Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Fakta mengejutlkan


__ADS_3

"Jawab Nona Dilla!"


Deg!


Dilla terjingkat kaget saat mendengar suara Arta. Ketiga orang itu semakin terkejut dengan panggilan Arta kepada Dilla.


Ketiganya menatap Arta dengan raut wajah terkejut bercampur bingung. Arta kembali menatap Dilla dengan tatapan tajamnya.


Risma memegangi tangan Arta dan menggeleng, tetapi Arta tidak peduli. Baginya, masalah ini harus cepat di selesaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan tentang hubungan nya dengan Dilla.


"Saya yang jelaskan? Atau kamu Nona Faradilla Hermawan!"


Deg!


Deg!

__ADS_1


Tubuh Dilla terpaku di tempat saat mendengar Arta memanggil nama lengkapnya dihadapan kedua orang tuanya.


Dava dibuat tidak percaya dengan kelakuan Arta saat ini. Ia kembali terkekeh sinis. "Wah wah wah! Hebat kamu Risma! hebat kamu! Apa yang kamu berikan pada mas Arta sehingga ia berani memanggil istrinya dengan nama lengkapnya dihadapan kedua orang tua nya?Cih! Dasar pelakor penghasut kamu!" tuduh Dava lagi pada Risma yang kini menatapnya dengan datar dan dingin.


Arta yang mendengar itu semakin marah. Jika tadi ia bisa diam, tetapi tidak kali ini. Harga diri Risma diinjak-injak oleh adik ipar status nya.


"Diam kamu Mardava Hermawan! kamu tidak tahu apapun tentang saya dan hubungan saya dengan kakak kamu dan juga Risma! Kamu hanya tahu yang terlihat itulah yang sebenarnya! Tanpa kamu tahu seperti apa kelaukan kakak kamu yang sebenarnya!"


Deg!


"Cukup sudah saya bersabar! Sekarang tidak lagi! Dan kamu Dilla! Sudah saya beri kesempatan pada mu untuk menjawab pertanyaan papa kamu, tetapi kamu tidak mau. Baik, saya yang akan jelaskan! selagi saya menjelaskan, jangan ada yang memotong ucapan saya! termasuk kamu Mardava! Kamu orang lain tidak berhak ikut campur di dalam masalah keluarga saya!"


Tersentak mereka semua mendengar ucapan tegas Arta yang begitu dingin dan menusuk hingga ke jantung.


Papa Hermawan menatap Arta yang kini sedang menatapnya dengan gurat marah dan kecewa sekaligus.

__ADS_1


"Anda tidak perlu marah dan kecewa pada saya tuan Hermawan. Disini seharusnya, saya lah yang marah kepada anda karena sudah menikahkan saya dengan putri ter sayang anda ini!"


Deg!


Papa Hermawan terkejut lagi.


"Saya terpaksa menerima pernikahan itu karena anda yang mengancam saya akan menghancurkan pekerjaan saya dan juga semua keluarga saya. Padahal tanpa ada tahu, saya juga bisa menghancurkan perusahaan kalian tanpa kalian sadari!"


Deg!


"Tetapi tidak saya lakukan. Lantaran saya berpikir, saya bisa merubah kelakuan putri kalian ini. Saya terpaksa menerima Dilla karena desakan anda yang menuduh saya, jika saya lah yang menodainya. Padahal bukan saya pelakunya. Tetapi ada orang lain bersama kita saat di dalam kamar hotel itu!"


Ddduuuaaarrr!!


"Apa?!" teriak mama nya Dilla yang membuat Dilla dan Dava terjingkat kaget secara bersamaan.

__ADS_1


Arta masih menatap papa hermawan yang kini semakin terkejut dengan ucapan Arta. "Saya terpaksa menikahi Dilla karena desakan dari Anda. Padahal saat itu saya sudah dijodohkan dengan Risma oleh Mak saya! Tetapi karena desakan anda membuat hubungan saya dan Risma terputus hingga dua tahun lamanya. Dan tahukah anda apa yang putri anda lakukan selama dua tahun ini selama menjadi istri saya??" tanya Arta pada papa Hermawan yang kini masih menunggu ucapan Arta selanjutnya.


"Putri anda tidak pernah sekalipun mengurus saya dengan baik. Ia lebih menyukai diluar rumah dibandingakn dengan menunggu saya dirumah. Selama kami menikah, kami tidak pernah sekamar. Apalagi berhubunagn badan. Bagaimana bisa saya menyentuh Dilla jika saya sudah di kunci mati terlebih dahulu dengan sebuah perjanjian Pranikah yang sengaja dibuatnya dan juga tidak kalian ketahui??"


__ADS_2