
Malam harinya.
Risma yang sudah lebih dulu turun setelah selesai sholat maghrib berjamah bersama Arta di kamar mereka, langsung menuju ke dapur.
Tiba di dapur Risma tertegun saat melihat Dilla yang sibu measak dibantu Yanti yang terus menggerutu dengan mulut komat kamit tanpa suara yang membuat Risma terkekeh kecil.
Kekehan kecil Risma itu mengalihkan kedua orang yang sedang sibuk di dapur itu. Dilla memasang wajah angkuhnya.
Sedang Yanti segera mendekati Risma. "Mbak udah masak yang kamu pesan Ris! Tetapi istri tua suami kamu itu tidak boleh menghidangkan makanan yang Mbak masak. Yang boleh dihidang disana itu masakan tidak jelas darinya!" ketus Yanti sembari berlalu meletakkan makanan pesanan Risma tadi sore.
Yaitu rendang jengkol dan goreng ikan asin kesukaan Arta. Sama seperti kesukaan Abang sulung Arta, Bang Lana. Dan Risma sudah tahu akan hal itu.
Risma melirik Dilla yang kini sedang sibuk memasak dengan melihat tutorial di yutub. Risma membiarkannya saja.
Ia pun menuju ke meja makan dan mendekati Yanti yang sedang sibuk menyusun makan malam mereka berempat.
Ya, malam ini Arta meminta Farhan untuk makan bersamanya. Farhan yang baru saja pulang dari mesjid segera menuju meja makan.
Tiba disana ia kebingungan mencari Arta yang tidak terlihat batang hidungnya. "Bang Arta mana Dek?" tanya nya pada Risma.
__ADS_1
Risma menoleh dan tersenyum pada Farhan. "Ada, palingan bentar lagi turun-,"
"Ada apa mencariku, Han? Ada yang ingin kamu sampaikan tentang ajuan gugatan ceraiku ke pengadilan?"
Deg!
Trang!
Prank!
Pyaaarr..
"Astaghfirullah! Ini orang ya! Nggak habis-habisnya dia membuat masalah! Sedari tadi sudah banyak barang yang pecah dan retak akibat kelakuannya itu! Kalau kamu tidak bisa masak, tidak usah memasak Dilla! lebih baik kamu duduk manis dan perhatikan saja kuku-kuku cantik mu itu!" ketus Yanti semakin kesal pada Dilla yang kini mematung dengan tubuh membelakangi mereka semua.
Melihat Dilla diam mematung, Risma tidak sampai hati. "Sudah Mbak. Ayo, duduk saja sama kita. Kita makan bersama ya? Tinggalkan ini dulu. Besok lagi Mbak masaknya." Bujuk Risma yang membuat Arta menarik ujung bibir hingga membentuk senyum tipis di bibirnya.
Dilla yang bersifat angkuh ingin menolak, tetapi perutnya tidak bisa di ajak kerja sama karena sudah terlalu lapar.
Risma tersenyum mendengar itu. "Sudahlah Mbak. Ayo, kita makan dulu." Bujuknya lagi yang membuat Dilla segera melepas celemeknya dan menuju dimana Arta berada.
__ADS_1
Tanpa permisi ia segera duduk disamping Arta yang membuat Yanti melotot padanya.
Yanti ingin mencegahnya tetapi kedipan mata Risma membuat nya urung untuk menegur Dilla yang kini dengan cepat segera mengambil nasi dan piring untuk di isi dengan lauk pauknya yang tidak sesuai dengan Arta mau.
Risma diam saja. Ia memilih duduk berseberangan dengan Arta dan Dilla saat ini. Arta tetap diam saja. Farhan pun demikian, padahal nasi dihadapannya saat ini sudah dihidangkan oleh Yanti.
Risma dan Yanti pun demikian. Mereka menunggu Arta yang saat ini sedang sibuk dengan Tablet dan ponselnya sekaligus.
Dilla yang sudah sangat lapar tidak menunggu Arta yang masih bekerja. Ia sibuk makan sendiri tanpa menghiraukan ke empat orang yang saat ini sedang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Eheem,"
"Uhuuuk!" Dilla terkejut sampai tersedak karena mendengar deheman Arta yang membuatnya terjingkat kaget.
"Dari rumah mu sampai kesini pun kamu masih membawa kelakuan mu yang sama. Tidak peduli jika kamu saat ini sedang di rumah orang, kamu tetap saja memilih makan duluan! Sebenarnya kamu itu punya urat malu tidak Nona Dilla? Saya heran dengan kamu, rumah ini bukan rumah kamu, masakan ini juga bukan masakan kamu, tetapi kamu tetap tidak tahu malu dengan mendahului pemilik rumah dengan cara kamu makan lebih dulu. Sikap kamu yang lebih mementingkan diri sendiri sudah terlihat jika kamu ini wanita yang egois!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Dilla mematung di tempat mendengar suara bass Arta tepat disampingnya. Ia tidak berani menyuapkan lagi makanan itu ke mulutnya.
Yanti tersenyum sinis melihatnya. "Saya makan dari piring kamu makan bukan berarti saya menerima kamu disini. Kamu tetap sama Nona Dilla. Palsu! Semua yang kamu lakukan ini palsu! Tidak perlu bersusah payah untuk memasakan makanan untuk saya. Udah ada Yanti dan Risma yang bisa menghendel semuanya. Untuk piring yang sudah berisi lauk ini, saya tidak mungkin membuangnya hanya karena kamu yang menghidangkannya. Saya harus bersyukur dengan makanan yang saya dapat dan saya makan malam ini. Karena saya bukanlah orang yang suka membuang-buang makanan hanya karena saya tidak menyukai kehadiran kamu dirumah saya dan Risma saat ini."