Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Di rumah Arta


__ADS_3

Annisa dan Kak Ira sudah melihat enam orang di depan gerbang rumah Arta. Annisa berdecak saat melihat kelakuan adik lelakinya yang tidak tahu tempat itu.


Bukan ia tidak tahu jika hubungan Dilla dan Arta tidak baik. Annisa tahu semuanya tetapi ia tidak ingin mengatakan apapun pada keluarga besarnya.


Biarlah Arta sendiri yang menjelaskannya, begitu pikir Annisa. Annisa yang saat ini kesal melihat keduanya segera mendekati mereka semua terutama adiknya, Arta.


Annisa menarik telinga Arta hingga membuat sang empu meringis menahan sakit.


"Aduh du du duh.. Sakit kakak! Ih!" seru Arta merasa malu dihadapan ke lima orang yang kini mematung melihat dirinya di jewel oleh wanita cantik tetapi tertutup itu.


"Apa? Heh? Nggak suka kamu?? Hem?" tanya Annisa semakin kencang menarik telinga Arta hingga pemuda tampan dua istri itu berputar-putar demi melepaskan telinganya dari jepitan tangan Annisa yang begitu kuat mencepitnya.


"Lepasin ih, kakak!" pinta Arta lagi yang semakin kesakitan karena jeweran dari tangan Annisa.


Kak Ira terkekeh-kekeh. Inilah sifat Arta yang sebenarnya jika dihadapan semua keluarganya.


"Hiks.. Lepasin!" isaknya benar-benar menangis karena tidak tahan menahan rasa sakit di telinganya.


Rasanya mau lepas itu telinga saking kencangnya Annisa menariknya. Kak Ira yang kasihan melihat Arta sampai menangis seperti itu, segera melerainya.


"Sudah, Dek. Lepaskan tangan kamu. Malu sama tamu. Lihat mereka!" tunjuk Kak Ira pada mereka berlima yang kini mematung melihat Arta seperti itu.


Annisa segera melepaskannya dan melenggang masuk ke dalam. "Kalian semua, masuk!" titah Annisa dengan suara nyaringnya.

__ADS_1


Ke lima orang itu tersentak saat mendengar suara Annisa melengking seperti menyentak mereka semua. Kak Ira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Annisa.


"Ayo, semuanya masuk. Kami ingin mendengar penjelasan mu, Arta! Risma?" panggilnya pada Wanita muda yang lebih muda dari putri kembarnya itu.


Risma terkejut, ia menoleh pada Kak Ira. "Ayo masuk. Kami butuh penjelasan darimu juga. Bawa serta semua saudara atau teman?"


"Saudara! Kami berdua saudara sepupu Risma! Dan ini," tunjuknya pada lelaki yang kini menatap lekat pada Risma yang berdiri disamping Arta dengan Arta menggamit tangan kanan nya. "Ini sahabat kami bertiga!" jawab Santi yang kini berada di belakang Bram.


Kedua orang itu pun menoleh padanya. Kak Ira mengangguk, "Masuk Dek. Bawa istrimu. Kami ingin mendengar penjelasan darimu!" ucap Kak Ira dengan segera berlalu dan masuk ke dalam rumah Arta.


Arta membawa Risma masuk ke dalam rumahnya dimana seluruh keluarga sudah berkumpul disana.


Risma diam di tempat saat melihat wanita paruh baya yang kini terkejut melihatnya.


"Risma? Risma Handayani? Petugas kasir di supermarket Artafariz??" jawabnya yang membuat semua orang terkejut.


Tak terkecuali Arta yang kini beralih menatap Risma yang kini mengangguk dan tersenyum padanya dan semua orang.


Risma melepaskan genggaman tangannya dari Arta dan mendekati Bunda Zizi.


"Assalamu'alaikum Bunda.. Lama ya kita nggak ketemu? Biasanya Bunda rajin ke supermarket?" tanya Risma dengan mencium tangan Bunda Zizi dan memeluknya.


Mata Bunda Zizi berkaca-kaca. "Waalaikum salam sayang. Bunda sehat. Kamu baik, nak? Apakah kedua orang tuamu masih menyiksamu sama seperti kamu kecil dulu?"

__ADS_1


Deg!


Deg!


Tiga orang yang berdiri dibelakang Arta terkejut bukan main dengan ucapan Bunda Zizi. Risma tersenyum. Ia sangat senang bisa bertemu dengan wanita paruh baya yang dulunya pernah menyelamatkannya dari amukan sang Bibi yang hampir mendorong tubuhnya sampai-sampai tertabrak oleh mobil Bunda Zizi dan Syakir yang kebetulan saat itu sedang lewat.


"Alhamdulillah udah nggak lagi, Bunda.." lirihnya terdengar sendu di telinga Bunda Zizi.


Wanita paruh baya itu segera membawa Risma ke dalam pelukannya. Semua menatap diam pada kedua orang itu.


Arta pun demikian. Ia baru tahu jika gadis yang sering Bunda Zizi ceritakan itu adalah Risma. Arta tersenyum manis saat menyadari jika Risma lah orang yang akan di jodohkan dengannya sebelun scandal tentang Dilla terkuak dan ia yang menjadi tumbal penutupnya. Ia menoleh ke belakang dimana tiga orang yang saat ini sedang melihat kedua orang itu dengan wajah terkejutnya.


"Mari duduk dulu. Nanti akan saya jelaskan. Bukankah tadi saya juga sudah menjelaskan separuhnya kepada kalian berdua tentang masalah ini?" ucap Arta pada dua orang yang kini semakin terkejut wajahnya melihat Risma dan Arta.


"Duduk dulu," titahnya lagi.


Ketiga orang yang masih dalam keadaan shock itu terpaksa duduk dengan cara menyeret kaki mereka yang sudah tidak berdaya itu.


Suasana di dalam rumah baru Arta begitu hening. Hanya terdengar helaan nafas dari semua orang yang berada disana.


Semuanya menatap Arta menunggu jawaban darinya. Mereka semua membutuhkan penjelasan saat ini tentang pernikahan Arta dan Risma.


Dan juga ucapan Bunda Zizi tadi yang begitu membuat ketiga orang yang kini duduk di sofa berseberangan dengan mereka semua menuntut penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2