
"Putri anda tidak pernah sekalipun mengurus saya dengan baik. Ia lebih menyukai diluar rumah dibandingakn dengan menunggu saya dirumah. Selama kami menikah, kami tidak pernah sekamar. Apalagi berhubungan badan. Bagaimana bisa saya menyentuh Dilla jika saya sudah di kunci mati terlebih dahulu dengan sebuah perjanjian Pranikah yang sengaja dibuatnya dan juga tidak kalian ketahui??" ucap Arta pada Papa Hermawan yang membuat pria paruh baya itu menatapnya dengan sangat terkejut.
Arta terkekeh sinis, "Tidak perlu terkejut Papa mertua! Saya punya buktinya!" ucap Arta sembari mengambil map yang kini berada di tangan Farhan yang baru saja turun dari ruang kerjanya untuk mengambil berkas yang ia suruh ambil tadi.
"Baca dan perhatikan setiap poin yang tertulis disana yang dibuat langsung oleh putri tersayang kalian!"
Papa Hermawan menerima map berwarna kuning itu dan segera membacanya.
Seketika saja wajah itu datar tanpa ekespresi saat melihat isi map itu. Setiap kata dan poin-poin nya ia baca dengan tangan bergetar dan rahang mengetat.
Dava yang melihat sang papa berubah segera mengambil alih berkas itu. Ia pun tidak kalah terkejut nya saat membaca isi berkas itu.
__ADS_1
Wajahnya pias seketika. Melihat itu Arta tertawa. "Kenapa? Kamu terkejut melihat isi perjanjian itu? Sekarang saya tanya sama kamu Mardava Hermawan! Siapa disini yang pelakor? Kakak kamu? Atau istri sah saya? Risma tidak salah dalam hal ini. Ia hanya korban dari ke egoisan seseorang! Walaupun begitu, aku tetap menerima Risma karena memang Risma lah yang aku inginkan. Bukan Kakak kamu!"
"Kakak kamu datang kesini karena ingin mengajak saya menginap di rumah kalian karena kamu akan segera menikah tiga hari lagi tepat acara peresmian pernikahan saya dengan Risma. Saya sengaja memberikan surat undangan itu kepada kalian, agar kalian tahu seperti apa hubungan kami berdua." Ujar Arta yang membuat Papa Hermawan dan Dava menoleh bersamaan.
"Tapi.. Apakah kamu tidak bisa berlaku adil pada kakak ku mas Arta? Bagaimana pun kakak ku itu istri kamu juga? Sudah jadi hak nya dong kalau dia mendapatkan keadilan disini??" Ucap Dava yang disambut gelak tawa lagi oleh Arta.
"Adil dalam hal seperti apa Mardava? Adil yang bagaimana maksud kamu? Coba jelaskan!"
"Adil dalam pembagian nafkah lahir dan batin lah! Masa iya itu aja kamu tidak tahu? Buat apa kamu punya istri dua kalau hak dan kewajiban saja kamu tidak tahu!" ketusnya mendengus melihat Arta.
Deg!
__ADS_1
Dava dan papa Hermawan terkejut.
"ak yang seperti apa? Hak yang ia berikan kepada orang lain tapi bukan sama saya? Kewajiban seperti apa yang kamu maksud? Kewajiban yang tidak ingin ia lakukan sama sekali sama seperti yang tertulis di dalam perjanjian itu?? Tidakkah kamu membacanya Mardava?! Kamu tidak bisa baca atau bodoh sih? Hingga kamu tidak paham maksud dari surat perjanjian Pranikah itu?? Saya kira kamu pintar hingga untuk memahami setiap poin dari kakak mu pun kamu tidak paham!"
Ddduuuaaarrr!!!
Tersentak Dava mendengarnya. Ia terkesiap saat Arta merendahkan dirinya dengan mengatakan jika dirinya tidak bisa baca dan juga bodoh.
Arta terkekeh lagi. "Kenapa? Benarkan yang saya katakan?? Jika kamu pintar kamu pasti tahu apa maksud dari poin itu tanpa saya menjelaskan nya dengan panjang lebar! Sakit leher saya menjelaskan nya sama kalian!" ketus Arta dengan wajah kesalnya.
Dilla menunduk dengan tubuh bergetar saat tatapan menghunus dari sang papa padanya. Ketiga orang itu bungkam seketika saat perkataan Arta yang memang benar adanya.
__ADS_1
Di dalam surat perjanjian Pranikah itu tertulis jelas jika tidak ada hak dan kewajiban dari Dilla untuk Arta.
Dilla bebas melakukan apapun tanpa terikat dengan hubungan pernikahan dan Arta hanya sebagai suami status nya saja saat diluar. Sedang di dalam keluarga mereka, Arta dan Dilla harus bersandiwara berperan menjadi sepasang suami istri yang sangat harmonis.