
"Kenapa kamu?? Kesurupan??" tanya Arta saat ia melepaskan tangan Dilla secara paksa yang mmebelit di lengan kirinya hingg risma terdorong ke seblah kanan akibat dorongan Dilla yang lumayn Kuat tadi.
Risma mendelik padanya, Arta tidak peduli. Ia terus berjalan masuk menuju ke kamar nya di ikuti Risma yang kini pinggang rampingnya dirangkul mesra oleh aArta sedang Dilla berjalan di belakang keduanya dan membuatnya semakin geram melihat kedekatan keduanya.
"Kamu ini gimana sih Mas? Giliran aku ingin menyambut kamu, kamu malah nggak mau!" protesnya dengan suara manja yang membuat Arta semakin muak saja.
Arta berhenti di undakan tangga dan berbalik menghadapnya, ia menatap dingin pada Dilla yang membuat istri pertamanya itu menelan salivanya.
Glek.
"Saya tidak menyuruh kamu untuk menyambut saya! Selama ini kamu sibuk dengan urusan mu sendiri. Lantas sekarang? Kenapa kamu sibuk ingin seperti Risma? Bukankah ini semua bukan kemauan kamu? Kamu ingin bebas dan tidak ingin di kekang seperti wanita-wanita luar diluar sana??"
Deg!
"Mas!" seru Dilla begitu terkejut dengan ucapan Arta.
__ADS_1
Ia tidak menyangka jika Arta akan membuka aibnya dihadapan madunya itu.
"Apa?! Kamu tidak suka?? Ingat Dilla! Kita tidak sedekat itu hingga kamu bisa bermanja-manja kepada saya! Ho.. Apakah kamu berniat ingin merebut posisi Risma? Iya?"
Dddduuuaaarrr!!!
Dilla tersentak mendengarnya.
"Mas.." rengeknya lagi masih terdengar manja ditelinga Arta yang membuat suami Risma itu semakin muak melihat kelakuan istri pertama tetapi hanya Status saja itu.
Arta terkekeh sumbang, "Sejak kapan kamu memanggil saya dengan sebutan Mas? Bukankah biasanya hanya SUAMI STATUS?? ATAU? DOKTER ARTAFARIS??" ucap Arta menyindir Dilla yang kini menatap nanar padanya.
Deg!
Deg!
__ADS_1
Berdenyut ngilu hati Dilla mendengar ucapan Arta yang memang benar adanya. "Kamu tidak perlu berlaku baik dihadapanku karena saya tahu, kamu tidak ingin melakukan ini. Kamu datang kesini karena perlu sesuatu dengan saya. Apakah tadi keluarga mu menghubungimu untuk kita menginap di rumah kedua orang tua mu lantaran adik lelaki mu itu akan menikah minggu depan??"
Deg!
Dari mana dia tahu?
Arta tersenyum sinis, "Kamu tidak perlu tahu saya tahu darimana. Saya akan datang kesana tetapi tidak denganmu. Tetapi dengan Istri saya yang sah bukan hanya status saja seperti yang kamu lakukan saat ini pada saya!"
Ddduuaaarrr!!
Lagi, Dilla mematung ditempat mendengar ucapan Arta untuknya.
"Jangan sekali-kali kamu mencoba untuk merebut posisi Risma. Karena posisi itu tidak mungkin tergantikan olehmu. Saya masih ingat, saat dulu kamu mengatakan jika kamu tidak ingin terikat dengan dokter murahan dan hina seperti saya ini. Jadi.. Kamu tidak pantas bersanding dengan saya. Kami berdua sama hinanya. saya hina dan istri saya ini juga hina. Tetapi tidak denganmu. Kamu sangat suci bahkan sangat suci. Saking sucinya kamu, hingga bisa membersihkan seluruh dosa orang-orang dimuka bumi ini!"
Dddduuuaaaarrrr!!!
__ADS_1
Dilla jatuh terduduk mendengar sindiran telak dari Arta. "Maaf Dilla. Kamu tidak pantas bersanding dengan pemuda miskin dan hina seperti saya. Sebaiknya kamu pulang dan segera selesaikan hubungan palsu dan hanya status ini. Agar kamu bisa bebas menikmati hidupmu tanpa bayang-bayang diri saya yang hina ini."
"Pergilah. Keluarga mu sedang menunggu mu. Bagi saya hanya Risma dna selamanya hanya Risma. Biar dia kecil tetapi dia bisa membuat saya nyaman saat berada disampingnya. Katakan yang sejujurnya kepada kedua orang tuamu tentang pernikahan status ini. Dan ya, mungkin saya tidak bisa hadir kerumah orang tuamu. Karena Mak dan saudara saya sedang menyiapkan acara nikah ulang dan resepsi pernikahan kami. Ayo sayang, masuk!" usir Arta pada Dilla sekaligus pada Risma saat ini ingin membantah ucapannya itu pada Dilla, madunya.