Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Kedatangan Kedua Orang tua Dilla


__ADS_3

"Tuan Hermawan? Benarkah ini?? Saya tidak salah lihat kan ya?" tanya Risma pada lelaki paruh baya yang tersenyum saat melihatnya.


"Iya Nak. Ini saya. Ternyata dunia ini begitu sempit ya? Hingga saya dipertemukan lagi dengan kamu saat ini dirumah suami anak saya." Ucapnya sambil tertawa yang membuat senyum Risma surut seketika.


Wajah itu mendadak datar. Dava yang melihat senyum Risma begitu cerah kini tiba-tiba surut karena ucapan Papa nya, terkekeh sinis melihat Risma.


"Kenapa? Kamu terkejut saat mengetahui jika pria yang kamu tolong ini papa mertua suami kamu?! Cih! Belagak sok suci. Tak tahunya, suami orang pun di embat juga! Dasar pelakor!"


Deg!


"Diam kamu!" sentak Arta dengan rahang mengetat. Ia menatap nyalang pada Dava yang kini terkejut melihat kemarahan Arta karena ucapannya untuk Risma.


"Kenapa kamu yang marah Mas? Kan beneran yang aku bilang kalau Risma ini pela-,'


"Diaaam!!!"


Deg!


Deg!


Dava dan kedua orang tuanya semakin terkejut saat melihat kenmarahan tercetak jelas di wajah Arta.


"Mas! Kamu kok-,"


"Diam Dava!" tegur Papa Hermawan pada putra bungsunya yang kini terlijhat kesal padanya.

__ADS_1


"Tapi Pa-,"


"Diam Madava Hermawan!"


Deg!


"Kamu paham tidak dengan kata diam?!" tekan Papa Hermawan begitu tegas melalui sorot matanya.


Dava langsung kicep. Tidak berani menyanggah lagi. Ia melihat Dilla yang masih mematung di depan pintu rumah Arta.


Papa Hermawan menghela nafasnya. "Duduk dulu, Nak. Kenapa kamu duduk disana? Yang kayak bukan rumah kamu aja sih?" ucapnya terkekeh.


Memang bukan rumah ku, Pa..


Dilla menatap nanar pada kedua oprang tuanya. Ia berjalan pelan dan duduk disamping sang Mama yang kini sedang menunggunya dengan tatapan iba nya.


Arta enoleh pada Papa Hermawan yang kini sednag menunggu jawaban darinya.


"Apa yang tertulis disana itu benar adanya."


"Cih!" dava berdecih sisnis.


"Dava..." tegur papa Hermawan lagi. Lalu ia berlaih menatap Arta. "Tapi kenapa? Kenapa kamu sampai menikah lagi? Bagaimana dengan putri papa? Tidak kah kamu kasihan melihatnya?" imbuhnya dengan suara tenang namun melemah.


Dilla menunduk menahan air matanya.

__ADS_1


Arta terkekeh. "kasihan papa Bilang? Kenapa saya harus kaihan padanya?" Bukannya menjawab tetapi malah memblas dengan pertanayan balik pada papa Hermawan yang membuat pria paruh baya sebaya alamarhum papi Gilang itu keheranan.


"Bukannya Dilla istri kamu? kalau kamu menikah dan membuat acara besar-besaran kenapa kamu hanya Risma? Kenapa dilla tidak kamu buat juga? Ingat Nak. Kamu harus adil!" tegasnya amsih dengan wajah tenangnya walau sebenarnya terselip sendu di dalamnya.


"Adil?" papa hermawan mengangguk.


Arta tertawa sarkas. Tertawa yang mengejutkan semua oranmg karena suara taw itu begitu menyeramkan di tengah malam yang hampir sunyi itu.


"kenapa saya harus berlalku adil kepada wanita yang tidak pernah menganggap saya sebagai suami sejak dua tahun yang lalu?"


Deg!


"Apa maksudmu Mas?!" seru Dava mewakili pertanyaan dari sang papa.


Arta tertawa lagi. Ia menoleh pada Dilla yang kini menunduk dan tidak berani menatapnya dan juga keluarganya.


Wajahanya memerah dengan tubuh bergetar menahan tangis yang sebentar lagi akan keluar. Arta tertawa lagi melihat itu. Suara tawa yang sangat menyeramkan.


"Jawab Nona Dilla!"


Deg!


Ketiga orang itu semakin terkejut dengan panggilan Arta kepada Dilla.


"Saya yang jelaskan? Atau kamu Nona Faradilla Hermawan!"

__ADS_1


Deg!


Deg


__ADS_2