Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Pingsan


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak pernikahan keduanya, kini Dilla sudah di rawat di rumah sakit dan di jaga oleh Risma dan Yanti.


Ada saja ulah istri pertama Arta yang membuat Risma kewalahan. Sedang Yanti sering kali memarahi Dilla karena hal itu.


Menurut dokter, kecil kemungkinan hidup Dilla bisa selamat. Bisa. Tapi hanya keajaiban yang bisa.


Penyakit yang di derita Dilla sudah dua tahun lamanya. Dan selama itu, ia sering kali gonta ganti pasangan dan tidak pernah menggunakan pengaman.


Risma yang mengetahui fakta itu semakin shock. Ternyata yang Arta katakan benar adanya. Ia pikir hanya sebatas pacaran seperti anak-anak jaman sekarang saja.


Tidak tahu nya kelewat batas.


Risma sangat menyayangkan hal itu. Ia tetap berusaha mengingatkan Dilla. Tetap saja, dasar Dilla yang memang keras kepala ada saja ulahnya yang kadang membuat Risma dan Yanti kewalahan menghadapi sikapnya itu.


Sejak dua minggu yang lalu, fisik Risma begitu lemah. Ia sering pusing, mual bahkan pingsan pun pernah. Tetapi ia tidak memberitahukannya pada Arta.


Risma sengaja menutupinya dari sang suami agar Arta tidak merasa khawatir dengan penyakitnya itu.


Hari ini Risma ingin berbelanja ke pasar bersama Yanti. Sedari Arta sudah pergi keduanya sudah bersiap. Hanya saja kondisi Risma sangat tidak memungkin kan.


"Kamu yakin Dek mau ke pasar? Muka kamu pucat banget loh.. Mbak takut kenapa-kenapa nantinya sama kamu." Peringat Yanti untuk yang kesekian kalianya.


Dirinya pun tak ubahnya Risma. Sering pusing saat mencium aroma yang tidak menyenangkan. Yanti menggelengkan kepalanya saat mencium Aroma pewangi ruangan yang menurutnya bisa mengocok perutnya.

__ADS_1


"Hueekk.."


Yanti terkejut saat melihat Risma mual. Padahal dirinya lah kini yang sedang mual kenapa pula Risma yang mengeluarkannya.


Ia jadi berpikir apakah ini kehamilan simpatik?


"Eh? Mana pula bisa kamu yang muntah sedang Mbak yang mual?"


Risma menggeleng dengan wajah semakin pucat. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil dan Yanti yang mengemudikan mobil Risma karena dirinya tidak sanggup.


"Pusing Mbak.." keluh Risma dengan wajah semakin pucat saja.


Yanti panik dibuatnya. Keduanya kini sudah tiba di pasar pagi dimana Risma sering berbelanja bersama sang bibi dulunya.


Risma tersenyum dan menggeleng. "Udah nanggung Mbak. Udah sampai juga. Lagi pula semua persediaan di rumah kita udah nggak ada kan ya?"


"Iya sih. Tapi kamu pucat gini. Mbak takut kamu kenapa-kenapa dek. Nanti Mbak yang diamuk suami kamu. Kayak nggak tahu aja suami kamu itu sangat posesif jika berurusan dengan mu." Ketus Yanti mendadak kesal mengingat sikap Arta yang begitu posesif pada Risma saat ini.


Risma tertawa.


Ia segera membuka pintu mobil dan keluar darisana. Ia berdiri menunggu Yanti. Tatapannya tertuju pada dua orang pemuda yang kini mematung melihatnya yang baru saja keluar dari mobil.


Risma memicingkan matanya saat merasakan pusing di kepala nya hingga pandangan matanya menghitam.

__ADS_1


Bruuk.


"Risma!" teriak dua orang lelaki yang kini melihat Risma jatuh terkapar disamping mobilnya.


Sedang Yanti yang terkejut dengan teriakan kedua orang itu pun segera berlari ke sisi mobil yang lain.


"Astaghfirullah! Risma!! Kan udah dibilangin tadi? Ngeyel banget sih?!" omel Yanti melihat Risma jatuh terkapar disamping pintu mobilnya.


Kedua lelaki itu berdri disamping Risma.


"Beneran kan ini Risma, Gas?"


"Hooh, bener. Ini Risma. Wanita yang malam itu kita tiduri saat di hotel Az dan mungkin saat ia sedang hamil anak kita!"


Dddduuuaaarr!!"


"Apa?!"


...****************...


Nah loh.. Siapa itu yang buat pengakuan itu??


Ada yang ingat nggak?

__ADS_1


Cus komen di dalam kolom komentar ye?


__ADS_2