
Sudah lewat empat puluh hari dari kematian Dilla. Kini Risma sudah kembali seperti biasanya. Kehamilannya pun sudah menunggu bulannya saja.
Hari-hari yang Risma lewati begitu sepi dan sunyi. Semenjak kepergian Dilla, rumah itu mendadak sunyi. Sesunyi hati Risma saat ini.
Tiap kali ia memasuki kamar Dilla, pastilah terlihat ada Dilla sedang tersenyum padanya memakai baju putih yang sama dengannya pada saat acara nujuh bulanannya.
Arta pun ikut merasakan sedih seperti yang Risma rasakan. Tidak bisa dipungkiri kehadiran Dilla sudah menumbuhkan benih sayang yang lebih untuknya.
Hingga jika dibandingkan saat ini posisi Dilla dan Risma itu sama. Ya, Arta juga mencintai Dilla seperti mencintai Risma.
Tapi saat ia menyadari cintanya untuk Dilla, sang istri pertama nya itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Hanya meninggalkan kenangan untuk nya.
Arta dan Risma.
Dua orang yang sangat Dilla cintai melebihi dirinya sendiri. Dilla sangat mencintai Arta di sisa hidupnya.
Dan ia juga sangat, sangat menyayangi Risma hingga akhir hayatnya. Pada saat ia pergi pun ia masih memegangi kedua tangan orang itu dan juga menyebut nama keduanya sebagai tanda cintanya untuk mereka berdua yang sudah tulus menerima dirinya yang sangat berdosa itu.
Dilla meninggal dalam keadaan sudah bertaubat. semoga Allah menerima taubatnya dan juga semua amal ibadahnya. Dan ditempatkan di surga Nya Allah kelak.
Amiinn..
*
*
*
Seratus hari berlalu setelah meninggalnya Dilla. Kini Arta dan Risma sudah kembali seperti biasa. Selalu romantis setiap saat jika ada kesempatan.
Kehamilannya yang sudah tua dan menunggu harinya saja untuk melahirkan, tidak menyurutkan Risma untuk berdiam diri saja.
Padahal Arta sudah sering mengatakan,
"Cukup olahraga malam saja sayang. Jangan lagi bergerak kesana kemari. Takut Abang lihatnya!" ucap Arta saat melihat Risma sedang sibuk membersihkan tanaman bunganya bersama Dilla.
Taman bunga yang keduanya buat saat kedua lelaki sialan itu datang dan membuat rusuh hingga membuat Risma pingsan hingga berujung Dilla mengamuk seperti singa betina sedang menerkam mangsanya.
Risma terkekeh mengingat itu. Bibirnya terus tersenyum mengingat Dilla.
Deg!
Tangan itu berhenti seketika saat mengingat ucapan Dilla. Yang mana ia sudah menyiapkan nama untuk kedua anaknya itu.
Risma meninggalkan taman bunga itu dan berjalan cepat menuju ke lantai atas. Dimana kamar Dilla berada. Kamar yang selama ini selalu Risma tempati jika Arta sedang dinas malam dirumah sakit.
Arta yang melihatnya pun segera bangkit dan mengikuti Risma yang kini berjalan cepat dengan perut buncitnya itu.
__ADS_1
"Sabar sayang. Hati-hati!" peringat Arta saat melihat Risma kelelahan saat berjalan menaiki tangga.
Padahal di sebelah kanan rumah itu sudah Arta sediakan lift untuk Risma. Tetap saja Risma lebih suka naik turun tangga. Mau olahraga katanya.
Arta hanya bisa pasrah.
keduanya pun berjalan beriringan menuju ke kamar Dilla.
Tiba disana, Risma segera membuka pintu kamar itu.
Ceklek.
Deg!
Deg!
Kedua orang itu tertegun saat mencium aroma mawar di kamar itu. Risma menatap sejurus ke depan, diamana laci nakas meja rias milik Dilla.
Deg, deg, deg..
"Mbak Dilla.." ucapnya tanpa sadar.
Arta pun demikian.
Sayangku.. Faradilla..
Risma dan Arta mendekat.
Keduanya seperti terhipnotis dengan senyuman cantik Faradilla.
Keduanya berdiri tepat di depan meja Rias milik Dilla. Dilla menuntun Risma untuk membuka laci itu masih dengan tersenyum.
Mata Arta mengembun. Dilla mendekatinya. Risma masih menyentuh laci itu dan menariknya.
Mas Arta.. Aku sangat mencintaimu..
Cup!
Mata Arta terpejam saat merasakan kecupan hangat yang terasa hingga ke hatinya. Lagi, Buliran bening mengalir di pipinya.
Dilla kembali pada Risma. Ia pun melakukan hal yang sama.
Risma mematung saat merasakan seluruh wajahnya seperti di kecup oleh sesuatu. Buliran bening itu mengalir di pipinya.
Semilir angin berhembus dan meniup di telinganya.
Di dalam laci itu ada perhiasan dan juga mahar dari mas Arta untuk Mbak. Ambil dan berikan kepada kedua putriku.
__ADS_1
Farah dan Farisma.
Katakan kepada mereka berdua. Bahwa Bunda Dilla sangat menyayangi mereka berdua. Walau Bunda tidak lagi bersamanya, tapi sebagian diri bunda akan ada bersama kalian.
Bunda sangat menyayangi kalian berdua. Sama seperti Bunda menyayangi ayah Arta dan Buna Risma.
Kalian penguatku disaat aku terpuruk. Terimakasih sayang..
Waktu Mbak sudah habis disini. Berikan nama itu untuk kedua putri kita. Mbak harus kembali. Janji Mbak sudah selesai.
Cup.
Bunda pamit sayang..
Kapan-kapan, kalian minta ayah dan buna untuk kerumah baru bunda ya? Jangan lupa doakan bunda kalian ini.
Mbak pamit sayang.. Mas ku.. Aku pamit.
Cup.
Cup.
Wuusshhh..
Angin kencang berhembus di dalam kamar itu. Risma dan Arta tersedu melihat senyum Dilla yang begitu cantik dan melayang melewati keduanya.
"Mbak.."
"Sayang.." ucap Risma dan Arta bersamaan.
Dilla tersenyum dan mengangguk.
Sampai bertemu di surga Nya Allah para pendamping setiaku..
Tap!
Jendela kamar Dilla tertutup bertepatan dengan perut Risma yang langsung saja mulas dan sangat mulas hingga dirinya memegang meja rias milik Dilla sampai berguncang hebat.
"Abang, aku mau melahirkan! Bawa aku kerumah sakit!"
Deg!
...****************...
...Selamat hari raya Idul Fitri. Mimal aidin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏...
...Pantengin terus ye?...
__ADS_1
...Sebentar lagi tamat....