuat Dilla jika itu keinginan Arta?


Masih untung dirinya dibiarkan tetap tinggal di dalam rumahnya dan Risma. Walau Dilla sering merasa cemburu saat melihat kebersamaan keduanya, ia tidak bisa melakukan apapun.


Karena semua itu dimulai darinya. Jika saja ia tidak menolak Arta, pastilah saat ini ia sudah bahagia hidup berdua bersama Arta.


Dilla hanya bisa pasrah dengan keputusan Takdir. Ia harus berdamai dengan hatinya agar tidak terlalu larut dalam rasa sepihak saja.


Lebih memikirkan kesembuhan dirinya daripada melihat kemsraan Arta dan madunya.


Penyesalan selalu datang terlambat. Jika datang di awal itu pastilah pendaftaran.


Semoga Dilla, Arta dan Risma sanggup melewati gelombang hidup rumah tangga keduanya karena telah berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


__ADS_2