
Bagas dan Andi menatap datar kepada istri mereka yang kini tidak ingin menatap keduanya karena rasa kecewa yang selalu di abaikan. Bahkan tidak akui kedua anak tidak berdosa itu.
Mereka berdua sudah sepakat untuk pergi dari kehidupan kedua lelaki yang tidak setia dan suka jajan itu.
Jika bukan karena Farhan saat itu, mungkin mereka akan jajan sembarangan. Masih teringat oleh keduanya malam itu, Farhan menghubungi mereka.
Ia mengatakan jika kedua suami mereka ada di hotel AZ dan sedang dalam keadaan mabuk. Sebelum terjadi hal yang buruk, Farhan segera menghubungi kedua istri pemuda mabuk yang menginginkan Risma pada saat Risma dinikahi oleh Arta melalui resepsionis hotel.
Ia sangat mengenal siapa kedua pemuda yang merupakan rival Arta saat mereka kuliah dulu itu. Karena Arta sendiri yang mengatakan jika dirinya memiliki rival yang hingga saat ini.
Dan kedua rival itu merupakan bagas dan Andi yang baru Farhan lihat secara langsung saat bertemu di rmah sakit.
Arta hanya memberi selembar foto tentang keduanya saja. Dan pada saat malam itu, ada seorang yang melapor padanya jika kedua orang itu sedang chek-in di hotel milik Arta.
Makanya Farhan bisa menghubungi kedua istri mereka. Jangan tanya darimana Farhan tahu. Salahkan saja kedua orang itu yang salah berurusan dengan siapa?
Kedua istri itu sudah terlanjur kecewa karena di tolak, tidak diakui. Bahkan ketika hamil pun kedua anak itu tidak di akui oleh ayahnya.
Kedua istri itu begitu kecewa. Mereka menunggu keputusan tes DNA tentang pernyataan keduanya tentang bayi Arta itu.
Hari-hari yang mereka lewati dalam keadaan gamang dan juga sangat gelisah menunggu hasil tes DNA itu.
Sudah tiga hari berlalu, kedua lelaki itu belum juga mendapatkan kabar tentang hasilnya yang katanya akan keluar hari ini.
__ADS_1
Bagas dan Andi sampai tidak konsentrasi saat bekerja. Keduanya sibuk melamunkan apa yang akan terjadi ke depannya jika bayi itu benar aankanya atupun bukan anaknya.
Yang pasti hukuman keduanya sudah menunggu mereka saat ini. Karena itulah perjanjian keduanya.
Kini keduanya terasa seperti di persimpangan yang saling memberatkan. Ingin mundur, tapi penasaran. Jika maju, lubang hitam sudah menunggu keduanya saat ini.
Keduanya sibuk memikirkan nasib mereka yang akan berujung kemana. Akankah di terima di keluarga besar lagi, ataupun sebaliknya.
Mereka akan dibuang seperti kata Mama Widya dan mama Widuri tiga hari yang lalu saat kedua orang itu memarahi lelaki itu.
Mereka begitu nelangsa saat ini.
Berbeda dengan Arta dan Risma saat ini. Keduanya begitu menikmati peran mereka sebagai orang tua.
Bunda Zizi dan Syakir, Abang sulung Arta yang masih melajang itu menginap disana karena ingin mengurus Risma.
Mereka menghilang seperi ditelan bumi. Tidak tahu dimana keberadaan kedua orang tua itu. Dan Risma pun tidak peduli.
Yang ia pikirkan saat ini adalah keluarga kecilnya yang kini begitu butuh perhatiannya. Ia tidak takut. Karena bunda Zizi dan semua kakak kandung se-ayah dengan Arta begitu baik dengannya.
Mereka begitu baik hingga Risma bisa melupakan kedua paman dan bibi nya itu.
"Bang?"
__ADS_1
"Hem? Kenapa? Masih sakit? Biar Abang periksa!" jawabnya dengan segera bangkit dan membopong Risma ke sofa.
Risma tidak menolaknya. Ia mengikuti kemana Arta membawanya. Arta mendudukkannya di sofa. Arta menekuk kedua kakinya.
Ia lantas menyingkap daster Risma hingga terlihatlah palung surga yang sedang sakit itu.
Risma melotot. Ia segera menutup kedua kakinya yang membuat Arta mengernyit bingung. "Kenapa di tutup? Katanya sakit? Biar Abang periksa dulu." katanya pada Risma yang kini menggeleng seraya menurunkan kakinya ke lantai.
Ia menarik tubuh Arta untuk duduk diampingnya. "Bukan itu yang aku maksud Bang Artafaris!"
"Terus?" tanya Arta menatap lekat Risma saat ini.
Risma menghela nafasnya. "Tes DNA nya kan hari ini keluar? Kenapa Bang Farhan belum pulang juga? Apakah ada kendala?" tanya Risma pada Arta yang kini tersenyum padanya.
"Itu toh yang kamu khawatirkan?" Risma mengangguk.
"Farhan sudah berada di bawah bersama Gas bumi dan juga kendi itu. Dan juga kedua orang tuanya ikut serta. Bersiaplah. Mereka sedang di jamu oleh Mak saat ini."
"Iyakah?"
"Hem," jawab Arta serambi mengambil baju gamis Risma dan menggenakan pada istrinya sebelumnya ia membuka baju Risma dulunya.
Setelah selesai, keduanya segera turun dengan menggendong si kembar cantik untuk menuju ke bawah dimana tamu mereka sedang menunggu mereka berdua saat ini.
__ADS_1
Mereka turun menggunakan lift.
Saat tiba dibawah, sudah terlihat jika keluarga Arta pun sudah berkumpul disana.