
"Apa? Kenapa? Jangan bilang istriku-,"
"Benar Bro Arta! Selamat! Istri anda sedang hamil tujuh minggu saat ini. Dan anda bisa melihatnya sendiri kan ada berapa kantung disana?" potong dokter rekan Arta itu
Arta melihat pada layar di depannya. Arta melotot tak percaya. "Du-dua??" tanya nya dengan mulut menganga.
Dokter itu mengangguk, "Ya, dua. Itu artinya kamu akan memiliki keturunan kembar Bro! Selamat!"
Braak.
"Astaghfirullah!"
"Apa?" kembar?! Gas! Anak kita kembar Gas!"
DDDuuuaaarrr!!
Arta dan dokter itu menganga mendengar ucapan salah satu pemuda yang tadi didorong oleh Arta itu.
"Apa? Gimana? Apanya yang kembar?" tanya lelaki yang satunya. Ia pun nyelonong masuk dimana Arta dan dokter obigyn itu sedang menatap mereka dengan tatapan tidak percayanya.
Siapa mereka berani mengakui jika janin yang ada di rahim Risma itu anak keduanya?
Darah Arta kembali mendidih seperti tadi. Ia kembali mengetatkan rahangnya saat mendengar ucapan lanjut keduanya.
"Risma positif hamil Gas! Anak kita! Kembar lagi!" serunya dengan wajah berbinar senang.
"Heh? Kembar??" tanya nya dengan raut yang memang benar-benar terkejut.
"Hooh, oh ya ampun! Nggak nyangka aku Gas! kalau susu kental manis milikku tokcer juga ya? Hahaha.. Sekali jadi langsung dua euuuyyy!" celutuknya kegirangan.
"Nggak. Nggak. Itu pasti anak aku! Bukan anak kamu Andi!" kilahnya meralat ucapan rekannya itu.
"Eh, enak aja kamu kalau ngomong! Itu anak aku Gas! Aku yang mencetaknya makanya ada di rahim Risma dodol!"
"Kau yang dodol! Udah jelas-jelas malam itu Risma tidurnya sama aku! Kapan pula dia tidur sama kamu! Nggak! Aku nggak percaya! Janin itu milikku!"
"Bukan! Itu janinku! Susu kental manis yang jadi janin itu milikku, congek!"
__ADS_1
"Kau yang congek!"
"Kau!"
"Kau dodol!"
"Ka-,"
"Diaaaamm!!!!" teriak Arta sekuat tenaga karena pusing mendengar perdebatan non faedah kedua lelaki yang sangat mereka kenal itu siapa.
Keduanya tersentak kaget hingga mulut keduanya terkatup seketika.
Risma yang memang masih pingsan spontan saja terbangun saat mendengar suara Arta seperti memekak kan telinga.
Sedangkan Arta menatap keduanya dengan nafas memburu hebat. Rasanya ingin sekali Arta menghajar keduanya yang kini tidak berani menatap wajah garang Arta seperti ingin menelan orang hidup-hidup.
Suasana itu mendadak hening cipta. Yang terdengar hanya deru nafas Arta yang masih memburu melihat kedua lelaki itu.
Risma mengerjab pelan. "Aku dimana??"
Suara Risma membangunkan hening cipta diruangan itu. Arta dengan sigap menoleh. Ia tersenyum melihat istrinya kini sedang memijat pelipisnya.
"Iya..." sahut ketiga lelaki itu dengan kompak.
Arta melotot tajam pada keduanya. Dokter Obigyn itu melipat bibirnya kedalam agar tidak menyemburkan tawa. Sedang Yanti dan Farhan keduanya kini tertawa mendengar sahutan kompak dari ketiga lelaki yang menurut mereka, di dalam rahim Risma itu merupakan anak mereka bertiga.
Risma menoleh kepada Arta dan kedua lelaki itu. Ia mengernyitkan dahinya bingung sambil melihat pada Arta yang kini tersenyum padanya.
"Masih pusing?" tanya Arta sembari mendekati bangkar dimana Risma berada.
Risma mengangguk, ia mengulurkan tangannya untuk di gendong Arta. Arta yang paham segera merangkul tubuh Risma dan ia bawa ke dalam gendongannya ala Bridal Style.
Risma menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arta saat ini membuat kedua lelaki itu mengepalkan kedua tangannya.
Arta melewati keduanya. Tetapi belum lagi tiba di depan pintu ia berbalik dan menatap tajam pada keduanya.
"Ikut saya! Kita bicarakan masalah ini dirumah saya! Kamu juga Dilla!" katanya pada Dilla yang baru saja masuk setelah tadi ia mengambil tasnya karena hari ini ia akan pulang kerumah mereka.
__ADS_1
Dilla mengangguk patuh. Ia pun mengikuti Arta yang kini sedang menggendong Risma untuk menuju Mobil nya.
Begitu pun dengan Farhan dan Yanti. Keduanya yang ingin periksa pun tidak jadi. Lantaran melihat Arta yang saat ini tidak bisa di ajak bicara sama sekali.
Sedangkan dokter Obigyn rekan Arta itu tertawa terbahak melihat kondisi rumah tangga Arta saat ini.
*
*
*
Di rumah Arta dan Risma.
Kedua lelaki itu sudah duduk dihadapan Arta dan Farhan saat ini. Sementara Risma di belakang keduanya duduk bersama Yanti dan Dilla.
Dilla sebenarnya ingin tertawa. Tetapi belum saatnya. Ia ingin mendengar ucapan dua orang lelaki itu seperti apa.
Saat ini ia sedang mengupas buah untuk Risma. Risma tidak berselera makan. Ia lebih menginginkan makan buah saja untuk saat ini.
Arta dan Farhan menatap datar pada kedua orang itu.
"Katakan! Apa maksudmu dengan mengatakan jika di rahim istriku ada anak kalian? Sejak kapan Risma tidur dengan kalian? Sedang tiap malamnya dia tidur bersama saya? Apa kalian sedang ingin menipu saya, huh?!" tuduh Arta pada kedua orang yang kini sedang membalas tatapannya dengan datar juga.
"Risma memang pernah tidur dengan kami berdua saat di hotel Az dua bulan yang lalu. Kami sudah mencari Risma kemana-kemana. Tetapi tidak kami temukan. Dan pagi ini kami melihat Risma saat keluar dari mobilnya. Dan saat kami perhatikan, benar. Jika Risma wanita malam itu yang sudah kami beli rahimnya untuk menitipkan anak kami padanya! Dan kami sudah membelinya dari kedua orang tuanya!"
Dduuuaaarr!
"Uhuk.. Uhuk.."
"Apa?!" teriak Arta begitu keras hingga kedua lelaki itu terjingkat kaget dengan raut wajah pias saat melihat wajah Arta memerah.
Yanti terbatuk-batuk begitu pun dengan Risma yang saat ini sedang makan buah pemberian Dilla.
Sedang Dilla mulutnya menganga mendengar ucapan kedua pemuda itu.
"Siapa yang berani menjual rahim istriku kepada kaliah, huh? Dan berapa harga rahim istriku yang dijual kepada kalian?!"
__ADS_1
"Dua ratus lima puluh juta untuk satu anak!sedang kami sudah membayar seharga lima ratus juta untuk dua orang anak!"
Ddduuuaaaarrr!!