
Risma berjalan dengan pelan dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Pusat intinya masih sakit.
Entah seberapa besar dan kuatnya benda tumpul itu menggasak pusat intinya hingga rasanya Risma sulit berjalan saat ini.
Ia berpegangan pada dinding untuk tiba di pintu kamar mandi. Risma bukanlah gadis yang nrak dan tidak pernah meliht hotel mewah seperti tempat ia sekarang berada.
Sebelumnya, Risma juga sudah pernah memasuki hotel saat salah satu temannya dulu ulang tahun.
Hal yang tidak diketahui oleh Bibi dan Pamannya sedang saat itu Abang sepupunya tahu jika Risma ke hotel untuk menghadiri acara uang tahun teman nya karena ia meminta izin pada Abang sepupunya itu.
Setengah jam berlalu. Risma baru saja selesai mandi dengan air hangat. Terasa sedikit nyaman tubuhnya.
Setelahnya ia mengambil tas kecil berisi perlengkapan miliknya dan segera ia kenakan. Risma malu saat memikirkan jika Arta baru sekali menyentuhnya, tetapi lelaki yang berstatus suaminya itu sudah tahu ukurannya.
Semuanya pas saat ia kenakan. Setelah selsai, ia membuka pintu kamar itu dan mengizinkan salah satu orang Arta untuk membersihkan kamarnya.
Sebelum petugas kebersihan wanita itu masuk, Risma sudah lebih dulu memungut baju miliknya dan Arta.
Begitupun dengan seprei putih yang sudah ternoda karena darah miliknya segera ia gulung dan meminta satu buah tas untuk membawa pulang barang itu.
Petugas kebersihan itu paham. Ia segera memeberikan apa yang istri Bos nya itu mau. Risma mengucapkan terimakasih.
Ia tidak jadi makan. Padahal perutnya saat ini begitu keroncongan. Ia keluar setelah petugas kebersihan kamar pribadi milik Arta itu bersih.
__ADS_1
Tiba diluar sudah ada orangnya Arta yang menyusul istri Bos mereka. Risma di tuntun untuk menaiki Lift dan turun bersama orang Arta yang juga perempuan itu.
Ia kini sedang dalam perjalanan menuju kerumah bibi nya untuk mengambil semua perlengkapannya.
Cukup lima belas menit saja Risma sudah tiba dirumah sang Bibi dan paman yang kini sedang ada tamu di dalamnya.
Tanpa memperdulikan siapa tamu itu, ia langsung menuju ke kamarnya dan mengambil semua barang-barangnya.
Tak lama setelahnya, dua orang masuk tanpa permisi ke dalam rumah Paman dan Bibinya dan mengangkat semua barang milik Risma yang membuat lelaki itu mengernyitkan dahinya karena melihat semua barang-barangnya dibawa keluar dan Risma mengikutinya dari belakang.
"Tunggu Ris!" cegatnya
Risma berhenti dan berbalik melihat kedua orang yang kini sedang menatapnya. "kamu mau kemana Dek? Kenapa semua barang kamu dikeluarkan seperti ini?" tanya Abang sepupu Risma yang bernana Bram itu.
Bram mengernyitkan dahinya. "Tunggu. Abang ikut Kamu. Ada banyak hal yang ingin Abang tanyakan sama Kamu." Katanya dengan segera berlalu meninggalkan Risma yang kini menatap datar pada Paman dan seorang lelaki yang kini juga menatap datar padanya.
"Selamat Paman! Anda berhasil membuangku dengan cara menikahkan ku dengan Dokter Arta. Tetapi tak apa. Aku bebas sekarang. Dan kalian berdua tidak bisa menjual ku lagi pada lelaki hidung belang diluarsana. Begitu rendahnya harga diriku, hingga kalian rela menukar tubuhku dengan uang. Andai posisi itu dibalik tetapi putri kalian lah yang merasakannya, apa yang akan kalian lakukan? Huh?" seru rRsma dengan suara rendahnya tetapi sangat dingin
Pak Roni tidak menyahutinya. Pemuda yang berada di samping Pak Roni itu terkejut. "Ayo, Abang sudah siap. Pak. Abang antar Risma dulu. dan kamu Tam! Kamu mau ikut aku atau disana saja?"
"Aku ikut kalian saja!" jawabnya cepat dan segera mengikuti langkah kaki Risma yang kini menghilang dibalik pintu rumah itu.
Seseorang dibalik dinding mematung mendengar ucapan Risma baru saja. Sadar jika Risma sudah pergi, ia pun segera berlari ke kamarnya dan mengambil kunci motor untuk menyusul ketiga orang yang saat ini masih terlihat itu.
__ADS_1
Ia melewati Pak Roni yang kini menatap datar pada mobil Risma yang baru saja berlalu itu.
Di dalam mobil, tidak ada yang berbicara. Semuanya larut di dalam pikiran masing-masing.
Butuh waktu satu jam untuk tiba di rumah baru Risma. Mereka tiba disana bertepatan dengan Arta yang juga baru pulang dari mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Arta tersenyum saat melihat Risma. Sedang Risma tida tahu akan kedatangan Arta. Sedang tiga orang lainnya terkejut melihat sosok yang begitu mereka kenal saat ini.
"Dokter Artfariz!" seru Bram begitu terkejut.
Mendengar namanya disebut, ia menoleh pada mereka bertiga yang kini terkejut melihatnya. Risma pun demikian.
"Ya, ini saya! Silahkan masuk!" katanya pada ketiga orang itu.
Risma yang masih tertegun disadarkan oleh Arta dengan cepat mencium pipinya sekilas.
Deg!
Deg!
Bluusshhh..
Pipi halus itu mendadak merona malu. Arta terkekeh, dan semua itu tidak luput dari perhatian ketiga orang yang saat ini masih mematung melihat keduanya.
__ADS_1