Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Positif


__ADS_3

Dua orang lelaki itu menatap Risma dengan lekat. Mereka tersenyum saat menyadari jika wanita yang mereka cari selama lebih kurang sebulan ini saat ini sedang ada dihadapan mereka.


Tidak sia-sia saja mereka mencari nya ke pasar pagi seperti saran sang bibi yang kini sedang ketar ketir di rumahnya bersama sang suami gila harta itu.


"Beneran kan ini Risma, Gas?" tanya nya pada temannya yang bernama Bagas.


"Hooh, bener. Ini Risma. Wanita yang malam itu kita tiduri saat di hotel Az dan mungkin saat ia sedang hamil anak kita!"


Dddduuuaaarr!!


"Apa?!" pekik Yanti begitu terkejut mendengar ucapan kedua lelaki itu. Ia menatap terkejut pada keduanya.


Disaat Risma dalam keadaan pingsan, bukannya menolong malah mereka mengatakan satu hal yang membuatnya shock setengah mati.


Ada-ada saja dua pemuda tampan tak kalah tampan dari Arta itu. Yanti menatap tajam dan kesal kepada kedua lelaki yang kini menatap Risma dengan wajah berbinar senang seperti baru mendapatkan jakpot dalam jumlah besar.


"Heh semprul! Kalau ngomong itu jangan sembarangan ya! Ini wanita baik-baik! Gimana ceritanya dia bisa kalian hamilin dalam waktu bersamaan sedang dirinya saat ini sudah memiliki suami! Bisa saja kan kalau anak yang dalam kandungannya ini anak suaminya?! Heh?! Ngacok kau kalau Ngomong!" sembur Yanti sambil mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi Arta dengan cepat.


Kedua lelaki itu mematung melihat Yanti.


"Halo Tuan! Risma pingsan di pasar pagi. Nggak tau tuan! Ini masih dipasar! Ada dua orang lelaki disini, bukannya membantu malah ngomong ngacok! Kagak jelas!" ketus Yanti lagi menyembur kedua lelaki yang kini masih saja menatapnya.


"Iya, baik. Akan segera saya bawa kesana. Bisa, bisa. Tuan tenang saja! Hem, Wa'alaikum salam.. Hishh.. hei kalian! Bisa bantu saya tidak? Kalau nggak bisa pergi sono kamu! Jangan buat kepala saya jadi pusing gegara ulah kamu berdua! Minggir! Ck. Mana kepala saya juga kliyengan lagi! Hadeuuuhh.. Ris, Ris! Ngeyel banget sih nih perempuan?! Nggak tahu apa Mbak nya juga pusing begini!" keluh Yanti sambil mengomel dan menyembur dua orang lelaki yang kini menatapnya dengan melongo.


Kedua lelaki itu segera membantu Yanti untuk membawa Risma kerumah sakit tempat Arta bekerja dan Dilla saat ini dirawat.


Salah satu dari mereka Yanti minta untuk mengemudikan mobil milik Risma. Dan yang satu lagi mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


Cukup dua puluh menit saja mereka sudah tiba di rumah sakit Arta bekerja. Di lobi rumah sakit sudah berdiri Arta dan Farhan yang kini menunggu mereka berdua dengan cemas.


Saat melihat mobil Risma masuk kepekarangan rumah sakit, Arta dan Farhan segera mendekati mobil itu. Tiba disana ia ingin segera membuka pintu mobil itu sebelum tangan seorang pemuda yang tadi bersama Yanti dan Risma menyerobotnya.


"Minggir! Biar saya yang bawa Risma ke dalam! Anda dokter, cukup memeriksakannya saja!"


Deg!


Terkejut Arta mendengar ucapan lelaki itu. Begitu juga dengan Farhan yang kini mematung melihat kedua lelaki yang begitu di kenalnya itu.


Pintu mobil itu segera terbuka dan lelaki tadi siap ingin menggendong Risma sebelum sebuah tangan menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke sisi mobil Risma.


"Akkhhtt.. Sialan!! Apaan sih? Sakit lengan saya! Nggak tahu apa kalau saya sedang membawa calon istri saya?!"


Deg!


"Mas! Berhenti!"


Arta menghentikan tangannya untuk meninju wajah lelaki yang kini terkesiap melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.


"Do-do-dokter Artafaris!!!!" serunya dengan suara meninggi.


Arta menoleh padanya dengan rahang mengetat. "Apa kata mu tadi? Calon istri kamu?! Heh? Bang sat! Risma itu ISTRI SAH SAYA SIALAN!" Serunya dengan suara naik satu oktaf membuat dua orang lelaki itu terperanjat kaget.


"Mas!" panggil Dilla lagi tapi tidak di gubris oleh Arta karena darahnya sedang mendidih saat salah satu dari pemuda yang dikenalnya itu mengatakan lelucon yang membuatnya naik darah dan ingin memakan orang secara hidup-hidup saat itu juga.


Yanti menghela nafas kesal melihat kedua pemuda sialan yang entah siapa itu. Sementara Dilla terkesiap saat melihat salah satu dari mereka kini sedang menatapnya.

__ADS_1


"Hadeeehh.. Udah deh perangnya! Ini si Risma dulu di urusin! Baru dua tikus curut itu anda urus tuan Arta! Istri anda sedang pingsan loh.. gimana sih?!" ucap Yanti memang benar adanya membuat emosi Arta yang tadinya meletup-letup memudar seketika saat melihat wajah pucat Risma.


Farhan yang melihat wajah jutek istrinya terkekeh-kekeh.


"Astaghfirullah sayang! Kenapa pingsan begini sih?" keluh Arta sambil menggendong Risma dan menuju ke dalam rumah sakit dengan tergesa.


Tiba disana, ia langsung ditangani oleh dokter spesialis Obygyn seperti kata Yanti tadi saat di jalan masuk kerumah sakit bahwa Risma mual muntah serta pusing. Bisa jadi gejala orang hamil.


Arta menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga sang dokter sahabat Arta itu tersenyum manis padanya.


"Apa? Kenapa? Jangan bilang istriku-,"


"Benar Bro Arta! Selamat! Istri anda sedang hamil tujuh minggu saat ini. Dan anda bisa melihatnya sendiri kan ada berapa kantung disana?"


Arta melotot tak percaya. "Du-dua??"


Dokter itu mengangguk, "Ya, dua. Itu artinya kamu akan memiliki keturunan kembar Bro! Selamat!"


"Apa?" kembar?! Gas! Anak kita kembar Gas!"


DDDuuuaaarrr!!


...****************...


Noh.. Apaan lagi tuh?


Bang Arta pun akan segera tamat ye?

__ADS_1


__ADS_2