Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Kemarahan Arta


__ADS_3

"Aaaarrrggtt.. Sialaaann!! Kau dan orang dirumah ini tidak suci! Kalian sama saja dengan saya! Brengsek!! Sialalaaannn!!" umpat Dilla yang membuat darah Arta mendidih yang menyamakan semua orang dirumah ini seperti dia.


"Diam kamu Dilla!! Baru dua hari kamu tinggal disini, kamu sudah membuat keributan!"


Deg!


Deg!


Dilla mematung saat mendengar suara Arta dari atas tangga sana. Arta berjalan dengan cepat menuruni tangga dengan rahang mengetat.


Sementara Risma yang baru saja sadar segera turun ke bawah. Dengan kepala yang masih keliyengan ia memaksakan dirinya untuk turun ke bawah dalam keadaan masih pusing.

__ADS_1


Ia melipir di tepi dinding untuk mencapai tangga. Sedangkan dibawah sana, Arta sedang menatap Dilla dengan tatapan menuduk dan rahang yang mengeras.


"Apa mau mu Dilla?! Kamu baru dua hari disini sudah membuat ulah! Dan apa ini?! Kenapa belanjaan kamu banyak seperti ini?! Jika kamu ingin berfoya-foya jangan dirumah ku! Pulang ke rumah mu!" seru Arta dengan suara meninghi


Dilla terjingkat kaget. Ia sampai memejamkan matanya untuk mengurangi rasa takut dari senatakan Arta baru saja.


Risma yang mendengar suara Arta meninggi mempercepat langkahnya. Ia bisa melihat Arta ingin menampar Dilla.


Secepat kilat Risma memeluk tubuh Arta dari belakang hingga tubuh keduanya terhuyung ke depan. Untung saja tidak jatuh karena Arta kuat menahan bobot tubuh keduanya.


Yanti yang melihat Risma sangat pucat terkejut bukan main. Ia mendekati Risma yang hampir saja merosot ke bawah jika tidak dipegangi Arta dan Yanti secara bersamaan.

__ADS_1


"Ck. Sayang.. Kamu itu masih demam loh.. Kok turun sih? Aku turun ke bawah mau buatin kamu bubur. Tapi belum lagi bubur aku jadi, darah aku udah naik duluan! Tinggal serumah dengannya bisa membuatku cepat tua!" ketus Arta sambil menggendong Risma menuju ruang tengah yang ada sofa panjangnya.


Ia merebahkan Risma disana. Risma tersenyum lirih dengan mata terpejam. "Lapar Bang.. Belum makan sejak pagi tadi.." lirih Risma yang membuat rahang Arta kembali mengetat.


Ia menoleh pada Dilla yang kini masih mematung di samping tangga dengan tatapn mata sayu pada Arta dan Risma.


"Kamu lihat Dilla?! Gara-gara kamu, Risma ku jadi demam begini! Kenapa sih kamu itu selalu membuat masalah?? Selama kehadiran kamu dirumah ini, tidak pernah ada ketenangan. Hanya ada rasa sakit saat melihat wajah mu! Apa sih mau mu Dilla?!"


"Bang.. Lapar.." lirih Risma lagi.


Bik Iyem dan Yanti yang paham langsung berlari ke dapur. Mereka dengan sigap memasak bubur untuk Risma dalam waktu lima belas menit.

__ADS_1


Begitu juga untuk makan malam mereka semua. Keduanya bekerja sama untuk menyelesaikan tugas memasak mereka.


Arta masih menatap Dilla dengan raut wajah yang begitu marah. "Kalau urusan kamu sudah selesai, lebih baik kamu pergi dari rumah ini! Saya muak melihat wajah kamu! Sejak kehadiran kamu, rumah tangga saya dan Risma jagi kacau balau! Saya yang sedang enak-enaknya menikmati pernikahan kami, kamu malah datang kesini dan menuntut tanggung jawab padaku. Tanggung jawab yang seperti apa nona Dilla?! Kamu lupa dengan syarat pranikah yang kamu ajukan itu? Huh?! Jangan pura-pura laupa kamu Nona Dilla!"


__ADS_2