Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Kamu milikku, Risma


__ADS_3

Keduanya semakin liar saja. Arta yang belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, membuatnya sangat, sangat bersemangat.


Jika dengan istri pertamanya, ia tidak pernahmerasakan hal memabukkan seperti ini. Karena pernikahan keduanya hanya status bagi Dilla.


Ia tidak ingin terkat dengan Arta. Ia wanita bebas. Menikah dengan Arta karena ingin menutupi scandal nya yang sudah membuat kedua orang tuanya malu karena ulahnya itu.


Hampir setahun pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun Arta menyentuh Dilla sama seperti saat ini.


Ia menyentuh tubuh Risma sepuas hatinya. Istri yang baru saja ia nikahi.


Arta terus mengecup memaguut dan melumaat putik ranum itu dengan lembut. Tidak buru-buru. Tetapi sangat bersemangat.


Setiap jengkal tubuh itu ia sentuh tak bersisa sedikitpun.


"Ughh.. Mas-,"


"Arta. Namaku Artafariz. Aku suami mu yang baru saja menikahimu secara sah hukum dan agama," potong Arta dengan cepat saat Risma memanggil nama yang tidak ia tau siapa itu.


"Egghh.. Benarkah? Ssstt.. Ughh.." Risma terus meracau tidak jelas saat tangan Arta menyentuh bukit kembarnya yang tidak berpenghalang lagi.


Entah kemana kacamata kuda itu ia lemparkan. Risma mengalungkan kedua tangannya di leher Arta.


Ia tersenyum, "Kita jeda sebentar. Mas akan- hem. Abang aja deh. Ya? Panggil aku dengan Abang." titahnya masih dengan tangan bergerak lincah melepas baju itu.

__ADS_1


Risma tersenyum dalam mata terpejam. "Tentu Bang Arta. Sentuh aku!"


Arta terkekeh, ia segera merogoh saku celananya dan memasangkan kalung di leher Risma. Kemudian cincin dijari manis kanannya.


"Mulai sekarang kamu milikku, Risma! Cup."


Ugh..


Lenguhan demi lenguhan Risma keluarkan. Hingga membuat Arta semakin panas. Tubuh keduanya sudah polos.


Arta yang baru pertama kali merasakan ini ingin lagi dan lagi. Untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya surga dunia.


Tidak hanya ia dengar ketika di pesantren dulu dan juga ketika ia sekolah di fakultas kedokteran.


Arta memejamkan kedua matanya saat merasakan miliknya berdenyut saat sudah berhasil menerobos palung surga milik sang istri.


Keduanya dibalut dalam gelora gai rah yang membara. Walau tadi sempat meringis karena merasakan sakit, kini Rima yang paling riuh suaranya di dalam kamar pribadi hotel milik Arta sendiri.


Diruang Pribadi milik Arta yang Dilla sendiri pun tidak pernah masuk kesana.


Sementara diluar, Annisa mematung di depan pintu ruang pribadi Arta. Ingin sekali ia menggedor kamar itu.


Tetapi percuma jika ruangan Arta itu kedap suara. Annisa menghela nafas pasrah. Ia pun segera berlalu ke kamarnya kembali sambil menggerutu tidak jelas di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Entah sampai kapan keduanya terus memadu kasih untuk pertama kalinya. Risma yang masih dalam pengaruh obat ingin terus meminta kepada Arta.


Dan Arta pun dengan senang hati melakukannya. Toh, tak ada yang salah bukan? Bukankah keduanya sudah sah menjadi suami istri?


Entah pukul berapa urusan ranjang itu selesai, saat sadar mereka terbangun saat pukul dua belas tengah hari.


Keluarga sudah pulang terlebih dahulu. Karena Arta sudah mengirim pesan kepada mereka semua untuk pulang kerumah Bunda Zizi.


Sedang dirinya akan menyusul. Siang ini ia sudah izin tidak ke rumah sakit. Ia ingin mencari rumah terlebih dahulu untuk mereka berdua.


Arta yang sudah lebih dulu bangun, tersenyum saat melihat Risma yang kini berada di dalam pelukannya.


Risma yang masih polos tidak sadar dengan hal itu. Ia malah semakin merapatkan dirinya pada Arta, hingga sesuatu di bawah sana saling bersentuhan membuat Arta mendesis lagi.


Sedang Risma malah sengaja memancingnya agar ikut bermain bersamanya. Arta terkekeh saat merasakan tangan Risma yang sudah nangkring di pusat tubuhnya.


"Kamu nakal Ris! Mau lagi??"


Masih dengan mata terpejam, Risma mengangguk. Keduanya pun kembali mereguk kenikmatan yang halal setelah mereka menikah tadi malam.


Lagi dan lagi Risma terbuai dengan perlakuan Arta yang sangat manis dan lembut padanya. Serasa dunia itu hanya milik mereka berdua.


Mereka berdua belum menyadari jika kejadian tadi malam itu akan menimbulkan masalah di dalam rumah tangga keduanya.

__ADS_1


__ADS_2