Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Bukan Pelakor


__ADS_3

Arta melihat Risma yang tidak ingin melihatnya sama sekali. Risma terus saja menunduk tidak ingin melihat pada semua orang yang kini menatapnya karena Arta saat ini sudah duduk berlutut dihadapannya masih dengan menggenakan kain sarung.


"Dengarkan Abang, Risma." Ucap Arta sembari menggamit tangan halus Risma yng kini bergetar.


Arta menggenggam tangan halus yang tadi malam itu memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kamu tetap istriku satu-satunya. Walau Dilla pernah kunikahi, tetapi ia sendiri yang tidak menerimaku untuk menjadi suaminya. Aku tahu jika diri ini berdosa karena tidak memberi nafkah padanya. Tetapi ia sendiri yang menginginkan hal ini. Aku ingin menafkahinya dan mencoba menerimanya. Tetapi karena sebuah fakta yang tidak bisa membuatku untuk menerimanya, aku terpaksa untuk menrima pernikahan kami. Aku tidak bisa menceritakan hal ini kepada kalian, karena ini merupakan aib bagi nya. Berdosa bagiku jika membuka aib istriku sendiri."


Risma semakin bergetar kedua tangannya. Kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui ternyata ia menikahi suami orang.


"Dengar Ris. Jangan merasa bersalah. Kamu bukan pelakor. Kamu tidak merebutku dari nya. Aku memilihmu karena aku memang sudah berniat mencari istri yang sesungguhnya. Tidak seperti Dilla yang tidak ingin terikat dengan pernikahan. Walau ia sudah menikah, ia tetap ingin hidup bebas seperti kebiasaannya. Abang mencari seorang istri yang bisa mengurus segala keperluan Abang. Yang bisa membuat jiwa ku tenang. Yang bisa membuat hidupku bahagia setiap kali pulang dari bekerja bukan yang hanya datang dan pergi sesuka hati tanpa berkabar."

__ADS_1


"Maka Dari itu, Abang memilihmu untuk menjadi istriku yang sesungguhnya. Maaf.. Kamu baru tahunya sekarang. Bukan maksudku untuk membohongimu. Kamu tahu sendiri kan? Kalau pernikahan kita itu dadakan? Dan juga tadi malam kamu itu dalam pengaruh obat?" ucap Arta keceplosan yang membuat Bunda Zizi dan Annisa saling menegakkan tubuhnya.


"Apa maksud kamu kalau Risma dalam pengaruh obat? Pengaruh obat apa? Obat peransang kah?"


Deg!


Deg!


Keduanya terkejut bukan main saat pertanyan itu lolos dari mulut Annisa. Arta dan Risma saling tatapan dengan wajah yang terkejut karena menyadari jika Arta sudah keceplosan.


Risma menunduk dengan wajah merona. Walau ia sedang menangis gadis kecil yang sudah berubah menjadi wanita itu sangat malu bila mengingat hal yang baru pertama kali keduanya rasakan.

__ADS_1


Annisa yang tahu jika tebakannya itu benar, tertawa terbahak-bahak. Di ikuti Bunda Zizi dan Kak Ira.


Syakir pura-pura tidak mendengarnya. Ia tahu apa yang dimaksud oleh mereka semua. Karena ia pun sudah dewasa saat ini dan sudah sangat cocok untuk meinkah, tetapi apalah daya, jika jodohnya itu belum terlihat hilalnya.


Annisa dan Kak Ira terus saja tertawa. Sedang kediua pengantin baru itu menjadi malu karena sudah ketahuan.


Bram, Tami dan santi hanya bisa menatap nanar pada Risma yang kini menunduk dengan wajah memerah.


Mereka bertiga bisa menebaknya jika Risma pasti diberikan obat itu oleh kedua orang tua mereka yang membuat keduanya semakin merasa bersalah terhadap Risma, adik sepupunya.


"Bagaimana? Hem?" goda Annisa yang dihadiahi tepukan maut oleh Kak Ira.

__ADS_1


Annisa tertawa lagi. Arta dan Risma semakin malu. Seumur hidup baru pertama kali merasakannya malah ketahuan oleh keluarga karena mulutnya yang keceplosan.


Arta berdehem untuk menghilangkan rasa malunya. "Kakak yang kayak nggak pernah aja sama Bang Tama. Padahal dialah yang lebih tahu hingga brojol tuh anggota hingga enam orang. Apa salah jika melakukannya dengan istri sendiri? Kalau dengan wanita lain baru salah kan?" Ucap Arta membuat semua yang tertawa berhenti dari tertawa mereka."


__ADS_2