Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Tertampar


__ADS_3

"Aku juga snagat mencintaimu, suamiku. Tapi..." lirih Risma di telinga Arta yang membuat Arta kembali mengurai pelukannya.


Ia menatap manik mata hitam Risma yang berkilauan akibat derasnya air asin yang tiada berhenti untuk mengalir itu.


"Katakan! Apapun akan Abang turuti. Asal jangan meminta berpisah dariku! Itu tudak akan pernah terjad Risma Handayani!" tegas Arta dengan berdiri dan duduk disamping Bunda Zizi yang kini menepuk sofa yang tersisa sedikit untuknya.


Arta menurut.


"Katakan nak, apa yang kamu ingin katakan, katakan saja. Kami siap mendengarnya." Ucap Bunda Zizi pula karena ia sempat mendengar bisikan lirih Risma dan Arta tadi.


Risma mengusap air matanya dengan tisu yng Annisa berikan, "Terimakasih kak." katanya pada Annisa dan Annisa pun tersenyum padanya.


Risma menghela nafas lagi sebelum berbicara pada semua orang.


"Bang Bram, Bang Tami, kak Santi. Maaf.. Jika kalian sangat terkejut dengan fakta ini. Aku sengaja menolak kalian berdua karena aku sudah memiliki pilihan ku sendiri. Dan itu suamiku saat ini. Tak apa aku menjadi yang kedua. Aku ikhlas. Karena inilah takdirku. Maaf.. Kalau aku terpaksa harus berbicara disini dihadapan semua keluarga suamiku." ucapnya dengan menunduk


Bunda Zizi memegang tangannya. "Aku tidak marah pada kalian yang dulunya tidak pernah membelaku saat aku di hukum BIbi dan Paman. Karena ku tahu kalian berdua punya kehiduapn masing-masing yang pada saat itu lagi sedang giat-giatnya kalian bersekolah tetapi tidak denganku."


Deg!

__ADS_1


Arta, Bram, Santi, dan Tami terkejut.


"Aku memakai seragam karena Bibi yang memintanya. Selebihnya aku bekerja di supermarket yang ternyata milik suamiku sendiri. Aku sengaja menutupi semua ini agar kalian tidak marah kepada Paman dan BIbi. Dua orang yang sudah merawatku sedari kecil setelah kedua orang tauku meninggal dunia. Harta kedua orang tuaku habis tak bersisa tak jadi masalah bagiku. Karena untuk membiayai kalian berdua. Untuk masa depan kalian yang lebih cerah."


"Aku ikhlas. Karena ku tahu, aku tidak bisa membalas kebaikan kalian yang telah menampung diriku yang lemah ini. Aku ucapkan terimaksih untuk itu. Tak apa tidak sekolah, yang penting aku masih bisa hidup. Dengan aku hidup, aku bisa untuk menuntut ilmu lagi. Untuk sukses tidak butuh titel yang tinggi. Tetapi jika punya kemauan dan usaha yang giat, yang dulunya susah pun bisa jadi kaya."


"Benar, jika Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Tetapi jika seseorang itu berketerbatasan tentang biaya, apakah ia harus hutang sana sini untuk menuntut ilmu?"


Deg!


Deg!


Bram dan santi tertampar dengan ucapan Risma. "Kalian beruntung bisa sekolah tinggi dan bisa sukses. Tetapi tidak denganku. Sedari kecil ku sudah di suruh bekerja demi membantu kehiduapn kalian yang lebih baik. Aku dipaksa untuk bekerja di supermarket yang beruntungnya aku Bunda Zizah sendiri yang menerimanya. Aku tidak masalah kalian kuliah tinggi dengan mengandalkan uang warisan kedua orang tuaku untuk biaya hidupku dan kuliahku. Tetapi yang aku sesalkan ialah, kalian tega padaku."


Deg!


Deg!


Keduanya terkesiap mendengar ucapan Risma. Hal yang tidak mereka tahu, ternyata Risma sudah menyadarinya.

__ADS_1


Keduanya menatap nanar apda sepupunya itu. "Bahkan saat ini pun kalian berdua sudah dilunasi biaya kuliah kalian hingga selesai. Tidak kah kalian berpikir, bagaimana kalau posisi kalian dibalik?"


Deg!


"Bagaimana kalau salah satu dari kalian mengalami hal sepertiku? Sanggup tidak kalian?"


Keduanya menunduk. Tami menatap sendu pada Risma. Karena dia pun tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku diam bukan berarti aku membiarkan kalian begitu saja. Aku sering keluar karena ku tahu, saat kalian dirumah hanya tentang jual menjual yang kalian bisikkan dan ketika aku lewat kalian diam. Dan sekarang aku ingin kalian melakukan sesuatu untukku!"


Deg!


Bram dan Santi mendongak melihat Risma yang menatap datar pada keduanya. "Kembalikan semua harta warisan kedua orang tuaku dalam waktu dua kali dua puluh empat jam!"


Deg!


Keduanya terkesiap.


"Daripada aku memberikan kepada orang-orang seperti kalian lebih baik aku sumbangkan ke panti asuhan dan panti jompo. Itu lebih baik untu kedu orang tuaku. Daripada aku setiap malamnya bermimpi bertemu dengan kedua orang tuaku dalam keadaan tanpa baju dan menangis!"

__ADS_1


DDDuuuaaarrrr!!


Santi dan Bram lunglai seketika. Mereka merasa tersindir dengan ucapan Risma yang memnag benar adanya. Karena santi lah yang sering bermimpi jika kedua orang tua Risma di alam sana dalam keadaan kesusahan.


__ADS_2