
Risma menatap Arta dengan dalam, "kalau begitu. Selama Abang tidak bisa menerima Mbak Dilla, maka selama itu juga kita tidak bisa hidup bersama, sama seperti Mbak Dilla. Aku juga akan pindah kerumah lain! Agar kita berdua adil! Dan inilah keputusan ku!" tegasnya sambil menatap dalam pada manik mata hitam milik Arta yang kini berkaca-kaca karena ucapan Risma baru saja.
Arta menangis, ia menggeleng. "Nggak bisa sayang! Abang tetap akan pada pendirian Abang!" tegasnya lagi dengan air mata beruraian.
Sakit sekali hatinya, istri yang baru dua hari ia nikahi sudah memberikan keputusan yang sangat bijak tetapi Arta tidak bisa menerimanya.
"Jika Abang tidak bisa, maka aku pun tidak bisa! Maaf, aku menolak pernikahan ini!"
Deg!
Deg!
Arta dan seluruh keluarganya mematung mendengar ucapan Risma yang begitu memukul telak diri Arta saat ini.
__ADS_1
Mata itu terus saja mengeluarkan air mata sama seperti Risma saat ini. "Kenapa? Kenapa kamu begitu baik? Kenapa kamu menerima wanita yang belum tentu menjadi madu mu? Kenapa?" lirih Arta masih dengan memegang tangan halus Risma.
Risma yang tadinya berwajah datar, kini tersenyum padanya. "Karena aku istrimu. Istri dari seorang Artafariz. Seorang dokter bedah yang sudah terkenal dengan kebaikan dan santunan nya pada setiap orang.. Kamu istimewa Bang Arta. Kamu sangat istimewa untukku. Jika dibilang aku beruntung. Ya, aku sangat beruntung memiliki suami seperti kamu. Baru pertama kali bertemu, kita menikah kamu sudah mau menerima ku menjadi istrimu. Padahal kamu belum mengenalku dengan baik. Sifatku, kebiasan ku dan juga semua yang ada pada diriku. Kenapa? Kenapa kamu menerima gadis kecil ini untuk mendampingimu? Kenapa?"
Pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Risma malah dibalas dengan pertanyaan oleh Risma. Annisa dan Kak Ira terharu mendengarnya.
Bunda Zizi langsung saja memeluknya. Ia tersedu sambil memeluk Risma. Semua yang mendengar ucapan Risma pun ikut terharu tidak terkecuali ke tiga orang yang duduk di seberang sofa mereka saat ini.
Arta masih setia berlutut di hadapan Risma. "Jawab Bang Arta. Kenapa kamu menerima ku menjadi istrimu. Sementara kamu belum mengenalku dengan baik?"
"Sekarang kamu yang harus menjawab pertanyaan Abang. Kenapa? Kenapa kamu begitu baik? Kenapa kamu menerima wanita yang belum tentu menjadi madu mu? Kenapa?" tanya Arta yang kini semakin erat memegang tangan Risma.
"Karena aku juga mencintaimu saat pertama kali aku melihatmu."
__ADS_1
Arta terkejut, "Kapan?"
"Saat umurku tujuh belas tahun. Saat kamu pernah memberi santunan di panti asuhan kasih Ibu yang di pimpin oleh Ibu Aminah yang kini telah berpulang. Belum lagi Bunda Zizah yang sangat sering menceritakan mu padaku. Yang membuat hati dan otakku hanya menginginkan kamu menjadi suamiku, imam dunia dan akhiratku. Setiap malam aku selalu mendoakan mu. Agar kelak kita bersama. Dan ya, Allah kabulkan. Terlepas dengan cara apa Allah mempertemukan dan mengikat kita, aku sudah menerima pernikahan ini. Karena aku baru tahu pagi tadi jika yang menikahiku adalah seseorang yang selama ini selalu ku sebut di dalam setiap doaku.." lirihnya yang membuat Arta tertawa tetapi air mata terus berlinangan.
Bunda Zizi, kak Ira, Annisa dan juga Syakir terharu mendengar ucapan Risma.
"Hahahaha.. Ternyata.. Pertemuan kita memang sudah ditakdirkan oleh Allah. Gadis yang pertama kali aku lihat ternyata sudah menyukai ku! Masyaallah ya Allah.. Sungguh besar karuniamu.. Hiks.. Risma.." lirihnya dengan segera memeluk Risma dengan erat.
Keduanya tersedu, Risma membalas pelukan Arta dengan tak kalah erat. "Abang beruntung bisa mendapatkan permata indah sepertimu, sayang.." bisik Arta di telinga Risma yang membuat Risma semakin tersedu dan memeluk erat tubuh itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haru-haruan dulu ye?
__ADS_1
Besok baru kita perang dengan madunya Risma, istri pertama Bang Arta ye?