
Arta masih menatap ketiga orang itu yang terdiam. Risma belum bisa berbicara karena tangannya sedang di genggam erat oleh Arta pertanda jika dirinya tidak boleh berbicara selagi ia yang berbicara.
Arta baru melepaskan tangannya dari risma saat melihat keluarga Dilla sudah tidak ada pembelaan lagi untuk putri tersayang mereka.
"Kalian tahu? Bahkan Risma menerima Dilla untuk menjadi madunya. Dan saya dipaksa adil walau saya tidak bisa berlaku adil terhadapnya yang tidak pernah adil terhadap saya!"
Deg!
Ketiganya mendongak melihat Arta lagi.
"Saya terpaksa menerima Dilla karena keputusan Risma. Risma, istri yang baru saya nikahi seminggu ini bisa berbuat baik dengan cara menerima Dilla. Tetapi apa yang putri anda lakukan papa mertua?"
Papa Hermawan menatap datar pada arta. Begitu pun dengan Dava adik Dilla.
"Dia menolak kehadiran Risma menjadi istri saya dan juga hanya ingin memiliki saya sendiri! Buat apa? Ingin jadikan saya patung dihadapan keluarga kalian?"
Deg!
"Dan juga Ingin menjadikan saya suami status ketika diluar dan dirumah saja? Sedang dirinya bebas pergi dan keluar masuk hotel bersama pemuda lain??'
Deg!
Deg!
Papa Hermawan memejamkan matanya dengan rahang mengetat lagi. Tangannya terkepal erat saat sang putri kesayangan selalu dihina dan direndahkan oleh Arta di depannya.
Ia ingin membantah.
"Jangan salahkan saya jika saya terpaksa membuka aib kamu Dilla! Selama ini saya selalu menutupi aib kamu yang selalu tidur dan berhubungan badan dengan berbagai macam pria. Tidakkah kamu takut jika alat mereka itu bisa menularkan penyakit mematikan padamu??"
__ADS_1
DDDuuuuaaarrr!!
"Apa?!" pekik Mama nya Dilla. Dilla tidak berani melihat ke semua orang. Ia menunduk menyembunyikan wajah takutnya pada sang papa.
"Astaghfirullahal'adhim.." lirih Risma segera memegang tangan Arta agar bersabar dan tidak membuka aib Dilla terlalu dalam lagi.
"Bagaimana caranya saya ingin berhubungan badan dengannya sedang saya sudah di ikat dengan janji pranikah itu. Maksud hati ingin meluruskan saya terpaksa membiarkan Dilla melakukan hal yang dia inginkan tanpa sepengetahuan kalian semua."
"Lihat tubuhnya saat ini. Tidakkah kalian perhatikan jika Dilla sekarang semakin kurus? Berbeda dari dua tahun yang lalu saat ia menikah dengan saya?" ucap Arta yang langsung di tatap oleh papa Hermawan.
Benar, apa yang Arta katakan memang benar adanya.
"Lebih baik kalian membawa Dilla kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya selama dua tahun ini. Saya takut, jika Dilla sudah terserang Virus AIDS!"
Ddduuaaarr!!
Risma yang melihat Dilla merasa kasihan. Ia yang baru tahu bukti-bukti tentang kelakuan Dilla sangat shock. Walau begitu, Risma tetap menekankan pada Arta.
Jika ia tetap harus berlaku adil pada keduanya. "Sudah Bang. Jangan membuat Mbak Dilla takut." Ucapnya sambil mengelus lembut lengan Arta. Yang membuat dokter bedah itu melengos ke arah lain.
Kini ia beralih menatap kedua orang tua Dilla dan juga Dava. Seseorang yang pernah singgah di masa lalunya.
Namun, Risma memilih mundur saat mama nya Dava mengatakan jika dirinya gadis hina dan rendahan bahkan tidak pantas bersanding dengan putranya.
"Maafkan ucapan bang Arta tuan Hermawan. Saya tidak tahu jika Mbak Dilla ini putri kalian karen bang Arta sendiri tidak bercerita sama saya. Dan ya, saya sebagai istri kedua Bang Arta tidak pernah mempermasalahkan pernikahan mereka. Toh, keduanya sudah lebih dulu menikah dari pada saya kan?"
"Maka dari itu, saya sudah mengatakan pada Bang Arta untuk berlaku adil dan menganggap Mbak Dilla istrinya juga sama seperti saya. Saya tahu diri ini rendah dan hina. Tidak sesuai dengan putri kesayangan kalian. Saya hanya sedang menjalankan peran istri disini. Jika Mbak Dilla menerima, Alhamdulillah. Jika tidak pun ia yang berdosa. Bukan saya. Karena tugas saya sebagai seorang istri sudah mengingatkan mereka berdua." Imbuh Risma yang disambut keterdiaman mereka semua.
Yanti dan Farhan menarik ujung bibirnya. Mereka sangat bangga dengan ucapan Risma.
__ADS_1
"Saya pun sudah memutuskan. Jika hari dan waktu kami akan dibagi rata. Jika Mbak Dilla tidak mau, maka dia yang berdosa. Posisi nya saat ini istri pertama. Seharusnya Mbak Dilla yang harus mengajarkan saya. Tetapi tak apa. Saya ikhlas, karena ini memang tugas saya."
"Dan untuk kamu Bang Arta. Lakukan tugasmu sebagai seorang suami. Berlaku adil lah kamu kepada kami berdua dengan cara yang sudah ditetapkan. Ya?" lanjutnya lagi yang dibalas gelengan kepala oleh Arta.
"Nggak bisa Ris. Abang tidak bisa berlaku adil padanya. Abang tidak ingin menzolimi nya. Lebih baik Abang kembalikan kepada kedua orang tuanya daripada ia tersiksa."
Deg!
"Bang Arta!" seru Risma dengan suara naik satu oktaf saat mendengar penolakan Arta terhadap Dilla.
Risma terpaksa melakukannya.
Ketiga orang itu yang tadinya ingin membantah, tidak jadi. Lantaran kalah cepat dari Risma.
Arta menatap sendu pada Risma yang kini menatapnya dengan tegas.
"Lakukan Bang Arta!"
"Nggak bisa sayang.. Abang nggak bisa!" tegas Arta menjawab ucapan Risma.
"Apa yang kamu tidak bisa? Apakah karena tubuhnya sudah terlalu kotor hingga kamu tidak ingin menyentuhnya begitu??!"
Deg!
Dilla terpaku mendengar ucapan Risma. Begitu pun ke tiga orang itu.
"Salah satunya itu. Abang tidak mau terjangkit penyakit yang sama sepertinya dan akan menularkannya kepada mu. Dan yang kedua, cintaku tidak bisa di bagi. Yang ketiga, aku hanya ingin kamu satu-satunya yang menjadi istriku. Ke empat, aku ingin mengembalikan Dilla pada kedua orang tuanya karena tidak ingin berlaku zolim padanya. Apakah kamu ingin suami kamu ini berlaku zolim terhadap wanita lain?? Jika itu keinginan mu, baik. Aakan aku lakukan! Tapi jangan salahkan aku jika nantinya salah satu dari kalian terluka!"
Deg!
__ADS_1