Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Menurut padanya


__ADS_3

Arta benar-benar tertampar dengan ucapan Risma yang baru saja mengingatkannya tentang arti adil terhadap istri dan juga pernikahan.


Bukan salahnya jika ia tidak bisa menerima Dilla. Karena ia tahu seperti apa Dilla sebelum menikahinya.


Baik dan buruk seorang istri itu tergantung perlakuan suaminya.


Jika seorang istri melakukan kesalahan walau sudah menikah dengannya, bukankah sudah menjadi tugasnya untuk membawa istrinya itu ke jalan yang lurus? Bukan dengan cara membiarkan dirinya bergelimang dosa dan dirinya juga ikut berdosa karena tidak mengingatkannya?


DDdduuuuaaaarrrr!!!


Serasa dihantam petir Arta saat ini. Tubuhnya membeku saat menyadari jika ucapan Risma sudah menamparnya dengan telak.

__ADS_1


Ia menatap nanar pada Risma yang saat ini sedang menatapnya dengan serius. Semua yang mendengar Risma pun ikut tertampar.


Seolah mereka juga ikut bersalah karena tidak menegur Arta sama sekali. Tetapi Risma? Gadis kecil yang belum genap dua puluh tahun itu benar-benar menampar Arta, Annisa dan Kak Ira.


Ketiga orang itu tahu hukum tetapi kenapa malah diam saja saat Arta melakukan kesalahan seperti itu?


Annisa terisak. Begitupun dengan Kak Ira. Arta memejamkan matanya. Air mata ketiga orang itu beruraian dengan lafadh istighfar berulang kali mengalun lembut di telinga semua orang.


Ia menggelengkan kepalanya. "Maaf sayang, Abang nggak bisa melakukan itu. Oke, nafkah lahir akan abang lakukan. Dan juga aku akan membawanya ke jalan yang lurus sampai ia benar-benar berubah. Tetapi tidak hak seorang istri. Karena sejak pertama kami menikah, dia tidak menginginkan itu. Dan aku menghormatinya. Lagi pun, aku tidak mungkin menyirami ladang yang bukan milikku.."


DDddduuuuaaarrrr..!!

__ADS_1


Semua orang terkejut, termasuk Risma. "Apa maksud Abang?" tanya Risma pada Arta


Arta menggeleng, ai tidak ingin menjawab lebih lanjut dan menceritakan aibnya sendiri.


"Bang Arta??"


"Nggak Ris. Nggak bisa! Abang akan menuruti semua perkataan mu. Tetapi tidak untuk menggaulinya. Karena hal itu yang tidak bisa Abang lakukan padanya. Cukup Abang saja yang tahu. Baik, Abang akan melakukan apa yang kamu katakan. Membawanya kejalan yang lurus hingga dirinya berubah. Nafkah lahirnya akan Abang penuhi walau ia tidak menginginkannya. Tetapi tidak untuk hak nya. Abang tahu jika Abang berdosa. Tetapi Abang memiliki alasan jika Abang tiak bisa menggaulinya sama seperti Abang menggauli kamu. Cukup, Ris! Cukup!" tegas Arta pada Risma yang membuat Risma semakin keheranan dengan sikapnya itu.


Aku akan tetap memaksa mu Bang Arta. Tetapi aku harus tahu dulu apa masalahnya. Setelah aku tahu, baru aku akan membujukmu. Berdosa bagi seorang suami yang tidak memberikan hak dan juga seorang istri berdosa karena tidak memberikan haknya. Aku akan cari tahu sendiri.


Aku yakin, jika kamu pasti akan menuruti perkataan ku. Karena semua ini demi kebaikan bersama.

__ADS_1


Walau ku tahu sulit rasanya berbagi suami. Tetapi aku tetap harus ikhlas dan berusaha lebih kuat lagi berlapang hati dan menerima takdirku. Jika sebenarnya aku bukanlah yang pertama, melainkan yang kedua. Batin Risma menatap sendu pada Arta yang kini juga menatapnya dengan sendu.


__ADS_2