
Acara itu berlangsung dengan khidmat. Semuanya bersuka cita. Arta dan Risma begitu bahagia jika semua yang hadir ikut mendoakan anak pertama mereka.
Dari kejauhan sana diluar pagar rumah Arta, terlihat dua orang lelaki dan perempuan yang kini menatap rumah Risma dengan tatapan sendunya.
Mereka tidak berani untuk masuk, mengingat kesalahan yang mereka perbuat untuk Risma selama Risma tinggal bersama mereka.
Keduanya hanya menatap nanar dimana Arta sedang mengelilingi semua orang untuk mendoakan kedua bayi kembarnya.
Karena tidak ingin ketahuan, keduanya segera pergi darisana. Mereka hanya hidup berdua setelah kemarin, kedua orang tuanya ditahan karena kasus penipuan yang dilaporkan oleh dua orang lelaki yang di tipu oleh kedua orang tuanya.
Kini mereka berdua hanya hidup dengan uang kiriman Arta saja setiap bulannya. Ya, Arta tidak melupakan janjinya. Yang mana ia akan membiayai kuliah serta kehidupan keduanya.
Uang hasil tipuan itu sudah diambil oleh pihak kepolisian sebagai barang bukti yang sah. Risma sendiri sebagai saksi. Arta sudah tahu itu. Karena dirinya langsung yang berbicara dengan pihak kepolisian.
Semuanya sudah normal dan kembali ke tempatnya masing-masing. Keluarga Risma sudah mendapatkan ganjarannya.
Kini mereka sudah bahagia. Tanpa ada lagi yang menjadi permasalahannya.
*
*
*
Malam harinya.
Selepas acara aqiqahan itu, kini Arta dan Risma sedang berada di balkon kamar mereka berdua. Keduanya sedang menikmati makan malam bersama sambil tertawa.
Arta selalu saja berhasil membuat Risma tertawa dengan lelucon renyahnya. Bunda Zizi yang tidak jauh berada dari mereka tersenyum.
"Akhirnya.. Selesai juga masalah mereka ya bunda?" ucap Kak Annisa membuka suara
__ADS_1
"Benar. Semua masalah sudah selesai sekarang ini. Dimulai dari rahim Risma yang menjadi rebutan berakhir dengan Dilla yang membuat rusuh keduanya, kini mereka sudah bahagia."
"Setiap masalah itu ada jalan keluarnya Bunda. Kita hanya perlu bersabar untuk menghadapinya. Berdoa dan berusaha itu jalannya. Seperti yang kakak bilang dulu pada Arta tentang Dilla.
Sabar.
Allah itu sedang mengujinya dengan cara Dilla datang meminta hak dan kewajiban yang sama seperti Risma. Jika Arta saat itu gegabah dan menceraikannya. Pastilah Arta akan menyesal saat ini karena ia melepaskan Dilla dalam keadaan yang masih kotor dan bergelimang dosa.
Tidak perlu tegang urat untuk menghadapinya. Cukup dengan tutur bahasa yang lembut untuk meluluhkannya. Terbuktikan? Dilla akhirnya jatuh cinta juga sama Arta?" ujar Kak Annisa yang diangguki Bunda Zizi.
"Iya sih. Tapi kamu tahulah kak. Dasar adik kamu itu selalu ketus saat berbicara. Kadang bunda merasa heran degannya. Ayah saja tidak seperti itu. Kenapa pula Arta menjadi ketus seperti itu!"
Kak Annisa tertawa. "Arta tidak mengikuti ayah, bunda. Adikku itu mengikuti Bunda! Ups!"
Kak Annisa menutup mulutnya melihat wajah bunda Zizi yang kini menatapnya dengan kesal.
"Iya, Arta ikut bunda!" ketusnya kemudian yang ditertawakan oleh kak Annisa.
Suara tawa itu membuat sepasang suami istri pun ikut terekeh karena lucu melihat kedua orang itu.
"Alhamdulillah ya Bang? Semua masalah kita sudah selesai?"
"Hem.. Benar kata kak Annisa. Setiap masalah itu ada jalan keluarnya. Dan setiap kesulitan itu ada kemudahan. Allah kasih jalan kok. Hanya saja kadangnya Abang tidak sabaran!"
Arta tergelak. Risma terkekeh kecil.
"Benar sekali. Seandainya waktu itu Abang melepas Mbak Dilla begitu saja, pastilah Abang akan menyesal saat ini."
"Itu tidak mungkin terjadi Buna.. Ayah akui jika Bunda Dilla itu memanglah jahat karena sudah bergonta ganti pasangan. Sebenarnya bunda Dilla wanita yang baik kok. Dia hanya salah jalan saja.." lirih Arta mendadak sendu.
Risma memegang kedua tangan Arta. "Tapi aku senang. Akhirnya disisa hidup Mbak Dilla, Abang bisa mencintainya." Ucapnya begitu senang dengan senyum indah terukir di bibirnya.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada Risma. Yang jelas, ia malah menyukai jika Arta sudah mencintai madunya. Walau sudah terlambat sih.
Arta terkekeh, "kamu tidak cemburu?"
Risma menggeleng. "Nggak.. Mbak Dilla itu kakak ku. Untuk apa aku cemburu. Aku menyayanginya sepenuh hatiku. Aku sudah menerimanya menjadi maduku. Tetapi disaat aku menerimanya, dia malah pergi untuk selamanya.." lirih Risma terisak.
Arta segera memeuknya. "Itulah yang dinamakan takdir sayang. Allah mengirim Dilla pada Abang agar bisa menuntunnya. Tetapi karena Abang tidak paham, Dilla malah semakin menjadi. Dan siapa sangka, saat Dilla menjadi malah Allah mengirim mu untuk Abang. Mengirim mu untuk kami berdua yang tersesat. Terimakasih sayang. Kamu sudah membuat kami berdua sadar akan posisi, hak dan kewajiban kami. Abang beruntung memiliki kalian berdua. Semoga kalian berdua bisa mendampingi Abang hingga ke surga Nya Allah kelak."
"Amiinn.. Aku pun demikian. Walau ada sisi hatiku yang tercubit karena mengingatnya. Tetap saja itu tidak mengurangi rasa sayang, cinta dan baktiku terhadap kalian berdua. Aku menyayangi Mbak Dilla. Dan aku sangat mencintaimu, suamiku. Ayah dari anak-anakku. Mari kita bersama membangun rumah tangga ini menjadi rumah tangga sakinah.. Mawaddah dan warohmah.."
"Amin.. Sayang.. Kalau bisa, setelah ini kita produksi lagi ya?" goda Arta pada Risma yang kini mengurai paksa pelukannya.
Mendadak wajah Risma menekuk kesal. "Iya, dibuat hamil kemudian di rebut lagi, begitu?! Satu aja pusing rahimnya jadi rebutan? Mau dua kali direbut lagi?? Ogah ah! Lain kali, kalau mau mencetak penerus itu, Abang lihat sikon dulu! Agar tidak terulang hal yang seperti ini lagi.
Masa iya Abang yang cetak malah jadi rebutan pria lain sih ketika aku hamil lagi nantinya? Yang benar saja aku bisa melayani tiga pria sekaligus dalam satu malam?! Satu aja udah tepar sampai sore akunya!"
Buahahaha
Arta tertawa keras saat mendengar ucapan Risma yang memang benar adanya. Bunda Zizi dan Kak Annisa pun ikut tertawa mendengarnya.
Mereka saat ini sudah bahagia. Semoga tidak ada lagi rahim rebutan berikutnya yang terjadi kepada penerus mereka.
Eh?
...TAMAT...
...****************...
Hehehe..
Beneran tamat ye?
__ADS_1
Silahkan mampir di karya othor yang lainnya.