Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Tidak salah?


__ADS_3

"Duduk dulu Tuan. Tenangkan diri anda. Sebaiknay segera hubungi mereka berdua. Kabarkan tentang kelahiran anak anda padanya. Dan saya akan segera mengurus segala sesutunya termasuk tes DNA kedua putri Anda." ucap Farhan yang diangguki oleh arta.


Semua dokter dan perawat yang ada di dalam ruang bersalin itu sunyi senyap seketika saat melihat wajah Arta yang mendadak datar dan dingin.


Sosok dokter Arta sangat ditakuti dan di segani dirumah sakit itu. Arta akan bersikap baik pada orang yang mau mengikuti peraturan ketika berobat padanya.


Tetapi jika tidak, Arta tidak segan-segan mengusirnya. Dan tidak mengizinkan orang itu untuk berobat lagi padanya jika pasiennya itu sangat keras kepala dan tidak mau mendengar perintahnya.


Arta merupakan seorang dokter bedah muda yang saat ini sednag naik daun dirumah sakit itu. Kabar tentang Arta yang memiliki istri dua pun sudah terdengar oleh mereka semua.


Maka dari itu, mereka tidak berani berkata appaun saat ini. Sebab, mereka sangat mengenal siapa Artafariz sebenarnya.


Sebelum ia menghubungi kedua orang itu, ia lebih dulu menghubungi bunda Zizi dan juga Abang sulungnya.


Mereka sangat bahagia mendengar jika Risma sudah melahirkan. Mereka secepat mungkin untuk pergi kerumah sakit.


Sedangkan Kak Ira dan Annisa, saat ini sudah berada dirumah sakit. Keduanya sedang menunggu Risma untuk dibawa keruang rawat inap.


Arta segera menghubungi kedua lelaki itu.


"Datang ke rumah sakit Kasih Bunda. Istri saya sudah melahirkan!"


Tut!


Arta memutuskan sambungan ponsel itu seketika yang membuat kedua orang yang sedang rapat itu tertegun sejenak.

__ADS_1


Setelahnya mereka tertawa bersama.


"Gas! Anak kita sudah lahir!"


"Benar Ndi! Ayo segera kerumah sakit!" serunya dengan segera membereskan meja dan semua berkas yang mereka saat ini sednag melakukan rapat.


Semua yang ikut rapat itu keheranan. Salah satu dari mereka bercelutuk.


"istri Pak Andi dan Pak Bagas sudah melahirkan? Bukankah setahu saya keduanya masih hamil ya? Kemarin saya bertemu dengan mereka di mall. Mereka masih kuat berjalan kok. Ini istri mana yang anda sebutkan?"


Deg!


Keduanya saling pandang. "Kamu tidak usah tahu yang mana istri kami berdua! Tugasmu hanya mengurus perusahaan! saya dan Andi akan keluar sebentar! Rapat kita hentikan!" Ketusnya segera berlalu dikuti Andi di belakangnya.


Mereka berlari kecil menuju mobil untuk menuju ke rumah sakit. Baru saja ingin memasuki mobil, ponsel keduanya berbunyi.


Keduanya tertawa dan terkekeh bersama saat mengingat jika sekali cetak, risma langsung hamil kedua anak mereka.


Lagi, ponsel keduanya berbunyi. "Apa sih maunya nenek sihir ini?" ucap keduanya bersamaan.


Walau sangat malas, tapi keduanya tetap mengangkat ponsel itu.


"Apa!" ketus keduanya bersamaan masih dengan wajah malasnya.


"Kerumah sakit Kasih Bunda! Istri kalian berdua mau melahirkan! Kalian itu gimana sih?!" pekik dua suara paruh baya di seberang ponsel keduanya.

__ADS_1


Yang membuat kedua pemuda itu terjingkat kaget.


"Ba-baik Ma. Kami segera kesana!" jawab keduanya tergagap.


Dengan wajah yang sudah pucat pasi, keduanya segera melajukan mobilnya untuk menuju kerumah sakit Kasih Bunda dimana kedua istri dan Risma juga sudah melahirkan disana.


Tiba disana, mereka segera menuju ruang bersalin, dimana Arta dan Risma juga baru keluar darisana dan digantikan dengan kedua istri mereka.


Deg!


Deg!


Kedua tungkai itu mendadak kaku seketika. Saat melihat tatapan Arta yang begitu menghunus pada keduanya.


Risma tersenyum sinis pada keduanya. "Masih mau ngaku jika kedua anak saya ini anak kamu berdua?"


Keduanya diam membatu ditempat, karena kedua mama mereka saat ini sedang berada disana mendengarkan ucapan Risma yang begitu mengejutkan keduanya.


"Lantas? Yang didalam itu siapa? Istri siapa? Masih tidak mau mengakuinya? Coba kalian ingat baik-baik! Apakah wanita yang datang malam itu juga wanita berhijab? Wanita yang tadi saya lihat masuk bersama tante Widya dan Widuri?? Saya rasa.. Mata kalian itu buta! Tidak bisa membedakan mana yang Risma dan mana yang bukan! Mana yang terlihat oleh kalian berhijab, itu adalah Risma!" ketus Risma sambil berlalu meminta Arta mendorong bangkar pasiennya dan juga pada perawat yang emnggendong kedua bayi kembarnya.


Yang membuat dua wanita paruh baya itu wajahnya memerah seketika.


Kedua wanita itu segera masuk dan menemani mennatu mereka yang saat ini sedang berjuang bersama untuk melahirkan keturuan Gas bumi dan juga Kendi itu.


Farhan terkekeh melihat kedua orang itu. "Kalian itu kenapa sangat terobsesi dengan Risma sih? Bukankah kalian juga sudah mendapatkan istri yang sama seperti Risma? Dan kedua wanita itu kakak beradik? Sahabat Risma juga?? Kalian tidak salah menuduh Risma seperti itu?? Kalian akan berhadapan dengan dokter Arta setelah ini!" tegasnya dengan wajah dingin dan segera berlalu darisana.

__ADS_1


Yang membuat kedua lelaki itu bulu kuduknya meremang seketika.


__ADS_2