Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Penjelasan Arta


__ADS_3

"Benar kan itu kamu?" ulang Arta lagi karena melihat Risma yang kembaki terdiam dan mematung memikirkan dimana Arta saat itu hingga ia tahu kejadiab itu.


"Dimana Abang saat itu?" tanya Risma balik. Bukannya menjawab tetapi malah balik bertanya.


Arta terkekeh, "Kamu lihat mobil putih diluar tadi?" Risma menganguk.


"Abang berada di seberang jalan saat kamu ditarik oleh Bibi mu. Bu Halimah."


Risma mengangguk. Bunda Zizi tersenyum melihat keakraban keduanya. Sudah sedari dulu ia berniat menjodohkan Arta dengan Risma.


Tetapi entah karena apa, Arta malah menikahi wanita lain yang tidak sesuai seperti keinginan hatinya untuk menjadi istri Arta.


Bukan maksud memilih, tetapi ia ingin yang terbaik untup putra keduanya itu. Bunda Zizi bisa tahu dan menebak, jika istri pertama Arta bukanlah gadis baik-baik.


Darimana ia tahu?


Bunda Zizi mengandalkan fillingnya sebagai seorang Ibu. Dan malam ini, ia akan membuktikannya dihadapan semua orang. Jika pilihan Arta itu, bukanlah yang tepat.


"Jelaskan Arta! Semuanya! Tanpa ada yang di tutup-tutupi!" tegas Bunda Zizi menatap serius pada Arta yang kini menatapnya dengan serius juga.

__ADS_1


Arta mengangguk. Ia pun mulai menceritakannya dari pertama bertemu Paman dan BIbi Risma yang pura-pura tertabrak hingga ia memilih jalan damai.


Hingga berujung dengan kesepakatan dan lamaran dadakan untuk Risma karena ia tahu gadis yang saat itu ia lihat merupakan Risma dengan Bu Halimah.


Arta sudah memikirkan ini matang-matang.


Bunda zizi dan ketiga saudaranya mengangguk. Sedangkan ketiga orang yang duduk di seberang sofa sana masih belum percaya dengan ucapan Arta.


Dan Arta pun tahu itu. Ia sudah memiliki bukti tentang percakapan keduanya saat di Restoran melati yang merupakan Restoran milik Abangnya sendiri, yaitu Syakir yang saat ini sednag duduk sambil memegang ponselnya karena Arta meminta sesutu padanya.


"Lantas, apakah istri pertama mu sudah tahu jika kamu sudah menikah lagi? Apa dia sudah mengizinkannya? Apa dia tidak masalah dengan pernikahan kedua mu ini??"


Deg!


Deg!


Arta melirik Risma yang kini menatapnya dengan terkejut. Arta tersenyum lembut padanya.


"Kamu jangan berpikir macam-macam, Ris! Dengar kan dulu penjelasan Abang, hem?" katanya pada Risam yang kini masih menatapnya dengan wajah datar.

__ADS_1


Arta terkekeh. "Baik, Abang akan jawab. Karena hal inilah yang kan Abang katakan pada kalian semua. Termasuk kalian bertiga!" ucapnya melirik ketiga orang itu sekilas dan kembali menatap pada Risma yang kini masih ingin menuntut jawaban darinya.


Huufffttt..


Arta menghela nafasnya.


"Pernikahan Abang dengan Dilla tidaklah berjalan seperti biasanya."


"Maksudnya?" sela Annisa yang di sambut dengan tepukan maut ala Kak Ira hingga membuat saudara se-ayah dengan Arta itu meringis menahan sakit.


"Diam dulu, Annisa!" tegasnya yang membuat Annisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Syakir terkikik geli. Annisa menatap kesal padanya. Arta pun ikut terkekeh, "Dengar dulu penjelasan Abang, jika kalin ingin bertanya ada sesi pertanyaan!" ketusnya meledek Annisa yang kini menatapnya dengan mata melotot.


Arta terkekeh lagi. Ia sangat suka melihat Annisa marah seperti itu. "Pernikahan kita berdua hanya status untuk semua orang. Abang menikahinya karena terpaksa karena scandal yang ia buat sebagai seorang publik figur di kota Medan ini."


"Kami menikah diatas kertas. Surat perjanjian itu masih Abang simpan rapat dan saat ini ada di kamar utama lantai dua rumah ini. Abang tumbal untuk menutupi kelakuan buruknya. Abang terpaksa menikahinya karena papa Dilan memaksa menikahkan kami berdua karena pada saat kejadian itu kita berdua tidak sengaja bertemu di dalam kamar hotel yang sama."


Saat itu lelaki yang dibawa oleh Dilla sedang muntah-muntah karena salah makan makanan dari hotel. Karena Abang pemilik hotel itu, Abang harus bertanggung jawab dong? Nah, pada saat lelaki itu masuk ke kamar mandi setelah abang periksa dan berikan obat. Papa Dilan masuk dengan tergesa dan langsung meninju wajah abang hingga bonyok!" ketus Arta sedikit kesal mengenang saat itu.

__ADS_1


__ADS_2