Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Perdebatan


__ADS_3

Maaf ye? Kemarin bab nya muncul dua. Hehehe.. Maklumin aja othornya lagi nggakl konek! 😁😁


Happy Readyng....


Jika Dilla mulutnya menganga mendengar ucapan kedua pemuda itu. Lainnya dengan Risma dan Yanti.


Keduanya kini menatap pada dua pemud itu dengan tatapan datarnya. Sedangkan Arta, darahnya sudah sampai ubun-ubun saat ini. Wajahnya merah padam dengan tangan terkepal erat.


"Siapa yang berani menjual rahim istriku kepada kaliah, huh? Dan berapa harga rahim istriku yang dijual kepada kalian?!" teriak Arta hingga Risma dan Yanti memejamkan kedua matanya.


"Dua ratus lima puluh juta untuk satu anak!sedang kami sudah membayar seharga lima ratus juta untuk dua orang anak!"


Ddduuuaaaarrr!!


"Apa?!! Siapa yang berani menjual rahim istriku kepada kalian? Astaghfirullahal 'adhim ya allah!!!" seru Arta semakin frustasi dengan ucapan yang baru saja ia dengar.


Ingin sekali ia menghajar kedua orang itu. Tetapi tidak bisa ia lakukan seperti kata Farhan tadi saat di mobil.


"Dengarkan dulu apa yang akan mereka katakan. Dan siapa yang sudah mengatakan hal itu. Kita harus tahu dulu. Baru setelah itu, tuan boleh menghukumnnya! Dan juga orang tua yang telah tega menjal Nyonya Risma kepada mereka."


Begitu kata Farhan tadi. Arta menghela nafas kasar. "Oke, sekarang katakan. Siapa dua orang tua yang telah menjual rahim istri saya kepada kalian berdua?"


"Kamu aja Gas yang ngomong!" ucap salah satu dari mereka.


Sedang pemuda yang dipanggil dengan gas itu berdecak kesal. "Ck. Giliran ngomong aja aku yang duluan!" Ketusnya yang dibalas dengan wajah melengos rekannya itu.


"Dua bulan yang lalu kami kedatangan tamu yang meminta tolong sama kami. Kalau mereka saat itu membutuhkan uang untuk biaya pengobatan anaknya yang sedang kecelakaan. Mereka butuh biaya sebanyak satu milyar!"


"Apa?!" kali ini bukan Arta melainkan Risma yang berseru.

__ADS_1


Ia sudah bisa menebak kemana arah tujuan kedua pemuda itu berbicara.


"Lanjutkan!" titah Arta lagi tidak menggubris wajah pucat Risma yang saat ini sudah mengetahui siapa dalangnya.


walau Arta sudah tahu, tapi ia tetap ingin mendengar pengakuan dari mereka berdua.


"Kami yang kasihan melihat keduanya membantu mereka. Tetapi tentu anda tahu. Dalam dunia bisnis anda 'kan tahu sendiri harus dipertimbangkan untung ruginya. Dan kami meminta jaminan dari mereka berdua. Mereka berdua menunjuk Risma yang saat itu masih gadis. Mendengar kata gadis, tentu dong kami mau. Walau kami sudah memiliki istri yang masih gadis juga. Hanya saja pernikahan itu hanya pernikahan bisnis. Tidak lebih dari itu!"


"Kami menerima persyaratan itu karena kami ingin memiliki keturunan tanpa menghamili istri kami dirumah. Untuk apa dan kenapa, anda tidak perlu tahu dokter Arta!" timpal Andi ikut bicara.


"Betul itu. Yang jelas, malam itu saat di hotel Az kami sudah meniduri Risma disana. Walau kami waktu itu mabuk, kami dapat melihat jika itu adalah Risma. Dan ya, anak yang ada di rahim Risma saat ini adalah anak kami berdua!" tegasnya yang membuat Risma meradang.


Ia bangkit dan berdiri menjulang dihadapan kedua pria yang kini terkejut melihat wajah Risma yang memerah karena marah.


"Dengar ya kalian penjahat kelamin!"


Deg!


Kedua lelaki itu melotot bersamaan mendengar panggilan Risma untuk mereka. Arta dan Farhan diam saja. Padahal saat ini mereka pun ingin tertawa.


Tetapi tidak boleh mereka tunjukkan. Risma berdiri dengan berkacak pinggang. "Sejak kapan saya tidur dengan kalian? Sedang saya saja tidak mengenal kalian itu siapa! Kalian mengatakan di dalam kandungan saya ini anak kalian? Heh? Mimpi kalian! Jangankan tidur dengan kalian, bertemu kalian saja saya baru kali ini. Berani-berani nya kalian mengatakan jika ini anak kalian! Kapan kalian mencetaknya sama saya!" seru Risma dengan nafas memburu.


"Kamu lupa dek?"


"Hueeekkk!" Yanti pura-pura mual. Farhan menggeleng.


"Apa yang saya lupa? Saya memang tidak ingat dengan kalian kok. Yang saya ingat, kalau malam itu saya memang di dalam hotel dibawa oleh bibi saya. Tetapi bukan kalian yang merenggut kesucian saya. Tetapi suami saya! Dokter Arta!"


"Tapi malam itu kami juga bersama kamu dek. Bisa saja kan setelah kamu tidur dengan suami kamu, kamu pergi ke tempat kami??"

__ADS_1


Deg!


Risma terkejut mendengar tuduhan dua lelkai yang tidak ia kenal itu siapa. "Astagfirullah ya allah.. Segitu hinanya ya saya sampai-sampai saya harus berbagi serabi legit saya sama kalian? Ogah saya! Sama suami sendiri tepar! Apalagi harus melayani kalian berdua yang entah seperti apa tunas bangsa kalian itu! Hii.." ucap Risma bergidik ngeri.


Sedangkan Arta yang mendengar tuduhan salah satu dari mereka itu meradang karena merasa harga diri Risma direndahkan oleh mereka.


"Tapi itu beneran loh. Malam itu kamu yang kami tiduri! Tidak mungkin kami salah orang! Iya kan Gas?" katanya pada Risma sekaligus mencari pembenaran dari rekannya itu.


"Benar sekali! Bisa saja seperti yang Andi katakan tadi. Kalau kamu melakukannya bergilir??"


Ddduuaaarrr!!


"Diam Kalian!" sentak Arta dengan tangan mengepal erat.


Bukannya marah, Risma malah tertawa mendengar ucapan si gas itu.


"Heh gas Bumi! Kamu itu lupa atau pikun sih? Coba kamu ingat dulu saat itu. Jika memang saya yang tidur bersama kalian, seharusnya saya tidak suci lagi dong? Sementara saya sudah digauli oleh suami saya yang memiliki tunas bangsa seperti belalai gajah. Mana mungkin saya tidur dengan kalian. Sedang dengannya saja saya sudah tepar!"


Arta melototkan matanya. "Sayang!" tegurnya pada Risma yang kini tertawa melihat wajah Arta memerah karena malu.


Yanti terkikik geli bersama Farhan. Sedang Dila sibuk menghayal tunas bangsa milik Arta seperti apa belalai gajah milik suaminya itu yang tidak pernah terlihat sama sekali olehnya.


Kedua orang itu saling pandang. "Saat itu kami merasakan jika milikmu itu masih suci. Kan katanya kamu masih perawan Risma! Gimana sih?"


Hahahahaha..


...****************...


Nah loh.. Siapa itu yang tertawa?

__ADS_1


__ADS_2