
Arta dan Risma masih saja tersedu. Bahkan ketika jenazah Dilla dimandikan, dikafankan dan di sholatkan Risma pun ikut juga.
Sholat jenazah yang dipimpin oleh Arta sendiri. Dengan suara bergetar Arta mensholatkan istrinya untuk yang terakhir kali.
Dalam satu hari itu mereka bergerak cepat untuk mengurus jenazah Dilla. Para keluarga dan juga tetangga dekat yang ikut acara nujuh bulanan itu begitu terkejut saat tahu jika Dilla merupakan istri pertama Dokter Artafris yang terkenal ramah dan sangat baik pada semua orang.
Mereka kira hanya Risma saja. Satu komplek geger saat tahu jika Dilla merupakan madu Risma.
Pantas saja selama beberapa bulan ini selalu terlihat Dilla dirumah itu. Ingin bertanya tetapi segan pada dokter Arta. Hingga mereka memilih diam.
Dan hari ini? Mereka baru tahu siapa Arta yang sebenarnya. Dan juga Dilla itu siapa untuknya.
Kediaman mereka kini berubah menjadi hiruk pikuk karena terkejut dengan berita meninggalnya Dilla yang begitu tiba-tiba.
Kegiatan Acara nujuh bulanan itu sudah selesai saat Dilla menghembuskan nafas terakhirnya. Para warga yang mengikuti acara nujuh bulanan itu berubah menjadi pelayat dalam sekejab.
Mereka pun terpaksa menjadi pelayat dihari nujuh bulanan Risma. Duo lelaki yang mengakui jika anak dalam kandungan Risma anak mereka
pun hadir disana.
__ADS_1
Mereka pun ikut andil dalam mengurus jenazah Dilla hingga menuju ke pemakaman tepat terakhir Dilla di makam kan.
Papa Hermawan dan istrinya pun ikut hadir disana. Mama nya Dilla Nyonya Mina berulang kali jatuh pingsan saat putri sulungnya di kuburkan.
Sedang Dava dan istrinya yang merupakan teman Risma saat sekolah dulu hanya bisa menangis melihat kakak mereka meninggal di acara nujuh bulan madunya.
Tidak ada yang menyangka jika Dilla kini sudah tiada. Senda gurau, suaranya, tawanya kini hanya tinggal kenangan.
Dilla sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.
Risma dan Arta begitu terpukul saat ini. Keduanya tidak menyangka jika hari-hari terakhir Dilla begitu cepat.
Tepat seperti perkiraan dokter. Bahkan lebih cepat lagi.
Mereka berdua tidur di ranjang bekas Dilla yang mereka berdua tadi malam tidur untuk terakhir kalinya.
Risma yang begitu terpukul. Disaat ia sudah ikhlas menerima keadaan Dilla, malah madunya itu pergi meninggalkanya untuk selamanya.
Tetapi ia senang bisa mengabulkan semua permintaan Dilla untuk yang terakhir kalinya termasuk mencintai Arta.
__ADS_1
Dilla pernah meminta izin pada Risma untuk mencintai Arta disaat terakhirnya. Walau cinta itu tidak berbalas itu sudah cukup untuknya.
Masih terngiang kata-kata itu di telinga Risma hingga ia merasakan usapan lembut di kepalanya.
Risma tersedu.
"Mbak Dilla.. Hiks.."
"Iya sayang, ini Mbak. Kenapa kamu nangis sih? Hem?"
"Mbak.. Hiks.. Jangan pergi.."
"Iya sayangku.. Adikku yang cantik dan baik hati.. Mbak mu disini kok. Mbak nggak akan pergi sebelum janji terakhir Mbak terpenuhi. Kamu ingat?"
Risma mengangguk dengan mata terpejam. Ia masih terisak yang membuat Arta terbangun dari tidurnya dan melihat Risma memeluk baju terakhir yang Dilla kenakan tadi.
Baju putih pemberiannya yang sama seperti Risma. Sesak kembali muncul di hatinya. Ia kembali memeluk Risma dengan erat.
Tak lupa ia labuhkan kecupan hangat di kepala Risma yang kini terus terisak di dalam tidurnya.
__ADS_1
...****************...
...Di akhir penghujung ramadhan.. Othor mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Man tahu ada kata othor yang saah saat membalas komen kalian, othor mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mari kita menyambut hari kemenangan yang akan terlaksa pada esok hari. Minal Aidin Walfaidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏...