Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Menanggung resikonya sendiri


__ADS_3

"Baiklah jika itu keinginan Abang. Tetapi jika suatu saat ia datang kesini dan meminta hak darimu, maka kamu harus memberikannya. Bisa?" tanya Risma pada Arta yang diangguki oleh Arta walau dengan berat.


"Ya sudah, keputusan sudah di ambil, maka dari itu acara resepsi kalian akan di gelar satu minggu setelha ini. Mak sendiri yang akan menyiapkannya. Sekarang, istirahatlah."


"Iya Mak," sahut Risma dan arta bersamaan.


Bunda Zizi bahagia karena Risma mau mengalah menuruti keinginan Arta. Satu hal yang tidak mereka semua tahu, kalau Risma sengaja mengalah karena tidak ingin menambah masalah lagi.


Tapi jangan panggil jika tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Risma Handayani gadis pintar dan keras kepala. Pasti akan mendapatkan apa yang ia amu dan butuhkan.


Salah satunya tentang istri pertama suaminya, Arta. Risma akan mencari tahu sendiri masalah apa yang sedang terjadi kepada keduanya hingga Arta begitu sulit untuk menerima Dilla.


Keduanya berlalu. Sedangkan ketiga orang itu masih menatap kepergian Arta dan Risma dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bunda Zizi melihat pada mereka bertiga, "Sudah malam. Sebaiknya kalian kembali. Urusan kalian sudah selesai disini. Dan ya. Jangan lupa kemblikan harta peningglan kedua orang tua Risma dan juga uang kuliah kalian yang sudah putra saya lunasi dalam waktu dua kali dua puluh empat jam! Dan katakan juga pada kedua orang tua kalian, untuk segera bersiap jika tidak mampu mengembalikannya maka mereka berdua harus menginap di dalam jeruji besi! Termasuk klian berdua!"


Ddddduuuuaaaaarrrr!!!


Ketiganya tersentak kaget. Dengan cepat salah satu dari mereka mengaangguk. "Ba-baik Nyonya. Ka-kami akan sediakan uang itu!" tukasnya dengan segera bangkit dan ingin berlalu.

__ADS_1


"Permisi Nyonya, Assalamau'alaikum,"


"Wa'alaikum salam." sahut ke empat orang itu dengan wajah dinginnya.


Ketig aorang itu berlari ke motor milik santi dan segera melajukan nya menuju kerumah mereka.


Sedangkan di dalam kamar pengantin baru itu, mereka kembali mereguk manisnya madu pernikahan yang sudah halal untuk mereka nikmati.


Arta, yang baru saja pertama kali merasakan nik matnya palung surga tidak ingin berhenti. Begitu pun dengan Risma.


Gadis kecil yang sudah dewasa itu pun menikmati setiap sentuhan yang memabukkan dari sang suami padanya.


"Mati aku! Mati aku! Mana si Arta sialan itu sudah pindah lagi! Haisshh... Aku harus bilang apa pada orang tua ku?? Jujur gitu?? Bilang kalau si sialan itu sudah menikah lagi?? Ck. Nggak! Itu nggak boleh! Yang ada aku malah ditanyai yang macam-macam nanti! Haisshhh.. Aku harus hubungi si sialan ini!" katanya sambil menggerutu dan mengambil ponsel mahal miliknya segera menghubungi nomor sang suami statusnya itu.


Satu kali, tidak diangkat.


Dua kali, pun demikian.


Hingga ke tiga kalinya, emosi wanita itu meledak.

__ADS_1


"Sialaaannn!!!!!" pekiknya dengan semua barang ia pecahkan di dalam kamar luasnya itu.


Pembantu yang ada dirumah itu hanya bisa menghela nafasnya. "Ck. Dasar gila! Pantas saja Dokter Arta. Lah orangnya kagak waras begitu!"


"Hooh, kamu benar! Punya suami tampan dan kaya saja, masih kurang bersyukur dia!"


"Hem.. Begitulah hidup orang kaya yang dipenuhi nafasu belaka. Pernikahan pun dijadikan permainan olehnya!"


"Sekarang? Dia baru tahu rasanya kehilangan? "


"Setelah tiada barulah terasa.." ucap salah satu orang menyandungkan sebuah bait lagu yang sering mereka sering dengar.


Semua pelayan dirumah itu tertawa cekikina. Sementara sang majikan terus mengamuk dan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk sang suami yang sudah pergi dari rumahnya karena sudah menikah lagi.


Jangan salahkan Arta jika dia melakukan hal itu. Saat Arta menikahi Dilla, ia sudah membuat perjanjian tertulis bahwasa nya Arta tidak boleh mencampuri urusannya dan juga privasinya.


Arta juga tidak perlu memberikan haknya kepada kepada Dilla. Baik itu lahir atau batin karena iabisa memenuhi kedua itu tanpa Arta disampingnya seperti yang sudah-sudah.


Oleh karenanya Arta menuruti perjanjian itu karena ia pun tidak mersa dirugikan dengan hal itu. Tetapi sebelum itu, Arta sudah mengatakan jika suatu saat kedua orang tua nya tahu tentang perjanjian pra nikah itu, maka ia sendiri yang harus menanggung resikonya.

__ADS_1


Dan inilah yang ditanggung Dilla saat ini.


__ADS_2