
Sedari subuh kediaman Arta dan Risma sudah banyak pendatang dari restorannya dan juga hotelnya.
Hari ini seperti keinginan Dilla, mereka akan mengadakan acara tasyakkuran untuk kehamilan Risma. Karena Dilla yang meminta untuk dipercepat.
Karena ia tidak tahu kapan ajal akan menjemputnya. Arta dan Risma memenuhi keinginan Dilla itu.
Dilla susah payah untuk berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya tubuhnya sudah tidak berdaya lagi.
Seluruh keluarga Arta dan Dilla sudah hadir disana. Arta duduk bersisian di kedua istrinya. Semua yang melihat itu sedikit aneh dan juga terharu.
Ternyata Arta bisa mendididk istrinya untuk akur seperti itu. Padahal kenyataannya di awal-awal dulu mereka tidak seperti itu.
Tetapi Arta dan Risma tidak perlu mengatakan apapun tentang pemikiran mereka dan juga tentang pernyataan mereka.
Yang penting keduanya bisa melihat Dilla senang itu sudah cukup. Karena yang mereka khawatirkan sedari tadi malam itu Dilla yang sudah tidak bisa berbicara lagi.
Serangkaian acara nujuh bulanan mereka lakukan satu persatu. Sesekali Arta melirik Dilla yang kini tersenyum teduh padanya.
Risma pun demikian. Bahkan ia sudah menangis sedari tadi melihat Dilla. Para tamu pikir jika keduanya menangis karena cara itu. Padahal tidak.
Mereka sedang melihat Dilla yang kini semakin layu dan kuyu. Sesekali nafas itu tersengal. Mama nya Dilla berusaha meredam kepanikannya seperti kata Arta tadi.
Tepat pukul sebelas siang, acara itu sudah selesai bertepatan dengan mama naya Dilla berteriak memanggil Arta dan juga Risma.
Entah kekuatan dari mana ibu hamil lima bulan itu berlari tanap melihat apapun. Baginya Dilla.
__ADS_1
Seseorang yang selama dua bulan ini ada di kehidupan mereka berdua. Sososk wanita yang sudah berubah lebih baik di sisi umurnya.
Risma mematung di depan Dilla yang kini tangannya melambaiai ingin di pegang oleh risma dan Arta.
Arta yang berada di belakang Risma segera membawa Risma dihadapan Dilla yang kini terengah-engah.
"M-mas.. Ri-riis.. Hah.. Hah.. Hah.."
Risma memegang tangan Dilla. Sedang Arta memangku kepala Dilla. Semua keluarga tertegun melihat itu. Ada kak Ira, bang Tama, Bang Syakir dan Kak Annisa disana. Ali dan Kinara juga ada. Sedang Lana saat ini berada di luar menyambut tamu Arta yang terus berdatangan.
"Iya sayang. Ini kami. Kamu mau ngomong apa?" tanya Arta yang entah kenapa kesebut sayang untuk Dilla.
Dilla tersenyum. Satu tangannya yang menganggur memegang pipi Arta. "Terimakasih karena kamu mau menampungku hingga saat ini. Terimakasih di sisa hidupku kamu sudah menyayangiku. Aku bahagia.. Sangat bahagia.." lirihnya yang semakin membuat Arta tidak tahan untuk tidak menangis.
"Sayangku.. Kok kecut sih muka nya? Nggak suka ya suami kita memanggil Mbak mu ini sayang?" godanya pada Risma yang kini mencebik dengan mata mengembun.
"Sayangku.. Terimakasih karena kamu mau menerima Mbak mu ini menjadi madu mu di sisa hidupku. Terimakasih karena sudah mau mengurus Mbak yang sudah sekarat ini.."
"Mbak!" seru Risma
Dilla terkekeh, ia menarik Risma untuk mendekatinya. Risma menurut. Dilla memeluk Risma dengan erat. Begitu pun dengan Risma.
Ia terisak.
"Mbak titip suami kita sama kamu. Mas Arta pemuda yang baik. Kamu beruntung mendapatkannya. Dan Mbak pun begitu. Berikan nama yang baik untuk anak kita. Mbak sudah menyiapkan namanya. Ambil nanti di laci nakas kamar Mbak. Mbak harus pergi.. Hah.. Waktu mbak sudah dekat. Antarkan Mbak, Risma.. Mbak beruntung memiliki madu sekaligus adik sepertimu. Kamu adik perempuanku. Terimakasih karena kamu sudah mengajarkan banyak hal padaku dan rela berbagi suami dengan ku. Aku beruntung bisa tinggal dirumah ini. Antarkan Mbak, Risma.. Mbak mau pu hah lang.."
__ADS_1
Ddduuaarr!!
"Nggak! Hiks.. Mbak Nggak boleh pergi! Mbak harus tetap disini sampai aku melahirkan loh.. hiks.. Abang! Bilangin Mbak Dilla! Dia nggak boleh pergi sebelum anak kita lahir! Dia udah janji sama kita berdua! kalau dia yang akan memberikan nama untuk anak kita! Hiks.. Hiks.." isak Risma masih di dalam pelukan Dilla yang semakin mengendur.
Dilla masih sempat tersenyum saat Risma mengurai pelukannya. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata terpejam, bibirnya menyebutkan lafadz terputus-putus.
Arta dan Risma menuntunnya untuk pulang dengan air mata yang sudah beruraian. Arta tersedu. Risma pun demikian. Bahkan Risma yang paling kuat tersedu.
Semua yang ada disana melihatnya.
"Lla- ila.. Ha-ahaillallah.. Mu-muham-madurra-rasulullah... Mas Arta.. Ris.."
"Haaaaa... Tidaaakkk!!" pekik Risma sekuat tenaga saat melihat Dilla yang sudah tidak bernyawa. Arta memeluk erat tubuh Dilla dengan menangis kuat.
Ia terisak-isak sambil memeluk erat jasad Dilla. Ia mengecup kening Dilla hingga berulang kali. Risma semakin kuat tersedu.
Ia menangis sambil memeluk erat tubuh Dilla yang kini berada di pelukan Arta. Mama Dilla pingsan melihat putri sulungnya telah pergi untuk selamanya.
Kediaman Arta menjadi riuh seketika. Acara nujuh bulanan Risma berubah menjadi acara duka untuk keluarga besar Arta dan Risma.
Tetapi mereka bersyukur karena Arta dan Risma mengabulkan segera permintaannya.
Risma dan Arta masih saja tersedu memeluk erat tubuh Dilla yang kini telah kaku dan tidak bergerak lagi.
Wajah pucat itu tersenyum lembut kala Arta melepaskannya hingga membuat Arta dan Risma kembali tersedu-sedu.
__ADS_1