Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Menginap di rumah Risma


__ADS_3

Arta yang dirumah sakit tertawa keras hingga asistennya pun ikut tertawa saat melihat video rekaman yang dikirimkan Yanti padanya.


Ia sampai meneteskan air matanya melihat video rekaman berdurasi setengah jam itu. Saat ini mereka berdua sedang makan siang diruangan Arta.


"Kamu tidak salah memilih istri, Han!" katanya pada sang asisten yang bernama Farhan itu.


Farhan terkekeh, "maka dari itu saya bilang sama dokter. Biarkan istri saya yang menjaga Nyonya muda. Dan terbuktikan? Istri tua anda tidak bisa menyentuh istri muda anda?"


Arta tertawa. Farhan pun tertawa. Ya, Yanti merupakan istri seorang perawat lelaki yang merupakan asisten Arta dirumah sakit sekaligus orang kepercayaannya dalam mengelola semua uasahanya.


Mereka berdua dipertemukan saat Arta dibegal oleh perampok yang saat itu sedang melewati jalan sunyi. Arta yang tidak punya persiapan menyerah, tetapi mereka sengaja ingin membunuh Arta.


Tetapi sayangnya aksi pembunuhan itu tergagalkan karena polisi sampai disana tepat waktu karena suruhan Farhan yang saat itu kebetulan lewat dan dia lah saksi dari kejadian itu.


Semenjak itu, Arta dan Farhan berteman sekaligus bersahabat. Bahkan Farhan merupakan tangan kanan Arta jika Arta tidak bisa hadir saat menghendel masalah hotel dan juga supermarket miliknya.


Dan Yanti merupakan seorang TKI yang Farhan selamatkan saat dirinya ingin dijual ke Hongkong dan dijadikan wanita pemuas bagi para pria hidung belang disana.


Farhan menikahi Yanti lantaran keduanya memiliki rasa tertarik. Dan Arta menyetujui itu. Bahkan biaya pernikahan keduanya Arta lah yang membiayainya.

__ADS_1


Farhan dan Yanti tinggal di paviliun yang berada dibelakang rumah Arta. Karena Arta sendiri yang menyuruh mereka demi bisa menjaga sang istri dari istri pertamanya itu.


"Kamu benar! Istri kamu memang bisa diandalkan!" ucap Arta yang disambut gelak tawa oleh Farhan.


Sementara dirumah Risma, saat ini keduanya sedang bersitegang karena perebutan kamar.


"Saya hanya mau di kamar utama. Bukan dikamar lain! Yang istri pertama disini siapa? Saya kan? Tentunya saya dong yang berhak menempati kamar ini??" ucapnya masih ngotot juga pada Risma.


Risma pun taka kalah tegasnya dalam menjaga amanah sang suami padanya. "Saya pun demikian. Saya akan tetap menjaga kamar ini sampai suami saya pulang. Suami saya sudah mengamanatkan kepada saya, kalau Mbak Dilla datang tidak boleh di kamar ini. Tetapi dikamar ujung sana!" tunjuk Risma pada kamar di ujung ruangan lantai dua itu. "Saya tidak boleh memberikan kunci kamar ini termasuk kamu, istri pertamanya. Kamu jangan lupa Mbak Dilla. Rumah ini rumah saya! Memang Bang Arta yang membelinya tetapi surat rumah ini atas nama saya! Jadi.. Kalau Mbak tetap bersikeras terserah Mbak tetap berdiri di pintu ini sampai suami saya pulang! Tetapi jika tidak, kamar kamu di ujung sana!" tegasnya lagi pada Dilla yang membuat Dilla semakin geram dan tidak memiliki pilihan lain.


"Cih! Jika bukan karena aku ada perlu dengan suamiku, maka aku tidak sudi untuk tinggal dirumah ini!" ketusnya dengan segera berlalu dan meninggalkan Risma yang menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepala Dilla.


"Hemm.. Dasar keras kepala! Akhirnya menyerah juga kan? Oke! Aku akan cari tahu segalanya dimulai dengan kamu menginap disini!" ucapnya dengan seringai licik ala Risma terbit dari bibir yang selalu Arta candui itu.


Arta, demi istrinya Risma tetap menyetujui itu walau sedikit berat karena mengingat tingkah Dilla yang seperti wanita lain diluar sana.


Apapun akan ia lakukan asalkan Risma bahagia walau harus melihat wajah istri pertama statusnya itu ada dirumahnya.


Sore harinya.

__ADS_1


Pukul lima lebih tiga puluh menit Arta tiba dirumah bersama Farhan dan supir pribadi yang baru saja Arta dapatkan karena ia menyuruh Farhan untuk mencarinya.


Tiba di depan pintu sudah terlihat Risma dan Yanti menunggu keduanya. wajah yang tadinya datar kini tersenyum seketika saat melihat kedua istri mereka menyambut mereka dengan senyuman.


Jangan tanyakan Dilla dimana. Ia sibuk dengan dirinya sendiri dan saat ini ia sedang duduk diruang tivi sambil mengecat kuku-kukunya.


Arta tersenyum melihat Risma begitu pun dengan Farhan. " Assalamualaikum sayang.. Cup." Arta mengucap salam sekaligus mengecup dahi Risma sambil memeluknya erat.


Farhan pun demikian dengan istrinya, Yanti.


"Waalaikum salam, Bang Arta."Jawabnya dengan tersenyum dan menggamit tangan Arta untuk diciuminya.


Arta menarik sudut bibir itu hingga mengembang sempurna. "Hah. Inilah yang Abang mau. Tiap pulang kerja, ada istri yang menyambutku. Bukan hanya diam saja saat melihat suaminya pulang." sindir Arta pada Dilla yang kini sedang sibuk dengan kuku-kuku cantiknya.


Puk.


Risma menepuk lengan Arta. Ia mendelik melihat Arta. Sedang Arta tertawa. Mendengar suara Arta, spontan saja Dilla bangkit dan segera mendekati Arta dengan senyum khas Faradilla yang sedikitpun tidak membuat Arta tertarik.


"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya nya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

__ADS_1


Yanti yang mendengarnya mendadak mual seketika. Farhan terkekeh geli. Ia mencubit gemas hidung istrinya yang disambut tatapan tajam oleh Yanti.


Dengan tidak tahu malunya, Dilla segera merangkul lengan Arta dan mendorong Risma hingga hampir terjatuh jika tidak tangan Arta yang lain memegang pinggangnya.


__ADS_2