
Melihat seluruh keluarga mengangguk setuju, Arta pun segera beranjak mengikuti mereka semua.
Pak Roni harus diberikan ruangan khusus dan dijaga ketat oleh anggota Arta.
Annisa masih tertegun melihat itu. Gadis mana yang dinikahi Arta hingga harus membuat penjagaan begitu ketat di sekitar Pak Roni? Dan juga kenapa ia sampai dikawal seperti itu? Batin Annisa masih meraba-raba mencari kebenaran dari apa yang dilihatnya.
Sementara di dalam kamar hotel 303, Risma sudah merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Mendadak tubuh itu kepanasan. Seperti ingin mandi, tetapi bukan.
Ada sesuatu yang berkedut dan menginginkan lebih. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bulunya meremang saat sapuan angin AC dikamar itu menembus pori-porinya. Bu Halimah menyeringai melihat itu.
Dengan segera, ia menghubungi dua orang pria yang tadi terus menghubunginya untuk datang ke hotel AZ dan mengatakan jika Risma berada di kamar 303.
Ia keluar dengan segera dan orang-orang itu segera menuntunnya untuk menuju dimana Pak Roni berada. Ia tersenyum puas saat memikirkan rencananya berhasil.
"Sekali tepuk dua tiga lalat, mati!" gumamnya tanpa suara.
Dan gelagatnya itu terbaca oleh petugas hotel itu. Dengan segera ia mengirimkan pesan kepada Arta.
Ting!
Arta merogoh saku celananya dan membaca pesan itu.
Deg!
__ADS_1
Jantungnya serasa ingin lepas ditempat. Tanpa berkata sepatah katapun ia segera berlari meninggalkan saudaranya yang kini sedang menunggu jawaban darinya.
Arta terus berlari dengan cepat. Hingga di ujung lorong, ia dapat melihat dua orang pria dengan keadaan yang sedang mabuk menuju ke kamar miliknya.
Dengan cepat ia masuk ke kamar salah satunya dan menuju pintu rahasia yang langsung tertuju pada kamar 303. Dimana Risma saat ini berada.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Nafas Arta memburu karena kelelahan saat berlari tadi. Ia mencari ke sekeliling dimana Risma berada. Ternyata Risma saat ini sedang duduk di pojok ruangan dengan keringat dingin mengalir di dahinya.
Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Arta mendekatinya dan berjongkok dihadapan Risma.
Bau parfum yang baru pertama kali Risma cium membuat naluri wanitanya menginginkan lebih. Ia segera menoleh pada Arta.
Jantung keduanya berdetak tidak menentu. Risma mendekat padanya. "Tolong aku.. Ssstt.. Ah.." desisnya saat tangan Arta menyentuh lengannya.
Arta tersenyum manis, "Tentu istriku. Kita pergi dulu dari kamar ini. Banyak sekali yang memburu mu." Sahutnya dengan segera mengangkat tubuh halus itu ke dalam gendongannya.
Membuat Risma semakin tidak terkendali. "SSsttt.. Tolong aku.. Aku sudah tidak tahan.." lirihnya dengan segera menautkan putik ranum miliknya dan Arta yang membuat pemuda dewasa itu terkejut.
Tetapi ia tidak menolaknya. Malah ia mengikuti permainan sang istri yang begitu menginginkannya.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu depan terbuka seiring dengan pintu rahasia itu terkunci dengan rapat. Kedua orang pria yang sedang mabuk itu menatap sekeliling dengan pandangan mengabur.
"Risma!!!" seru keduanya bersamaan
Keduanya berkeliling mencari Risma. Tapi tak juga mereka temukan. Hingga suara pintu terbuka mengalihkan keduanya.
Terlihat dua orang wanita berhijab dan memakai gamis sedang mendatangi mereka.
"Kita kekamar sebelah ya Mas?"
"Risma?"
"Ya, ayo!" katanya sambil menuntun salah satu orang lelaki itu.
Sementara yang satu lagi saat ini sedang menikmati cumbuannya dengan gadis berhijab yang ia kira itu Risma.
"Kita harus keluar dari kamar ini. Jangan disini. Aku sudah menyiapkan tempat untuk kita!" imbuhnya sambil berbisik membuat lelaki itu mengerang halus.
Dengan segera wanita berhijab itu membawa lelaki mabuk itu untuk keluar dari kamar sang pemilik hotel itu.
Sedangkan sepasang anak manusia yang baru saja sah terikat pernikahan itu pun sedang menikmati setiap sentuhan yang memabukkan untuk pertama kalinya.
Rasa yang belum pernah keduanya rasakan kini mereka rasakan. Terutama Arta. Pemuda dewasa itu sangat menikmati momen itu dengan Risma.
Ia harus melakukan ini. Karena dengan ini, ia akan mengikat Risma bersamanya.
__ADS_1
Untuk cinta, Arta sudah jatuh cinta pada istrinya pada pandangan pertama.
Sedangkan Risma, cinta itu akan hadir saat mereka sudah terbiasa bersama.