Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Melahirkan bayi kembar


__ADS_3

"Abang, aku mau melahirkan! Bawa aku kerumah sakit!"


Deg!


"Apa! Mau melahirkan?! Astagfirullah! Gimana ini? Abang harus apa? Dimana kunci? Ban serep? Linggis? Ah bukan-bukan! Gunting? Jarum? Botol infus?! Farhan!!!!" teriak Arta semakin panik saja saat melihat Risma yang semakin kesakitan.


Ingin sekali Risma tertawa, Tetapi itu tidak mungkin. Saat ini perutnya sedang sakit sekali. Bahkan sangat sakit. Hingga rasanya seluruh tulangnya patah semua saking sakitnya.


Risma duduk dikursi Dilla sembari menghela nafasnya. Di tangannya saat ini sudah ada secarik kertas nama untuk kedua anaknya dari Dilla.


Nama pemberian Dilla yang sempat Dilla bisikkan tadi sebelum Risma merasakan sakit di perutnya. Risma membuka secarik kertas itu dan tersenyum di sela-sela sakitnya.


"Nama yang cantik! Abang, hubungi Kak Ira dan Kak Annisa! Mereka bisa menyiapkan segala sesuatunya Egghh.. Huufftt.." ucapan Risma terputus lagi saat merasakn mulas di perutnya.


Arta yang mendengar ucapan Risma segera menghubungi Kak Ira dan kak Annisa. Ia berbicara dengan panik hingga kedua kakaknya itu pun menjadi panik seketika.


Keduanya bergerak cepat menuju rumah Arta yang berjarak satu jam lamanya. Mereka berdua bertugas untuk menyiapkan segala kebutuhan Risma dan juga bayi kembarnya.


Risma di sela-sela rasa sakitnya segera meminta Arta untuk menuntunnya menuju ke bawah. Mereka akan ke rumah sakit.


Sempat terjadi perdebatan disana. Jika Arta menyuruh Risma untuk naik lift, sedang Risma ingin turun tangga. Agar pembukaan lebih cepat katanya.


Arta semakin marah dan panik seklaigus saat melihat risma yang semakin kesakitan saat menuruni tangga. Satu undakan tangga, berhenti.

__ADS_1


Tiba di undakan lainnya pun begitu yang membuat Arta semakin panik saja. Ingin ia menggendong Risma, tetapi Risma sendiri tidak mau.


Arta mengusap wajah Frustasi. Ia berteriak sekuatnya memanggil Farhan yang juga sedang menuntun istrinya yang ternyata akan melahirkan juga.


Kedua lelaki itu tepuk jidat bersamaan.


"Inilah akibatnya mencetak dan jadi di saat bersamaan tuan! Kita jadi riweh sendiri kan?" ucap Farhan yang diangguki oleh Arta masih dengan wajah paniknya.


Ia mengemudikan mobil dengan sangat pelan, saking takutnya kedua wanita yang duduk dibelakang itu kesakitan karena mobil yang ia bawa terlalu kencang.


Yanti dan Risma memekik kuat hingga keduanya terkejut. Spontan saja Arta menginjak rem hingga mobil itu melaju dengan kencangnya.


Dua suami itu sedang panik saat ini. Mobil itu melaju dengan kencang. Cukup lima belas menit saja. Ke empatnya sudah tiba dirumah sakit.


Arta dan Farhan berdecak saat mengingat sesuatu. "Jika Dilla masih hidup, pastilah akan lebih riweh dari ini. Mana yang harus aku dulukan Han? Jika keduanya hamil bersamaan?" tanya Arta pada Farhan sambil berjalan cepat mengikuti istri mereka yang akan dibawa masuk ke dalam ruang persalinan.


Farhan terkekeh mendengar ucapan tuan nya itu. "Celana anda pasti akan cabut tuan!" ia tergelak


Arta mendengkus. "Bukan celana yang cabut Han! Tetapi rambut dan itu ku yang jadi keriting gara-gara menghamili dua wanita sekaligus. Dan saat hamil serta melahirkan pun bersamaan! Bertambah riweh euuyy!" celutuk Arta yang disambut gelak tawa oleh Farhan.


Keduanya tertawa bersama mengingat jika Arta sampai menghamili keduanya dalam waktu yang bersamaan.


Ada saja ulah keduanya. Bukannya panik, tapi malah membuat lelucon lucu disaat istri mereka akan melahirkan.

__ADS_1


Arta dan Farhan diminta dokter untuk menemani istri mereka berjuang melahirkan kedua anaknya.


Rima sekuat tenaga berjuang mengeluarkan bayinya hingga wajahnya pucat bagai tidak berdarah.


Begitu pun dengan Yanti. Ia sangat beringas dibanding kan dengan Risma. Yanti menarik rambut Farhan sampai rontok beberapa helai. Kepala Farhan dibuat pusing seketika. Belum lagi jeritannya itu yang membuat dokter dan bidan yang membantunya sangat kesal padanya.


Sementara Risma, ia tidak bersuara sedikit pun. yang membuat Arta menangis sesegukan melihat Risma tidak bersuara karena begitu menahan sakit yang tiada tara di perutnya.


satu jam kemudian, ruang bersalin yang di dalamnya ada dua orang itu kini riuh dengan suara bayi menangis yang saling bersahutan.


Arta dan Farhan menangis bersamaan. Mereka terharu melihat perjuangan istri mereka yang begitu kuat dan dengan suka rela telah melahirkan kedua bayi nya.


Arta mengecup seluruh wajah Risma yang saat ini sedang terlelap karena kelelahan. Arta tersenyum haru saat melihat kedua bayi nya ternyata perempuan.


Kedua bayi itu sangat mirip dengannya. Arta mengecup kening bayinya yang kini di letakkan di dada Risma yang terbuka.


Ia tertawa saat dokter mengatakan,


"Wuuaah.. Putrinya sangat cantik ya dokter Arta? Pastilah banyak pemuda tampan yang mengejarnya nanti!"


Deg!


Senyum Arta surut seketika saat mengingat dua orang lelki yang masih menunggu jawaban darinya tentang kedua darah dagingnya itu.

__ADS_1


Wajahnya datar dan dingin seketika. Farhan yang tahu segera mendekati tuannya itu.


__ADS_2