Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Orang lain


__ADS_3

Ting nong!


Ting nong!


Ting nong!


Suara bunyi bel rumah Arta yang dibunyikan berulang kali membuat Dilla sanagat kesal.


"Siapa sih malam-malam begini bertamu?? Nggak tahu apa kalau ini sudah malam?!" gerutunya sambil turun ke bawah dan menuju pintu utama.


Tiba disana bel rumah mereka berbunyi lagi yang membuat Dilla semakin kesal dan berteriak.


"Iya! Tunggu bentar napa?! Ishh.. Mengganggu orang saja!" ketusnya tetapi terdengar oleh dua paruh baya dan juga satu orang lelaki muda sebaya Risma. Lebih tua dia sedikitlah.


Dilla membuka pintu rumah itu dengan bersungut-sungut.


Ceklek.


"Dilla??"


Deg!

__ADS_1


"Mama! Papa!" seru Dilla begitu terkejut melihat kedua orang tua nya ada dirumah Arta malam-malam.


Seseorang yang berdiri di belakang kedua orang tuanya pun berdecak sebal. "Disuruh masuk dulu lah. Baru nanti nostalgiaannya! Nggak tau apa. Diluar banyak nyamuk?!" ketusnya yang membuat Dilla semakin terkejut.


"Dava?! Kamu disini juga?!" tanya Dilla masih sangat terkejut.


Dava yang merupakan adik kandung Dilla dan paling bungsu itu berdecak sebal. Ia ngeloyor masuk melewati Dilla dan kedua orang tuanya begitu saja.


Tiba di dalam Dava terpaku di tempat saat melihat Arta sedang menggandeng seorang wanita yang begitu di kenalanya.


"Ri-risma?!" serunya yang membuat dua orang sedang berjalan pelan itu menoleh ke arahnya.


Dava menatap tajam pada Arta. Ia pun berdecih.


"Kamu mengenalnya sayang?" tanya Arta pada Risma yang diangguki oleh Risma.


"Cih! Sayang?? Lalu, wanita yang berdiri di pintu itu siapa kamu dokter Arta?!" ketusnya tajam pada Arta.


Dilla dan Risma terkejut mendengar ucapan Dava. Arta terkekeh. "Wanita itu? Yang berdiri di pintu tepat dibelakang mu itu? Wanita itu bukan siapa-siapa saya! Wanita itu orang lain dirumah ini. Yang istri saya adalah Risma!" Ucapnya sambil merangkul Risma dengan erat.


"Dan ya, sama seperti kamu yang memanggil saya Dokter Arta. Dia pun demikian. Dia hanya tamu dirumah saya!" ketus Arta pula tak kalah tajamnya saat menatap Dava yang kini menatapnya dengan tatapan menghunus.

__ADS_1


Arta tidak peduli dan tidak takut. Ia sudah diberitahu oleh Farhan dan saat ini suami Yanti dan Yanti sudah ada disana.


Keduanya berjalan mendekati Risma yang saat ini sedang di dudukkan Arta di sofa panjang dan ia rebahkan tubuh lemas itu disana.


"Suruh mereka masuk dan duduk, Bang. Nggak baik di depan pintu. Pamali!" ucap Risma pada Arta yang dicibir oleh Dava.


"Hilih sok pamali! Gimana sama kamu yang merebut suami orang?! Apa tidak ada pamali nya?!"


Risma diam begitu pun dengan Arta. Ia melirik Farhan sekilas. Farhan yang paham segera menyuruh tamu nya itu untuk duduk.


Dua paruh baya itu tertegun saat melihat Risma. Seorang gadis yang pernah mendonorkan darah nya dirumah sakit saat Pak Hermawan kecelakaan satu tahun yang lalu.


"Cih! Ternyata kamu yang jadi pelakor di dalam rumah tangga anak saya?! Tingkah kamu saja yang polos dan lugu tetapi sebenarnya kamu munafik!"


Deg!


Risma menoleh pada seorang wanita paruh baya yang kini melihatnya dengan tatapan sinisnya. Berbeda dengan seorang lelaki paruh baya di sampingnya.


Ia menatap Risma begitu dalam. "Tuan Hermawan? Benarkah ini?? Saya tidak salah lihat kan ya?" tanya Risma pada lelaki paruh baya yang tersenyum saat melihatnya.


"Iya Nak. Ini saya. Ternyata dunia ini begitu sempit ya? Hingga saya dipertemukan lagi dengan kamu saat ini dirumah suami anak saya." Ucapnya sambil tertawa yang membuat senyum Risma surut seketika.

__ADS_1


__ADS_2