
Risma tersadar dari tidurnya saat alunan merdu mengalun lembuat di telinganya. Ia membuka kedua matanya dengan paksa.
Walau berat Risma tetap bangkit. Kepalanya begitu pusing saat ini. Ia rasanya tidak berdaya untuk bangkit.
Tetapi ia paksa karena alunan merdu itu semakin terngiang di telinganya. Ia bangkit dengan perlahan.
Arta yang amsih terlelap tidak sadar jika Risma sudah lepas dari pelukannya.
Risma berjalan sambil menunpu tubuhnya di dinding karena kepalanya semakin pusing saat ini.
Sedikit demi sedikit ia melangkah. Hingga akhirnya ia tiba juga di kamar Mandi.
Tiba disana ia langsung saja mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.
Sedangkan Arta tersentak saat ponsel miliknya berdering. Ia duduk dengan memijit pelipisnya.
Arta melototkan matanya saat menyadari ada puluhan tidak terjawab dari nomor Farhan.
Dengan segera ia mendial nama Farhan, "Iya Han, ini Abang baru bangun. Tunggu sebentar. Sepuluh menit! Ya, kamu tunggu saja di mobil!" ucapnya sambil bergegas ingin ke kamar mandi tetapi berhenti saat mendengar gemiricik air pertanda Risma sedang di dalam. Arta kembali ke ranjang. Ia mengambil tas dokter miliknya, baju celana serta yang lainnya.
Setelah itu ia keluar menuju kamar tamu yang ada di sebelah kamar mereka. Arta bersiap disana.
Cukup lima menit saja sudah cukup. Ia sholat sebentar. Kemudian berlari keluar melewati Dilla yang terpaku menatap kepergiannya degan terburu-buru.
Mata itu menatap nanar pada punggung Arta yang berlalu pergi. "Tak ada gunanya jika aku memasak. Lebih baik aku masuk ke kamar lagi saja!" ketusnya kesal sambil melihat punggung Arta yang menghilang dibalik pilar-pilar rumah Risma.
Ia berbalik dan menuju ke kamarnya. Saat melewati kamar Risma, ia terpaku melihat Risma yang sedang khusyuk beribadah.
Pintu kamar Risma yang tidak tertutup rapat bisa terliaht jelas jika Risma saat ini sedang sholat. Dilla melengos, kemudian berlalu menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Risma yang memang sudah tidak sanggup menahan pusing di kepalanya pingsan di sajadahnya.
Ia tidak sadar apapun lagi saat ini. Kepala yang terasa sakit dan tubuh yang terasa panas dingin membuat Risma semakin tidak karuan.
Ia jatuh pingsan karena demam.
*
*
*
Sore harinya.
Arta pulang diwaktu ashar karena tugasnya yang sudah selesai dan juga ia sangat khawatir dengan Risma yang ia tinggalkan tanpa sepatah kata pun.
Saat Arta membuka pintu rumah nya dengan kunci serap, Arta terdiam.
Hening.
Tidak ada sahutan seperti biasanya.
Ia melihat ke sekeliling dan mencari keberadaan Risma. Tetapi yang dicari tidak ada dan tidak terlihat.
Ia melngkah masuk dan menuju ke dapur. Tiba disana, ia terpaku sejenak saat melihat meja makan mereka penuh dengan piring kotor dan juga boks makanan cepat saji.
Arta berdecak.
"Pasti Dilla yang melakukan semua ini. Jika Risma itu tidak mungkin! Aku sangat mengenal siapa Dilla!" ucapnya kesal sambil meletakkan tas serta jas dokternya dan mulai membersihkan meja makan mereka yang terlihat kotor.
__ADS_1
Cykup lima belas menit, meja makan miliknya sudah kembali bersih seperti biasanya. Arta tersenyum.
"Selesai! Sebaiknya aku ke kamar saja. Barangkali Risma di kamar. Ck. Yanti lagi. Kenapa harus pergi kerumah orang tua nya disaat keadaan seperti ini? Berharap pada Dilla? Heh! Yang ada meja makan dirumah ku kotor dibuatnya! Apa yang bisa dilakukan oleh wanita itu selain duduk manis dan memuaskan nafsu pria haus akan hartanya?! Hiii.. Serem aku punya bini yang kayak begitu!" Ucapnya bermonolog pada diri sendiri sambil terus berjalan menaiki tangga untuk menuju lantai dua dimana kamar keduanya berada.
Tiba di depan pintu kamarnya, ia segera membuka pintu.
Deg!
Deg!
Pemandangan pertama yang ia lihat ialah Risma yang terkapar dilantai masih menggenakan mukenah nya.
"Astaghfirullah! Sayang! Risma! Kamu kenapa tiduran di lantai kayak begini?!" serunya dengan panik dan segera memegang tubuh Risma untuk di pindah ke ranjang.
Deg!
Deg!
Lagi, Arta terjingkat kaget saat mersakan tubuh Risma sangat panas. Sesekali bibir itu memanggilnya dengan lirih.
Arta diserang panik. Ia mencari sesutu yang bisa menurunkan panas Risma. Walau ia seorang dokter bedah, ia tetaplah seorang dokter.
Sebelum mengambil spesialisnya, Arta juga seorang dokter umum. Seperti dokter lainnya.
Ia segera memeriksa keadaan suhu tubuh Risma.
"Tinggi sekali panasnya!" ucapnya dengan segera mengambil alat di dalam tas kerjanya dan segera mengambil botol infus, jarum serta selangnya.
Keudian ia segera menusukkan jarum itu ke taagn Risma. Risma sudah tidak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
Sedari subuh sampai sore ia tidak bisa bergerak ataupun berbicara lantaran kepalanya yang cukup pusing hingga ia jatuh pingsan.