Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Tidak Ikhlas


__ADS_3

"Karena saya tidak mau mendengar gunjingan tentang istri saya oleh keluarga kamu! Karena saat pernikahan nanti, saya akan mengundang seluruh keluarga kamu untuk memeriahkan acara pernikahan saya dan Risma! Dan saya akan mengumumkan pada seluruh dunia. Jika istri sah dokter Artafaris hanya satu. Yaitu Risma Handayani! Bukan kamu, Faradilla Hermawan!"


Ddduuuaaarrrr!!!


Dilla tersentak mendengarnya. Mata itu kembali berkaca-kaca saat Arta mengatakan penolakan dirinya untuk yang kesekian kalinya.


Lagi dan lagi Dilla mendapatkan penolakan dari Arta. Jika di bilang malu, Dilla sangatlah malu saat ini. Tetapi karena keinginananya untuk membawa Arta ke rumah orang tuanya agar dirinya tidak malu, ia terpaksa menjadi muka tembok walau hatinya sangat sakit saat ini.


Dilla menunduk.


"Dengar Dilla. Saya tegaskan sekali lagi tidak bisa menerima pernikahan ini. Saya tidak bisa menerima kamu karena satu sebab dan alasan yang jelas. Kalaupun kamu berubah saya tetap tidak akan menerima kamu. Risma bisa saja meminta saya adil. Saya akan adil pada kamu dan Risma. Tetapi tidak dalam hal hati dan nafkah batin. Saya Tidak bisa!" tegas Arta yang semakin membuat Dilla tersakiti.


Dilla semakin mengeratkan pegangan nya di seprei di ranjang miliknya. Sedang Arta menghela nafas berulang kali.


"Tidurlah, saya akan duduk disini saja." Imbuhnya sambil membenarkan duduknya menghadap ke arah cermin.


Arta bisa melihat jika tubuh Dilla berguncang karena menangis. Istri mana yang sanggup menerima penolakan suaminya sendiri.


Baru saja ingin memulai semuanya, tetapi sudah ditolak secara terang terangan olehnya.

__ADS_1


Dilla menangis tersedu seorang diri. Sementara Arta menundukkan dirinya di kaca rias milik Dilla yang kini memperlihatkan Dilla yang sedang menangis.


Demikian juga dengan Risma, istri Arta itu pun sedang menangis saat ini. Istri mana yang mau di madu? Kalaupan ada ia berusaha tegar karena suaminya.


Inilah yang Risma lakuan saat ini. Sakit hatinya tidak tertahankan. Ia tidak menyangka jika cintanya ternyata sudah memiliki wanita lain sebelum dirinya.


Seandaianya Risma tahu dari awal, pastilah ia tidak akan mau. Tetapi apa yang harus ia perbuat sekarang jika Arta sudah memiliki istri lain selain drinya??


Sakit. Sangat sakit. Bagai di iris sembilu seluruh tubuh dan hatinya. Sagat sesak, rasanya seperti di himpit batu besar di dada nya.


Selesai sholat dan berdoa, Risma tersedu di sajadahnya. Ia meraung sambil memukul dadanya yang begitu sakit.


"Hiks.. Ya Allah sakit.. Lebih baik aku mati dari pada harus tersiksa seperti ini. Kematian lebih baik bagiku daripada harus melihat suamiku berbagi dengan wanita lain.. Aku tidak ikhlas.. Aku tidak ridho.. Hiks.. Tetapi aku harus apa?? Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. Semuanya sudah terlambat. Tidak bisa aku ubah lagi.. Inilah nasib dan takdirku! Ya Allah.. Aku nggakl kuat.. Bantu akuuu..." Risma terus tersedu di sajadahnya seorang diri.


Sakit memikirkan Arta yang kini sedang bersama madunya. Madu yang tidak menginginkannya.


Risma terus tersedu seorang diri di sajadahnya hingga ia kelelahan karena menangis. Ia tidak bisa lagi untuk bangkit dan pindah ke ranjang saking sakit hati dan pikirannya saat ini.


Pukul satu malam, Arta kembali ke kamar nya bersama Risma. Arta terkejut melihat Risma tidur di sajadahnya. Ia segera mendekati Risma yang terlelap tanpa sadar tentang kehadirannya.

__ADS_1


"Sayang.." lirih Arta dengan dada yang teramat sesak.


Bagimana tidak, ia melihat wajah sembab Risma dan mukenah yang ia kenakan basah separuhnya.


Masih tersisa buliran air mata yang masih mengalir disana. Arta menangis. Ia memeluk tubuh ringkih itu dengan terisak.


Sekuat tenaga bertahan di kamar Dilla, ia tetap tidak bisa. Ia tetap menginginkan Risma. Istri dan cintanya.


Arta mengangkat Risma dan membawanya ke ranjang. Ia membuka mukenah Risma dan tidur bersama di ranjang itu dengan memeluk Risma begitu erat.


Air mata Arta mengalir lagi. Ia tidak menyangka, nasib pernikahannya begitu tragis. Istri pertama yang tidak sudi menerimanya kini tiba-tiba kembali disaat ia sudah memiliki istri yang lain.


Dan karena pernikahannya dengan Dilla, kini Risma yang terluka. Arta tahu, jika Risma sangatlah rapuh.


Ia berusaha tegar di depan Arta agar tidak membuat Arta sedih. Tetap saja. Arta tahu itu. Dan malam ini, lagi. Arta melihat Risma menangis setelah malam kemarin saat Risma mengetahui jika Arta sudah memiliki istri selain dirinya.


Arta merasa bersalah saat ini. Seandainya ia tahu akan seperti ini kejadiannya, ia pasti akan membawa Risma jauh dari Dilla.


Tetapi masa depan siapa yang tahu. Bisa saja dulu Dilla menolaknya. Dan sekarang? Ia kembali untuk menuntut hak yang dulu tidak pernah ia inginkan dari Arta.

__ADS_1


__ADS_2