
"Salah satunya itu. Abang tidak mau terjangkit penyakit yang sama sepertinya dan akan menularkannya kepada mu. Dan yang kedua, cintaku tidak bisa di bagi. Yang ketiga, aku hanya ingin kamu satu-satunya yang menjadi istriku. Ke empat, aku ingin mengembalikan Dilla pada kedua orang tuanya karena tidak ingin berlaku zolim padanya. Apakah kamu ingin suami kamu ini berlaku zolim terhadap wanita lain?? Jika itu keinginan mu, baik. Akan aku lakukan! Tapi jangan salahkan aku jika nantinya salah satu dari kalian terluka!"
Deg!
Deg!
Deg!
Risma terkulai lemas saat Arta mengatakan hal itu.
Terluka.
Satu kata yang sangat ia takutkan tetapi akan terjadi jika keduanya disatukan di dalam biduk rumah tangga mereka.
Wajah Risma seketika memucat saat Arta menatapnya dengan dingin dan datar.
"Apakah itu yang kamu inginkan sayang? Kamu ingin Abang selalu menyakiti persaaan mu? Jujur! Apakah ketika kami bersama di dalam kamar yang sama kamu tidak mersakan sakit hati, sayang? Tidakkah kamu cemburu sama sekali karena melihat suami mu harus tidur atau bahkan berbagi keringat dengan madu mu??" tanya Arta menatap lekat pada Risma yang kini berwajah pucat.
Deg, deg, deg..
Jantung Risma berdetak tidak karuan. Wajah itu pias seketika. Seakan Arta tau apa yang terjadi kepadanya hingga saat ini karena rasa sakit dihati dan pikirannya.
"Jawab sayang. Apakah kamu rela hidup di madu bersama Dilla? Apakah kamu sanggup berbagi suami? Kalau Abang sendiri, Abang tidak mau berbagi dengannya dalam segala hal. Karena hati, tubuh dan pikiran ini hanyalah milikmu seorang. Jika Abang berbagi, maka hati ini serasa seperti menghianati kamu." Ujar Arta lagi yang diangguki oleh Yanti dan Farhan.
Sementara Risma wajahnya semakin memucat dan kedua tangan nya bergetar hingga sangat dingin.
Arta memegangi tangan halus itu dengan lembut yang membuat dirinya terkesiap saat Arta mengecup keningnya dihadapan semua orang.
"Diamnya kamu itu tandanya kamu tidak rela jika kamu di madu. Tidak ada perempuan di muka bumi yang rela di madu. Ada. Hanya orang pilihan saja yang bisa. Walaupun ia bisa di madu pasti ada rasa sakit yang terembunyi di dalam hatinya melihat kebersamaan madu dan suaminya. Abang sendiri tidak mau memadukan kamu dengan Dilla. Karena cinta dan hati ini hanya milikmu." Imbuhnya yang disambut derai air mata Risma di kedua pipinya.
Risma menangis dalam diam. Mata itu terus menatap pada Arta yang kini menatapnya dengan lembut.
Apa kabar dengan ketiga orang itu?
Ketiganya terpaku ditempat melihat kemesraan Arta dan Risma. Mereka bertiga sakit hati dengan perbuatan Arta yang mengabaikan Dilla.
__ADS_1
Tetapi mereka tidak bisa berkutik saat rekaman cctv di dalam hotel Arta dulu saat mereka di grebek, Farhan kirimkan ke ponsel Papa Hermawan.
Bukan itu saja. Rekaman cctv saat Dilla membawa masuk lelaki lain ke dalam rumahnya dan Arta juga ada.
Serta aktivitas panas Dilla dengan berbagai macam Pria terlihat jelas disana. Dilla melakukan hubungan terlarang dengan lelaki muda sebaya Dava, adiknya.
Papa Hermawan yang melihat itu terdiam terpaku ditempat. Ia menatap nanar pada Dilla yang kini semakin menundukkan dirinya tidak ingin melihat sang papa yang begitu kecewa padanya.
Arta sebenarnya kasihan melihat Papa Mertua nya itu. Tetapi ia tidak bisa berlama-lama menyembunyikan permasalahan nya dengan Dilla.
Karena ia ingin melepaskan wanita itu secepatnya.
"Maafkan saya, papa.. Saya terpaksa membuka aib Dilla kepada Anda. Karena saya tidak ingin, kalian menuduh Risma sebagai seorang perempuan perebut suami orang. Risma tidak bersalah dalam hal ini. Ia hanya korban. Tetapi saya tidak mesti harus menceritakan semuanya kepada anda. Yang harus saya katakan sekarang ialah.. Maafkan saya jika saya harus mengembalikan Dilla kepada Anda."
Deg!
Deg!
Dilla mematung.
"Maaf sayang, keputusan abang sudah Final dan tidak bisa di ganggu gugat termasuk itu kamu."
"Tapi bang. Mbak Dilla itu sedang sakit."
"Abang nggak peduli. Dia sakit karena dirinya sendiri yang suka berganti-ganti pasangan. Bukan karena aku menyuruhnya." Jawab Arta yang membuat Risma semakin tidak enak dengan ke empat orang itu yang kini menatapnya dengan datar.
"Bang.. Kasihanilah Mbak Dilla. Kamu tidak boleh melepasnya begitu saja. Dia sedang sakit loh.. Mungkin dia tidak menyadari karena dia menganggap penyakit itu bukan hal serius. Tapi ini? Penyakit itu penyakit mematikan. Tolong bang. Dengarkan saran dariku. Maaf jika aku berkata seperti ini."
Risma menegakkan tubuh lemasnya di sandaran sofa yang berhadapan dengan ke empat orang itu.
"Maaf bang. Menurutku, kamu juga bersalah dalam hal ini. Kamu ikut andil karena tidak melarang Mbak Dilla berhubungan dengan pemuda lain di luar sana karena terikat dengan perjanjian itu. Padahal kamu itu suami sah nya. Sebagai seorang suami, kamu berhak menegurnya bahkan mencambuknya jika ia tidak mendengar mu. Hukuman bagi seorang istri durhaka kepada suaminya itu ada."
"Maaf jika aku terpaksa mengatakan hal ini. Segala permasalahan ini harus tuntas. Kamu harus bertanggung jawab dengan sakitnya Mbak Dilla. Obati dirinya sampai sembuh, setelah itu baru kamu bisa mengembalikannya kepada kedua orang tuanya. Sebagaimana dulunya kamu mengambilnya dengan keadaan baik, maka kamu kembalikan pun dalam keadaan baik."
"Jika kamu mengembalikannya sekarang, apakah kamu mau di cap sebagai suami habis manis sepah dibuang?"
__ADS_1
"Sayang.."
"Ini kenyataan bang. Walau kamu tidak menggaulinya ataupun memberikan nafkah karena penolakan darinya, tetap saja kamu yang dipandang buruk oleh keluarganya serta masyarakat. Karena kamu dengan tega membuang istrimu yang dalam keadaan sakit karena sudah menikah dengan diriku yang sehat ini."
Arta menghela nafasnya.
"Keputusan final kamu, aku yang ambil alih.Jjangan kembalikan Mbak Dilla sebelum ia sembuh. Obati dirinya sampai sembuh sebagai bentuk rasa tanggung jawab yang tidak pernah kamu lakukan padanya. Setelah ia sembuh, kamu bisa mengembalikannya kepada kedua orang tuanya seperti kamu dulu mengambilnya."
"....Dan jika suatu saat takdir berkata lain.. Maka itulah takdirnya. Kamu bisa kan Bang Arta??" Arta terdiam tanpa kata.
Ingin menolak tapi apa yang Risma katakan ini benar adanya. Ia menghembuskan nafas berat dan panjang. kemudian mengangguk dan tersenyum melihat Risma.
"Ya, Abang setuju." Jawabnya
Risma tersenyum senang. "Terimaksih bang.."
"Sama-sama sayang. Semua ini Abang lakukan demi kamu."
Risma sangat senang mendengar persetujuan Arta. Keputusan Final yang dibuat Arta diambil alih oleh Risma yang membuat ke empat orang itu lagi dan lagi tertegun, tergugu dan tidak tahu harus berkata apa karena gadis yang mereka kira hina dan tidak pantas bersama Arta ternyata lebih baik dari putri kandungnya sendiri.
Yaitu Faradilla yang tega membohongi mereka semua.
...****************...
...Besok pagi othor akan terbitkan karya baru lagi. Kisah ini tentang anak Annisa. Tania, dan kedua saudara kembarnya....
...~ Princess Pratama ( Tania )...
...~ Dua hati satu Cinta ( Almaira dan Alzana )...
...~ Terpaksa menikahi sepupu ( Prince Arryan dan Almaira )...
...Jangan lupa ikutin ye?...
...Othor tunggu kalian disana untuk meninggalkan jejak....
__ADS_1
...See you...😘😘...