
Setelah percakapan malam itu, kini Arta sudah seperti suami istri lainnya. Sama seperti halnya Risma, maka Dilla pun demikian.
Keduanya kompak mengurus Arta dalam berbagi malam. Jika Risma mendapatkan jatah tiga hari dalam seminggu, maka Dilla pun demikian.
Kedua istri Arta itu sangat akur. Bahkan Dilla sering membantu Risma jika madunya itu sedang kesal dengan dua lelaki perusuh itu.
Walau dirinya sering di rendahkan dan dihina oleh keduanya, tapi ia tidak peduli.
Pernah sekali mereka mencari gara-gara dengan Dilla hingga berbuntut panjang dengan Risma yang hampir ke guguran karena ulah keduanya.
Dilla sangat marah waktu itu. "Iya aku ja lang! Lalu apa maslaah kalian? Apakah manusia hina seperti aku ini tidak bisa berubah menjadi baik dan menjalani kehidupan ini dengan baik?"
"Halah.. Bulshit kau Dilla! Sekarang ialah kau mengaku baik. Dulu kau seperti apa dengan kami. Iya kan Gas?"
"Hooh, betul itu! Sekali ja lang tetap ja lang!"
Ddduuaarr!!
Remuk redam hati Dilla. Tetapi ia berusaha kuat. Ia ingin maju dan memarahi kedua orang itu tetapi kalah cepat dengan Risma yang sudah melayangkan tamparan untuk kedua lelaki itu hingga keduanya terkekeh sinis.
"Kau dan madumu ini sama-sama ja lang! Bisa-bisanya kau berbagi serabi kamu itu dengan kami hingga menghasilkan anak?"
Ddduuaarr!!
Risma mengetatkan rahangnya. Secepat kilat ia menyingkap gamisnya dan menendang burung kedua orang itu hingga keduanya memekik kesakitan.
Risma menahan sesak di perutnya saat merasakan kram yang tiada tara. Dilla panik melihat itu. Dilla tidak tahu harus berbuat apa. Mana Yanti sedang keluar waktu itu, hingga ia menangis melihat Risma yang sudah pingsan.
"Kurang ajar! bia dab! Sialaaann!!!" pekik Dilla hingga menggema di dalam ruangan itu.
Suaranya begitu menggelegar diruangan sunyi itu. Dilla mengamuk kepada kedua orang itu. Ia memukuli kedua lelaki sialan yang sudah membuat Risma celaka sampai pingsan.
Ia melupakan kemarahannya dengan cara memukuli keduanya dengan tongkat bisboll milik suaminya.
Ia memukuli keduanya hingga menjerit kesakitan. Beruntungnya Arta dan Farhan cepat pulang. Jika tidak, keduanya pasti sudah Innalillahi. Mereka sangat terkejut melihat aksi Dilla seperti orang kesetanan memukuli kedua orang itu.
Arta sampai harus memeluknya dengan erat agar Dilla tidak lepas kendali. Ketika ia sudah sadar, Dilla menghempaskan Arta hingga suaminya itu terhuyung ke samping.
Sedang Dilla menangis melihat keadaan Risma. Arta terkekeh melihatnya. Farhan sudah menangani Risma dan sudah menyuntikkan obatnya.
__ADS_1
Tetapi Dilla tetap saja menangis. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Risma celaka karena dirinya.
Sementara kedua orang itu, segera Arta kirim kerumah sakit.
"Salah siapa mengganggu singa betina Arta? Ya seperti itulah jadinya!" Arta tergelak keras saat mengingat kedua orang itu babak beluar dihajar oleh kedua bidadari surga nya.
Dan kini, rumah tangga Arta sangat damai tanpa ada percekcokan lagi terjadi. Baik itu dari dua lelaki itu maupun dari Dilla.
Dilla sudah mengerti seperti apa tugasnya. Dan ia sangat beruntung bisa menjadi istri yang sesungguhnya untuk Arta di sisa hidupnya.
*
*
Satu bulan berlalu semenjak kejadian itu. Dilla yang memang sudah sering merasakan sakit, kini hanya bisa terbaring di ranjang di dalam kamarnya.
Ia tidak mengizinkan Risma atuapun Arta dalam mengurusnya karena takut tertular. Padahal itu tidak akan terjadi.
Penularan itu akan terjadi apabila :
* Menular melalui kontak seksual
* Perawatan dapat membantu, namun penyakit ini tidak dapat disembuhkan
* Membutuhkan diagnosis medis
* Selalu memerlukan uji atau pencitraan laboratorium
CARA PENYEBARAN
* Melalui produk darah (jarum yang tidak steril atau darah yang tidak disaring).
* Melalui hubungan **** vaginal, anal, atau oral tanpa alat pengaman.
* Dari ibu ke bayi dalam proses mengandung, persalinan, atau menyusui.
Sumber : Google
Inilah hal yang tidak Dilla tahu sama sekali. Risma dan Arta tidak peduli dengan larangan Dilla. Keduanya tetap mengurus Dilla dengan baik.
__ADS_1
Dilla membuat permohonan kepada Arta dan Risma agar tasyakkuran nujuh bulanan bayi mereka di percepat.
Takutnya Dilla tidak bisa melihat dunia ini lagi. Vonis hidupnya hanya tersisa satu bulan lagi. Sedang kandungan Risma masihlah lima bulan.
Ia meminta di percepat. "Tolong Mas.. Dek.. Biarkan aku melihat acara tasyakkuran untuk kedua bayi kalian-,"
"Bayi kita Mbak! Ini anak kamu juga! Jangan bicara seperti itu!" potongRisma begitu ketus dengan mata mengembun. Arta tersenyum.
Dilla terkekeh, "Iya sayangku.. adikku yang baik hati. Anak kita. Puas?" lirihnya begitu lemas.
Risma mengangguk dengan mengusap air matanya.
Ia memegangi tangan Dilla. Begitu pun dengan Arta.
"Mas.."
"Baik, kami akan melakukannya besok pagi. Untukmu. Untuk malam ini, kamu istirahat dulu. Kami tetap disini bersama mu. Hem?" Jawab Arta yang diangguki oleh Risma.
Susah payah Risma menahan sesak di dadanya saat Arta bermalam dengan Dilla. Tetapi kembali lagi. Semua itu keputusannya untuk menerima Dilla.
Dan saat ini, ia sudah terbiasa dengan itu. Tidak ada rasa sakit lagi dihatinya karena ia benar-benar ikhlas. Lagipun Dilla sangat baik padanya.
Sebenarnya Dilla gadis yang baik. Ia juga seorang yang dermawan ketika menjadi seorang artis. Banyak yang ia sumbngkan dengan hasil kerja nya itu.
Ia salah kaprah dan salah jalan saat seorang temannya membawanya ke agensi yang mengharuskan dirnya melayani produser itu jika ingin sukses.
Dan terjadilah seperti itu. Akhirnya Dilla kecanduan yang berujung kematian untuknya.
Menyesal pun tak berguna. Ia ingin di sisa hidupnya, Arta dan Risma mau menemaninya. Karena hanya itu yang ia butuhkan saat ini.
Keduanya tidur bersama Dilla. Dengan Dilla berada di tengah. Ia ingin dipeluk Arta dan Risma serta dua bayi kembar yang sudah ia anggap anak sendiri.
Dilla menangis terisak di dada Arta dan dada Risma. Arta dan Risma pun ikut menangis. Sekiranya Dilla tidak sakit, pastilah hingga saat ini ketiganya tidak akan tidur dalam satu ranjang yang sama.
Dilla mengucapkan ribuan terimakasih pada Arta dan Risma yang mau menerimanya setulus hati. Arta mengecup keningnya dengan sayang yang membuat Dilla semakin menangis tersedu di pelukan hangat yang selama ini tidak pernah ia rasakan karena kesalahannya sendiri.
Risma tidak cemburu. Ia malah memeluk Dilla dengan erat hingga membuat Dilla tidak kuasa untuk tidak tersedu.
Besok.
__ADS_1
Besok pagi mereka bertiga akan melakukan acara tasyakkuran nujuh bulanan seperti permintaan Dilla.
Permintaan terakhir yang akan merubah hidupnya, hidup Arta dan Risma untuk dimasa depan.