
"Karena itulah Abang tidak ingin menerimanya. Karena dia wanita egois! Wanita yang hanya ingin menguasai diriku seorang diri. Inikah yang ingin kamu bela Risma?? Wanita ini yang ingin kamu Bela? Wanita yang tidak punya urat malu?? Cih! Sampai kapan pun aku tidak akan mau menerimanya untuk menjadi istriku! Kamu satu-satunya istriku. Sekarang dan selamanya!"
Deg!
Deg!
Risma dan Dilla sama-sama saling menatap dengan tatapan yang entah seperti apa.
Jika Risma dengan tatapan teduhnya. Sedang Dilla dengan tatapan semakin membenci Risma.
Risma tersenyum melihatnya dan melirik Arta. "Abang tidak bisa menolaknya. Bagaimana pun, Mbak Dilla tetaplah istri kamu, Bang Arta. Sejahat dan seburuk apapun dia terhadapku, dia tetaplah istri pertama kamu yang harus kamu beri hak yang sama padanya. Kamu tidak bisa engingkari itu bang Arta! Ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar, lambungku sudah perih sekarang ini.." lirih Risma lagi yang memang benar adanya.
Arta menghela nafasnya. Ia segera berlalu ke kotak obat yang terletak di lemari dapur. Disana ia mengambil salah satu obat untuk meredakan nyeri lambung yang Risma alami.
Semua gerak gerik Arta tidak luput dari perhatian Dilla yang saat ini menatap sayu pada tubuh kekar yang berulang kali menolak kehadirannya.
__ADS_1
Kenapa kamu begitu membenciku Arta? Salahkah aku dulunya menolakmu dengan perjanjian pranikah itu? Tetapi aku punya alasan untuk itu.. Lirihnya dalam hati dengan dada yang sesak.
Ia menatap nanar pada Arta yang begitu perhatian pada Risma.
Ia menyuruh Yanti untuk bergeser ke sebelah Dilla, dan ia yang duduk di sebelah Risma. Piring nasi punya nya tadi Yanti berikan padanya.
Karena seperti yang ia katakan tadi, tidak mungkin ia membuang makanan hanya karena membenci Dilla.
Mereka semua kembali makan malam yang sudah kelamaan itu dalam diam. Dilla terus saja melihat Risma dan Arta yang saling makan dengan saling menyuapi.
Lagi pun, ia tidak ingin mencari masalah dengan Arta yang saat ini sudah membencinya dar pertama pertemuan mereka.
Maka dari itu ia lebih memilih diam. Mata itu berkaca-kaca. Ia menunduk menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menyergap hatinya saat ini.
Setelah selesai, kini mereka masih duduk di tempat yang sama. Risma menoleh pada Arta dan menggenggam tangannya di bawah meja sana.
__ADS_1
Ia tersenyum dan melihat Dilla. "Dengarkan aku Mbak Dilla. Tak apa jika kamu menolakku saat ini. Aku yakin suatu saat, kamu pasti menerima diriku. Aku tidak pernah bermaksud merebut bang Arta dari kamu. Pernikahan kami pun sangat mendadak hingga berujung seperti ini. Aku tidak mempermasalahkan jika suamiku memiliki istri lain dari diriku. Aku tidak bisa menolak takdir dan kenyataan yang saat ini ada dihadapan ku." Risma melihat Arta yang berwajah datar pada mereka semua.
Risma tahu, jika Arta tidak menyukai ucapannya yang sekarang dan selanjutnya yang akan ia katakan.
"Bang Arta.. Malam ini kamu bersama Mbak Dilla ya? Kamu harus bisa berlaku adil sama kami. JIka selama dua hari ini kamu bersama ku, maka dua hari ke depan kamu bersama Mbak Dilla." Risma menutup mulut Arta dengan satu jari saat ia ingin Protes dengan ucapannya.
"Aku tidak apa-apa Abang. Mengertilah posisiku. Aku harus bisa merelakan suamiku dengan istrinya yang lain. Tolong, biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri yang baik dan patuh terhadap perintah Allah. Salah dan berdosa bagiku jika aku tidak mengingatkanmu. Ya?" ucapnya pada Arta yang ditanggapi dengan wajah yang semakin dingin dan segera berlalu meninggalkan mereka semua yang mematung melihat kepergiannya.
Melihat Arta pergi, Dilla pun ikut pergi. Risma tersenyum sendu. Yanti yang berada di depannya memegang erat tangan Risma.
"Kamu wanita hebat, Dek. Sangat sulit bagi seorang wanita bisa berbagi. Tetapi kamu dengan ikhlas berbagi suami dengan nenek lampir itu. Jika wanita lain, belum tentu bisa melkaukan hal ini. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunianya kepadamu, sayang.." ucap Yanti dengan mata berkaca-kaca.
Risma tersenyum lembut padanya. "Sudah menjadi tugasku, Mbak. Salah aku jika tidak mengingatkannya. Karena suatu saat nanti, aku juga akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak."
Ya allah.. Sungguh mulia hati hamba mu yang satu ini. Semoga kehidupannya setelah ini bisa bahagia selamanya tanpa ada siapa pun yang mengganggunya.. Lirih Yanti di dalam hati.
__ADS_1