Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Keputusan Risma


__ADS_3

"Dan saya sudah memutuskan.." Risma melirik Arta yang kini tersenyum padanya.


Risma melirik seluruh keluarganya yang kini tersenyum padanya.


"Jawab aja Dek. Kamu berhak memutuskan. Karena yang mendapatkan masalah itu kamu. Jadi.. Kamulah yang berhak memutuskan hukuman apa yang tepat untuk kedua lelkai itu!" Kata Kak Ira yang diangguki oleh semua.


Terasuk Ibu Widya dan Widuri yang kini menatap tajam pada kedua lelekai tampan itu.


Risma mengangguk. Ia menghela nafasnya sebelum memberikan keputusan untuk keduanya.


"Begini Bang Bagas dan Bang Andi.."


Deg!


Deg!


Kedua orang itu terkejut dengan panggilan Risma untuknya yang kini berubah, tidak lagi gas bumi dan kendi.

__ADS_1


"Saya tidak akan melaporkan kalian ke penjara dengan kasus pencemaran nama baik. Tapi.. Jika kalian ingin menghukum orang yang sudah menipu kalian berdua, silahkan! Itu lebih baik. Saya juga manusia pernah melakukan salah yang mungkin tanpa saya sadari. Untuk itu, saya melepaskan kalian berdua dari tuntutan hukum. Karena kalian hanya salah paham kepada saya. Itu saja." Ujar Risma yang ditanggapi senyum lega oleh Ibu Widya dan Widuri.


Seluruh keluarga pun merasa senang dan bangga dengan keputusan Risma yang menurut mereka sangat bijak.


Kedua lelaki itu tersenyum teduh pada Risma dengan mata berkaca-kaca.


"Terimakasih Risma. Kami salah paham padamu. Ternyata malam itu yang datang kepada kami itu adalah istri kami. Mereka berdua sudah emngatakannya sedari awal tetapi kami tidak percaya.. Maafkan kami berdua Risma.. Dokter Arta.. Maafkan kami.." pinta keduanya dengan tulus.


Risma dan Arta mengangguk setuju.


"Manusia tepatnya salah. Allah saja maha pengampun dan maha pemaaf? Kenapa kami tidak bisa memaafkan kalian berdua? Kalian itu hanya mengatakan yang menurut kalian benar tanpa melukai kami sedikitpun. Kalian bersikeras karena kalian pikir janin itu milik kalian. Kalian salah paham. Dan kesalah pahaman itu sudah terluruskan dengan bukti akurat tes DNA kalian berdua dan juga suami saya.


Jangan buang mereka dari keluarga kalian. Setidaknya pikirkan dua bayi yang saat ini baru saja lahir. Keduanya butuh seorang ayah untuk kehidupan mereka kelak."


Ibu Widya dan Widuri mengangguk. "Tentu Ustadzah. Terimakasih atas pengertiannya. Kami mohon maaf, karena kedua anak kami sudah mengganggu ketenagan ustadzah selama hampir setahun ini. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya."


Risam tersenyum, "Nggak Ibu. Mereka pemuda baik. Hanya salah paham saja kok. Saya pun sudah memaafkannya. Bukan begitu Bang?" ucap risma pada kedua ibu dna juga Arta yang kini mengangguk serat tersenyum pada mereka semua.

__ADS_1


"benar Bu. Kami sudah emmaafkan kedua putra kalian. Tidak masalah, kami tidaka akn memperpanjang kasus ini."


Arta menoleh pada keduanya, "Dan untuk kalian berdua. Mulai hari ini, buka hati dna mata kalian untuk dua orang yang saat ini sednag menunggu kalian dirumah. Kalian berdua itu sudah dewasa. Jangan lagi berlaku yang tidak baik. Karena baik dan buruk diri kita akan menurun kepada anak kita nantinya. Saya memaafkan kalian berdua. Mulailah hidup baru bersama bidadari dan malaikat kalian yang saat ini sedang menunggu kalian berdua. Masalah ini kita tutup sampai disini." ujar arta yang diangguki oleh keduanya dnegan senyum tulus dan juga lehga karena bebas dari hukuman.


Seluruh keluarga bisa bernafas lega. Masalah Rahim Rebutan ini sudah selesai.


Mereka hanya tinggal menikmati hari-hari dengan dua malaikat kecil tak bersayap yang dikirimkan untuk arta dan Risma.


Sebagai pelengkap kehidupan rumah tangga keduanya. Semuanya sudah berdamai saat ini.


Mereka saling bermaaf-maafan. Walau bukan lebaran, setidaknya karena sudah kesalahan sudah berani meminta maaf secara langsung.


Arta dan Risma tertawa senang saat Ibu Widya dan Widuri mengatakan,


"Kelak, saat kedua cucu kami dewasa, kami akan melamar kedua putri kalian untuk menantu kami!"


Mereka semua mengiyakan dan mengaminkannya. Tidak tahu seperti apa masa depan.

__ADS_1


Bisa jadi sekarang kita rencanakan, tetapi bisa berubah ketika dewasa nanti?


Waallahu'alam bisshawab..


__ADS_2