Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Tidak mau!


__ADS_3

Risma tersenyum sendu pada Yanti. "Abang sama Mbak istirahatlah. Aku pun akan istirahat saat ini. Perutku masih terasa kembung karena terlalu lama makan. Mungkin, Bang Arta masih di kamar saat ini. Mungkin." Katanya tidak yakin dengan mata menatap pintu kamar di lantai dua sana yang tertutup rapat.


"Ya, ingat Dek. Jangan paksa Bang Arta untuk bermalam bersama Dilla. Karena Abang sangat tahu seperti apa Dilla selama ini terhadapnya. Kalau bisa kamu jangan memkasakan kehendakmu padanya jika tidak ingin Bang Arta marah padamu. Jika itu sampai terjadi, kamu akan sulit untuk membujuknya. Karena pantang baginya sekali merasakan sakit maka selamanya ia tidak akan mau lagi dengan orang yang sudah membuatnya sakit!"


Deg!


Deg!


Risma terkesiap mendengar ucapan Farhan. Ia memaksa kan senyum teduhnya kepada kedua orang itu.


"Terimakasih Abang sudah mengingatkan ku. Kalian berdua istirahatlah. Biar Bi Minah yang mengerjakan ini semua." Imbuhnya sambil berlalu meninggalakn keduanya pun yang kini segera bangkit saat melihat Risma berlalu meninggalkan pada mereka berdua.


Risma melangkah gontai memasuki kamarnya. Tiba di depan pintu kamar utama, Risma berdiri terpaku dengan mata menatap nanar pada pintu kamar Dilla yang tertutup rapat.


Ada rasa tercubit dihatinya dan juga ia tidak rela. Tetapi apa yang harus Risma perbuat? Jika itulah takdirnya saat ini.


Risma masuk ke kamar utama dengan langkah lemas karena saat melihat sekeliling jika Arta tidak ada disana.


Dada itu terasa sesak seketika. "Hiks.. Aku kuat! Aku kuat!" katanya pada diri sendiri sembari berlalu meninggalkan kamar dan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan sholat isya terlebih dahulu.


Setelahnya ia kembali masuk ke kamar dan melaksanakan ibadahnya yang tertunda karena hal tadi.


Risma sholat dengan khusyuk walau sesekali bahu itu berguncang. Namun, ia tetap berusaha tegar dan khusyuk untuk beribadah menyembah Allah SWT.

__ADS_1


Sementara di kamar satu lagi, kini keduanya sedang duduk dalam keadaan saling berdiaman.


Wajah Arta begitu tidak bersahabat saat ini. Dilla menunduk tidak ingin melihatnya.


Arta menatap datar padanya. "Jangan senang dulu, Dilla. Aku datang kesini ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapnya pada Dilla dengan suara yang begitu dingin hingga membuat istri status Arta itu merinding seketika.


Dilla mengangguk. "Silahkan Mas." Jawabnya.


"Cih! Sekarang kamu memanggil saya dengan mas karena ingin berbeda dari Risma, bukan begitu Dilla?"


Geg!


Deg!


Dilla menelan ludahnya. Tebakan Arta tepat sasaran.


"Saya tahu kamu Faradilla! Sampai kapanpun saya tidak bisa menerima kamu menjadi suami kamu. Karena saat saya menikahi kamu, saya terpaksa menerima semua ini. Katakan, apa tujuan mu datang kesini dan tinggal di sini? Ingin merebut posisi Risma salah satunya? Dan apalagi??" tanya Arta semakin menyudutkan Dilla serta menuduhnya.


Dilla mendongak melihat Arta yang kini duduk dihadapannya. Hanya berjarak satu setengah meter dari ranjangnya.


Ya ampun! Arta ternyata sangat tampan! Batin Dilla menelan salivanya.


"Tidak perlu menatap saya seperti itu! Saya memang tampan! Tetapi saya tidak tertarik dengan mu! Cepat katakan!"

__ADS_1


Deg!


Dilla gelagapan saat Arta meninggikan suaranya karena ia tidak sadar karena sudah menatap Arta sedikit lama yang membuat Arta merasa risih dengannya.


"Ma-maaf. Aku hanya ingin membawa kamu ke tempat kedua orang tuaku. Karena seperti yang kamu katakan jika adikku akan menikah minggu besok." jawabnya sedikit gugup.


Wajah itu memanas karena malu pada Arta. Sebab Arta terus menatapnya dengan dingin dan datar.


"Sudah saya katakan kan tadi? Saya tidak mau!"


Deg!


Dilla mendongak. "Kenapa? Apa karena Risma yang akan kamu tinggal sendiri disini? Ingat Mas. Risma itu sudah dewasa. Jadi dia bisa jaga diri sendiri!" tegas Dilla merasa tidak suka dengan penolakan Arta.


Arta terkekeh sinis. Dilla terkejut, ia menunduk lagi.


"Kamu tuli atau pikun sih Faradilla? Bukankah tadi sore sudah saya katakan jika saya tidak akan datang karena di minggu yang sama saya akan mengadakan pernikahan kami secara resmi. Saya tidak bisa hadir terkecuali Risma ikut bersama saya besoknya kesana."


Deg!


Dilla mendongak lagi. "Kenapa?"


"Karena saya tidak mau mendengar gunjingan tentang istri saya oleh keluarga kamu! Karena saat pernikahan nanti, saya akan mengundang seluruh keluarga kamu untuk memeriahkan acara pernikahan saya dan Risma! Dan saya akan mengumumkan pada seluruh dunia. Jika istri sah dokter Artafaris hanya satu. Yaitu Risma Handayani! Bukan kamu, Faradilla Hermawan!"

__ADS_1


Ddduuuaaarrrr!!!


Dilla tersentak mendengarnya.


__ADS_2