Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Pengakuan Dilla


__ADS_3

Setelah perdebatan malam itu, kini kedua lelaki itu semakin sering kerumah Arta. Arta tidak bisa melarangnya.


Karena sudah menjadi perjanjian mereka semua dengan Risma. Selama Risma belum melahirkan dua anak kembar itu, maka kedua lelaki itu akan terus mendatangi kediaman Arta.


Arta tidak bisa melarangnya. Ia hanya bisa pasrah. Walau sering kali Risma dan dan Yanti kesal melihat keduanya datang dan mencari perhatian Rsma, tapi Risma tetap tidak bisa berbuat apapun.


Dilla yang melihat madunya itu menjadi kesal setengah mati karena kedua lelaki yang sangat ia kenal itu, tertawa terbahak.


Ia selalu tertawa terbahak melihat Risma yang selalu berwajah masam kepada keduanya. Tetapi kedua lelaki itu tidak peduli.


Memang sudah menjadi tabiat mereka berdua seperti itu. Dilla sangat mengetahui itu. Tinggal dirumah Risma dan Arta selalu membuat Dilla bahagia di sisa hidupnya yang tidak lama lagi.


Ya, dokter sudah memvonis Dilla dengan penyakitnya itu. Ia tidak akan selamat dengan penyakit ganas itu. Dilla hanya bisa pasrah.


Sebelum ia benar-benar pergi, ia ingin meninggalkan kesan terbaik untuk Arta dan Risma sebagai istri Arta dan juga madu Risma.


Ia selalu membuat Risma kesal hingga Risma merajuk padanya yang berujung Arta marah-marah padanya.


Ketika Yanti bertanya tujuannya apa, Dilla hanya menjawab,


"Aku ingin meninggalkan kesan dan kenangan untuk suami dan maduku yang baik itu. Di sisa umurku ini, aku ingin melihat bahagia. Karena melihat keduanya bahagia akupun bahagia.."


"Terus? Apakah kamu tidak memiliki rasa sedikit pun terhadap suami kamu? Maaf nih Dilla. Saya sengaja bertanya seperti ini. Sebab saya melihat dimata kamu ada pancaran cinta untuk Arta. Apakah itu benar?"


Dilla tersenyum manis. Manis sekali. Ia mengangguk. "Aku tidak munafik jika aku sudah jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta padanya bukan karena paras dan juga kekayaan nya. Aku akui Arta sangat tampan. Melebihi lelaki yang selama ini aku ajak jalan. Tapi aku jatuh cinta padanya karena perbuatan dan perkataannya yang selalu lemah lembut terhadapku dan juga Risma. Aku tahu ini terlambat. Tetapi ini tidak salah kan ya? Kalau aku mencintai suamiku sendiri??"


"Walau kamu tahu jika Arta tidak mencintaimu? Maaf Dilla." Ucap Yanti merasa tidak enak saat melihat wajah Dilla mendadak sendu.


"Tak apa Yanti. Bagiku, bisa tinggal bersama mereka saja itu sudah cukup untukku. Aku tidak akan menuntut hak ku padanya. Karena aku sadar diri jika aku ini siapa dan sangat tidak pantas bersanding dengan nya. Tapi aku bersyukur karena bisa menikah dengan lelaki selembut dan sebaik Mas Arta dalam memperlakukan perempuan. Aku beruntung menjadi istrinya. Bahkan sangat beruntung Yanti. Lebih dari yang terlihat." Jawab Dilla yang membuat dua orang di belakang pilar itu tertegun sekaligus terharu.


Ternyata perbuatan baik keduanya membuahkan hasil untuk Dilla.


Risma meneteskan air matanya. Mereka berdua baru saja pulang dari rumah sakit untuk periksa kehamilan Risma yang sudah memasuki empat bulan. Rencananya mereka akan mengadakan acara tasyakkuran untuk kehamilan Risma. Semua itu sudah dipersiapkan oleh mereka berdua. Termasuk Dilla di dalam nya.

__ADS_1


"Ternyata Mbak Dilla sudah banyak berubah ya Bang?"


Arta mengangguk, "Iya. Abang senang melihatnya. Berarti pengajaran yang selama ini kita berikan diterima dengan baik olehnya."


"Jujur Bang. Apakah selama Mbak Dilla disini tidak adakah cinta untuknya walau hanya sedikit saja?" tanya Risma pada Arta.


Arta tertegun dengan pertanyaan Risma. Yanti dan Dilla yang sudah selesai memasak ingin meletakkan makanan itu di meja makan. Tetapi kaki keduanya berhenti saat mendengar ucapan keduanya.


"Jujur Bang. Dari hatimu yang paling dalam!" desak Risma lagi.


Arta menatap Risma dengan lekat. Ia menoleh pada Yanti dan Dilla yang kini terpaku disana sambil menatap keduanya.


Arta tersenyum. Ia melambaikan tangannya pada Dilla. "Kemari Dil!"


Deg!


Bergetar jantung Dilla. Ia tersenyum lembut pada Arta. Risma menoleh pada Dilla. Ia pun ikut tersenyum.


"Duduk Mbak. Ada bahasan yang sangat serius untuk kita bahas. Dan ini mengenai kamu!" imbuh Risma yang di tatap balik oleh Dilla dengan bingung.


"Duduk dulu. Kamu juga Yanti. Kamu yang akan menjadi saksi dari setiap ucapan kami bertiga."


"Tentu Tuan. Dengan senang hati!" jawab Yanti dengan segera duduk .


"Katakan dengan jujur Dilla. Selama kamu tinggal disini apa yang kamu rasakan untukku dan juga Risma?" Tanya Arta sembari memegang tangan halus Dilla.


Mata Dilla berkaca-kaca. Ia menunduk.


"Jawab saja Mbak. Kami ingin mendengarnya secara langsung dari mulutmu. Apakah selama kamu tinggal bersama dirumah ini, tidak adakah cinta yang singgah dihatimu untuk Bang Arta??" tanya Risma menekan rasa sesak didada saat melihat Arta menatap lekat pada Dilla.


Dilla terisak. "Maaf Ris.. Aku tidak bisa menahan rasa suka ku untuk suami mu. Aku menyukainya dan juga sudah jatuh cinta padanya karena perbuatannya dan juga sikapnya kepadaku. Maaf Ris.. Maaf mas Arta. Maafkan aku! Hiks.."


Grep!

__ADS_1


Deg!


Serasa diremat dada Risma saat melihat cintanya memeluk istri yang lain. Ia memaksakan senyum manis pada keduanya. Ia tersenyum dengan luka menganga di dada.


Bohong jika Risma tidak sakit. Jangankan untuk melihat keduanya berpelukan. Melihat Arta menatap lekat pada Dilla saja sudah mengoyak jantung dan hatinya.


"Maaf.. Hiks.. Maafkan aku..hiks.." isak Dilla lagi.


Arta tidak menjawabnya. Dia hanya bisa mengelus lembut tubuh Dilla untuk menenangkannya.


Arta mengurai pelukannya dari tubuh Dilla dan menatapnya dengan tatapan teduhnya sama seperti pada Risma.


Lagi dan lagi Risma berusaha menahan nya. Ia tetap tersenyum melihat keduanya. Walau rasa nya terkoyak hingga menjadi dua bagian.


Arta mengusap air mata Dilla. "Tidak ada yang perlu di maafkan. Kita tidak tahu pada siapa hati kita berlabuh. Kamu tidak salah jika kamu mencintai suami sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku bahkan senang jika kamu sudah menjadi lebih baik." Ucap Arta yang diangguki oleh Risma.


"Dilla.. Mungkin ini akan sakit untukmu. Tetapi aku harus jujur padamu. Maaf.. Jika aku tidak bisa membalas cintamu. Tetapi aku bisa menyayangimu sama seperti aku menyayangi adikku. Aku tidak bisa berpindah ke lain hati. Kamu tahu kan?"


Dilla mengangguk cepat dan tersenyum manis pada Arta dan Risma. "Aku tidak akan meminta kamu untuk mencintaiku sama seperti kamu mencintai Risma. Aku hanya ingin meminta.."


Dilla menghela nafas sesak. "Di sisa umurku yang sudah tidak lama lagi, izinkan aku untuk berbakti kepadamu sebagai istrimu. Bukan dalam hal hubungan suami istri. Aku hanya ingin disamakan seperti Risma. Kamu menganggap Risma istri aku pun begitu. Aku tidak menuntut apapun. Bagiku. Tinggal serumah dan juga bisa mencintaimu itu sudah cukup untukku di sisa akhir hidupku. Kamu bisa kan Mas? Ris?"


Kedua orang itu tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah.. Terimakasih Mas Arta. Maafkan madu mu ini Risma.. Maaf.." lirihnya sambil memegang tangan Risma yang dibalas pelukan oleh Risma dan Arta di tubuh kurus Dilla.


...****************...


Hiks.. Nyesek dah!


Jujur! Othor sendiri pun tidak mau di madu. Mana rela othor suami othor dibagi sama wanita lain?


Tapi kisah ini othor angkat sedikit dari kisah nyata agar kalian bisa mengambil hikmahnya.

__ADS_1


Bagi kalian yang sudah di madu, semoga Allah melapangkan dada kalian, diberikan kesabaran dan keiklhlasan dalam menjalaninya. 😭😭


__ADS_2