Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
99% Akurat!


__ADS_3

"Sudah lama menunggu?" tanya Arta pada semua yang ada disana sambil menuntun Risma yang berjalan sangat pelan.


Arta dengan sabar menunggunya untuk berjalan menuju dimana keluarganya saat ini berkumpul. Kak Ira dan Annisa mendekati keduanya dan mengambil si cantik bidadari Arta itu.


Keduanya segera membawa keponakannya itu ke sisi lain. Arta mendudukkan Risma di sofa panjang dimana Bunda Zizi kini sedang menaju tamunya itu.


Farhan melihat Arta dan mengangguk. Arta mengangguk. "Bawa kemari hasilnya Han!"


"Ini Tuan," ucap Farhan seraya menyerahkan hasil tes DNA yang masih tersegel itu.


Semua orang menanti dengan harap-harap cemas.


Di tangan Arta saat ini ada tiga amplop berwarna putih yang diatasnya tertulis nama masing-masing disana.


Arta menyerahkan kedua amplop itu pada yang berhak. Karena mereka sangat ingin mengetahuinya.


Untuk dirinya sendiri, itu tidak penting. Karena ia sudah tahu arti dari hasil tes itu yang memang 99% akurat anak kandungnya. Darah daging nya bersama Risma.


"Buka dan baca. Baru setelahnya kita putuskan. Hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua."


Deg!


Jantung kedua lelaki itu berdegup sangat kencang. Tangan keduanya bergetar saat memegang amplop putih itu.


Arta tersenyum tipis melihat itu. Risma pun demikian.


"Baru amplopnya saja kalian sudah gemetaran? Bagaimana kalau tahu isi nya seperti apa? Pastilah kalian akan shock setenagh mati!"

__ADS_1


Deg, deg, deg..


Ucapan Risma baru saja membangunkan sisi takut pada dua pemuda itu yang kini di apit oleh kedua mamanya yang juga terlihat sangat takut sekaligus penasaran.


Keduanya melirik bersamaan dan mengangguk kecil. Tangan keduanya berkeringat dingin saat ini. Tubuh keduanya menggigil saat baru membuka segel rumah sakit saja.


"Bismillah.." keduanya berucap bersamaan.


Mereka menarik secarik kertas itu dan mengeluarkannya dari amplop putih itu. Keduanya membaca dengan seksama isi dari hasil tes itu.


Hingga dia akhir kertas itu tertera,


"Negatif??" keduanya berseru bersamaan.


Arta terkekeh, "Ya, Negatif! Dan yang Positif itu ada ditangan ku!"


Hancur lebur dunia kedua lelaki itu seketika. Wajah mereka terkesiap saat Arta menunjukkan kertas putih miliknya yang menunjukkan tulisan..


"POSITIF! Itu artinya kedua bayi yang Risma kandung itu anakku! Darah dagingku! Bukan anak kalian berdua seperti yang kalian katakan selama ini! Buktinya 99% akurat!"


Ddduuuaarr!!


Lagi, kedua pemuda itu dihantam petir berkekuatan seratus watt di kepala mereka. Kepala keduanya mendadak pening.


Ibu Widya dan Widuri membaca kertas yang ada di tangan anak mereka. Kemudian kertas yang ada di tangan Arta saat ini.


Keduanya bernafas lega. Dan ketika melihat kepada kedua anaknya itu, tatapan menghunus jantung pun tertuju kepada mereka yang membuat kedua pemuda itu semakin pucat wajahnya dan mereka sangat sulit menelan ludahnya dengan getir.

__ADS_1


"Ini yang kalian maksud dengan anak kalian berdua? Huh?" seru ibu Widya pada Bagas yang kini tertunduk lesu bercampur malu.


Ibu Widuri pun demikian. Ia menatap Andi dengan tatapan datar dan dinginnya. "Kita pulang! Tunggu hukuman untuk kalian berdua! Dasar anak tidak tahu malu! Bisa-bisanya kamu jajan diluar padahal istri kamu dirumah pun sama seperti istri Dokter Arta saat ini! Bahkan kedua wanita shalihah itu merupakan sahabat dekat Risma jika keduanya sedang melakukan pengajian! Tahukah kamu anak berandalan?! Risma itu ustadzah di komplek kita yang sering dibicarakan oleh ibu-ibu disana! dan kalian berdua?" ucapnya pada Andi dan Bagas yang kini terkejut mendengar ucapan Ibu Widuri tentang Risma.


Arta dan keluarga besarnya tersenyum tipis saat ibu Widuri mengatakan siapa Risma yang sebenarnya.


"Cih! Mama malu memiliki anak yang tidak punya akal pikiran seperti kalian! Bisa-bisanya kalian berdua menuduh seorang ustadzah melakukan hal itu?? Huh?! Mama benar-benar malu dengan kalian berdua. Papa kalian saat ini pasti sangat kecewa dengan kelakuan kalian ini!" ujar Ibu Widuri lagi yang begitu kesal terhadap kedua lelaki tampan itu.


Kedua lelaki itu menunduk malu. Mereka sangat malu saat ini. Rasanya ingin sekali wajah itu mereka tenggelamkan ke dalam lubang hitam yang kini sedang menunggu mereka.


Tetapi itu tidak mungkin. Karena keduanya saat ini sedang berada dirumah Arta dan Risma.


Arta dan Risma terkekeh kecil melihat kedua lelaki itu.


"Sudah jelaskan sekarang? Siapa disini yang berbohong? Saya atau kalian berdua? Kalian berdua sudah mencemarkan nama baik saya dengan mengatakan jika saya ini seorang wanita tidak baik yang rela berbagi lubang dengan kalian berdua! Saya tahu hukum dan dosa saudara Bagas dan Andi! Saya tidak mungkin menjerumuskan diri saya dalam kubangan dosa yang saya memang sudah tahu seperti apa dosa dan akibatnya!


Saya tidak marah dengan kalian berdua. Saya hanya kecewa. Kenapa sebagai seorang yang berpendiikan dan memiliki ilmu yang cukup tidak bisa memahami mana yang baik dan mana yang tidak?


Saya akui jika saya ini hanya manusia rendahan biasa yang tidak memiliki gelar ataupun ilmu yang cukup. Tetapi setidaknya saya bisa berfikir.


Allah menganugerahkan akal dan pikiran kepada kita untuk berfikir. Apakah jalan yang kita ambil itu benar atau salah? Dan bisa merugikan orang lain??


Kalian itu pria memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Tetapi bisanya kalian melakukan hal ini kepada saya. Seharusnya kalian itu cari buktinya dulu. Jangan langsung berasumsi jika bayi di dalam perut saya itu merupakan anak kalian berdua.


Bukankah saya pernah bilang. Kalian pasti salah orang. Tidak semua yang berhijab itu Risma! Masih banyak wanita lain diluar sana yang sama seperti Risma.


Kalian salah menilai saya. Tapi tak apa. Saya memaafkan kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2