
"Bang Arta. Kamu seorang suami. Kamu harus bersikap adil kepadaku dan juga Mbak Dilla. Ku Mohon.. Jangan jadikan aku seorang wanita yang merebut suami wanita lainnya. Mengerti posisiku Bang Arta. Aku bersyukur mendapatkan suami seperti mu. Tetapi aku tidak mau, karena kamu lebih condong padaku, kamu melupakan Mbak Dilla. Walau bagaimana pun ia tetaplah istrimu yang sah. Walau tidak tercatat di pengadilan, tetapi ia tetap istri sah mu secara agama. Kamusudah mngucapkan ijab atas namanya, Bang Arta. Tidak perlu di daftarkan di KUA saja pernikahan kamu sudah sah. Apalagi kalau di daftarkan."
"Aku menolak jika kamu lebih condong padaku tetapi tidak bisa adil padanya. Kamu harus adil bang Arta.. Allah tidak menyukai seorang suami yang lebih condong kepada istri yang lain sedang yang lainnya kamu tidak berbuat adil padanya. Ketahuilah Bang Arta. Tak ada seorang istri pun yang mau dirinya di madu. Termasuk aku! Tetapi aku aakn menjadi istri yang baik untuk suamiku dan bersikap adil pada istrimu yang lain. Madu ku. Untuk sekarang kamu bisa menganggap jika Mbak Dilla belum lagi memikirkannya. Tetapi jika suatu saat ini terjadi, aku yakin dia pasti akan datang kesini dan menuntut pertanggung jawaban mu yang sama kamu berikan kepadaku. Mengertilah bang Arta. Mbak Dilla pun seorang wanita.." lirih Risma dengan dada yang begitu sesak.
Arta yang mendengarnya tertegun dengan mata berkaca-kaca. Bibir itu melengkung membentuk senyuman manis.
"Tetapi Abang tidak bisa, Ris. Hubungan pernikahan Abang dengannya tidaklah sehat,"
"Abang bisa membuatnya menjadi sehat kok."
"Nggak bisa sayang. Kamu tidak mengenal seperti apa Faradilla yang sebenarnya."
__ADS_1
"Seburuk apapun Mbak Dilla, dia tetaplah istrimu. Dia istri sah mu Bang Arta, jangan lupakan itu!"
"Nggak! Abang nggak mau!" bantah Arta dengan tegas.
"Harus mau! Karena aku tidak mau dianggap perebut laki orang. Berbeda jika kamu sudah duda, Bang Arta.."
Deg!
Deg!
Akibat pernikahan status itu, Risma yang baru saja ia nikahi menanggung beban ini. Sedang Dilla?
__ADS_1
Entahlah.
Arta pun tidak tahu dengan istri statusnya itu saat ini. Yang ia pikirkan hanya Risma, bukan wanita lain.
"Nggak bisa sayang. Sekali aku berjanji menyebut nama mu di dalam hati dan mulutku, maka selamanya akan kamu. Tidak ada yang lain!" Arta menunjuk jari telunjuknya dihadapan Risma yang ingin membantahnya. "Kamu tidak bisa memaksa Abang, Risma. Abang tahu mana yang terbaik dan aman yang tidak. Untuk saat ini, Abang hanya ingin kamu. Bukan wanita lain! Paham?" tegas Arta yang membuat Risma menggelengkan keplanya.
"Nggak. Kalau Abang tetap tidak menerima Mbak Risma maka aku juga tidak mau tinggal bersama Abang. Lebih baik aku tinggal di supermarket saja. Kalau kamu tidak bisa berbuat adil, kamu yang berdosa Bang. Aku pun sama.. Mengertilah. Jangan egois. Oke, jika hal yang satu itu kamu tidak bisa, paling tidak nafkah lahir kan bisa?" peringat Risma lagi masih berusaha mengingatkan Arta. "Ingat Bang. Kamu juga sudah menyebutkan ijab sama sepertiku. Baik itu dengan cara lain atau pun apa, yang jelas sekarang Mbak Dilla tetaplah istri pertama mu. Dan aku yang kedua. Mengertilah Bang Arta.." Risma masih berusaha mengingatkannya.
Tetapi yang diingatkan tetap pada pendiriannya. "Nggak bisa sayang! Sekali Abang memutuskan, maka Abang tetap seperti itu. Walau kamu memaksa ku seperti apa, maka aku tidak akan menurutinya. Ada hal yang tidak bisa aku terima dari istri pertama ku. Kamu akan tahu jika kamu bertemu dengannya. Untuk sekarang, cukup sampai disini. Jangan paksa Abang, Risma! Abang nggak akan bisa menerimanya!" tegas Arta untuk yang kesekian kalinya.
Risma menatap Arta dengan dalam, "kalau begitu. Selama Abang tidak menerima Mbak Dilla, maka selama itu juga kita tidak bisa hidup bersama, sama seperti Mbak Dilla. Aku juga akan pindah kerumah lain! Ini keputusan ku!
__ADS_1
Deg!
Deg!