
Arta segera membawa Risma masuk dan menuju ke kamarnya. Tiba di dalam kamar, bukannya ia mandi tetapi malah memeluk Risma dengan erat.
"Jangan pernah tinggalkan Abang, sayang. Abang tahu diri ini tidak sempurna. Abang masih banyak kekurangan. Tapi bisakah kekurangan ini menjadi motivasi di dalam hidupmu??" ucap Arta pada Risma yang kini tertegun karena ucapan Arta padanya.
Risma mengurai pelukannya dan memegang rahang tegas milik Arta. Ia mengusap kumis tipis di atas bibir Arta dan mengecupnya sekilas walau harus berjinjit karena Arta lebih tinggi darinya yang hanya sekitar 155 centi meter saja.
Sama kayak othor! 🤣
Arta memejamkan matanya saat Risma bukan hanya mengecup bibirnya. Tetapi juga seluruh wajahnya yang selalu membuat Risma merasakan rindu jika tidak melihatnya.
"Dengarkan Risma, Bang Arta!"
Arta membuka kedua matanya dan menatap lembut pada Risma yng kini menatapnya dengan tatapan teduhnya.
"Ketika aku menerima kamu menjadi suamiku dunia dan akhirat, aku sudah menerima kelebihan dan kekurangan mu. Kelebihan mu bisa menutupi kekurangan yang ada pada diriku. Sedangkan kekurangan mu bisa tertutupi dengan kelebihan yang aku miliki. Kita sama-sama tidak sempurna Bang Arta. kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kita manusia yang sudah menikah dan membina rumah tangga memang harus saling menutupi satu sama lainnya."
"Bukan menghujatnya karena kekurangannya itu. Jika kamu sempurna, maka aku kekurangan. Jika kamu kekurangan, maka kesempurnaan yang ada pada diriku bisa menutupinya. Kita saling terikat dan saling menutupi satu sama lain. Aku istrimu yang merupakan pakian mu. Jika pakaian itu kuyak, maka kamu harus menutupinya dengan kelebihan yang kamu miliki. Tidak semua kesempurnaan itu kita bisa miliki Bang Arta. Biar kita kekurangan asal kita bisa saling menutupi. Itu sudah cukup untuk rumah tangga kita berdua."
"Dan.. Untuk Mbak Dilla sendiri. Kamu harus bisa membawanya ke jalan yang lurus. salah satunya dengan cara menyadarkannya. Kamu sudah melakukannya tadi. Dan ia sadar akan kesalahannya itu. Hanya saja, jangan mengusirnya dari sini. Bagaimana pun Mbak Dilla masih istri kamu. Terkecuali mantan kamu. Kalaupun mantan, tidak perlu sekasar itu padanya. Tugasmu hanya menegur dan mengingatkan. Bukan menghukum. Paham?" ucap Risma yang membuat mata Arta kembali berkaca-kaca setelah kemarin malam mereka menangis bersama karena ucapan Risma juga.
__ADS_1
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Arta mengecup seluruh wajah Risma yang membuat Risma tertawa karena kegelian. Arta memeluknya dengan erat. Bahkan sangat erat.
Saking eratnya, Arta tidak ingin lepas sekalipun.
Risma yang mendengar pengakuan suaminya kembali merasakan bahagia yang tiada tara. Tetapi itu hanya sebentar saat mengingat jika ada Dilla yang juga perlu untuk Arta rangkul sama sepertinya.
"Aku juga sangat mencintaimu Bang Arta. Bahkan sudah sedari dulu. Aku sadar diri ini sepenuhnya milikmu. Tetapi tidakkah kamu menyisakan sedikit saja ruang hatimu untuk istri tua mu? Mbak Dilla?"
Arta yang sedang terharu tiba-tiba saja berhenti. Ia mengurai pelukannya dan menatap Risma dengan wajah yang sudah tertawa.
"Istri tua? Dilla masih muda sayang! Haha.. Dia sebaya Abang loh.." bantah Arta masih dengan tertawanya karena merasa geli saat mengingat rekaman video yang di kirim istri Farhan tadi siang.
__ADS_1
Risma terkekeh, "Lah.. Kan emang iya Abang. Kata Mbak Yanti tadi, kalau Aku ini istri muda maka Mbak Dilla istri tua! ya bukan berarti dia sudah tua Abang! Yang kayak nini-nini. Lah wong kulitnya saja amsih mulsu begitu? Darimana nya dia sudah tua? Hanya saja.. kata perumpamaan nya itu loh sampa-sampai Mbak Dilla sangat marah pada Mbak Yanti tadi!" ucap Risma yang menimbulkan gelak tawa dari Arta hingga terdengar sampai keluar kamar mereka berdua.
Dilla yang kebetulan ingin kek kamarnya setelah dari bawah tadi, merasa tercubit hatinya.
"Hiks.. Andai.." lirihnya dengan dada yang begitu sesak.
Ia pun memilih berlari masuk ke kamarnya karena tidak menahan rasa sesak di dadanya akibat mendengar suara tertawa Arta yang selama ini tidak pernah ia dengar saat bersamanya.
Sekarang baru ia sadari jika selam ini perbuatannya itu salah. Dilla juga mersa sangat salut pada Rismay ang menerimanya dengan tangan terbuk tadi walau sempat ia sengaja membuat onar.
Sengaja ingin memancing amarah Risma. Tetapi apa yang ia dapat? Madunya itu sangat baik padanya. Bahkan tidak terpancing sedikit pun dengan ucapannya itu.
Dilla merasa rendah diri saat melihat kelakuan Risma padanya. Risma sangat menghormatinya dan menganggapnya seperti kakak nya sendiri.
Bahkan saat makan siang pun Risma rela mengantar makanan itu padanya walau ia menolaknya ribuan kali. Masih terngiang ucapan Risma tadi yang membuat hatinya sedikit terketuk.
"Mbak.. Kita ini wanita yang sudah fitrahnya menjadi seorang istri. Kewajiban kita untukselalu membuatnyasenagn dan nyaman disamping kita. Kita tidak boleh pergi dan menghindar saat dirinya membutuhkan kita. Berdosa bagi seorang istri yang menolak suminya ketika suami kita menginginkan kita. Berdosa bagi seorang istri yang lebih menyukai bersenang-senang diluar dibandingkan dirumah nya sendiri. Pernikahan bukanlah mainan Mbak. Maaf.. Kalau saya mengatakan hal ini sama Mbak. Bukan maksud saya ingin menggurui. Hanya saja sudah menjadi tugas saya untuk mengingatkan Mbak Dilla yang merupakan istri Bang Arta juga."
"Pahami sifat suami kita seperti apa Mbak. Jangan hanya diri kita yang di tuntut untuk di perhatikan. Oke, kalau Mbak nggak mau masak, tak apa. Kan ada asisten? Tugas Mbak hanya melayaninya itu saja. Coba dulu, dekati Bang Arta dengan cara seperti ini. Aku yakin, ia pasti akan luluh dengan sikap mu. Kuncinya kamu harus banyak bersabar dan ikhlas. Ikhlas bisa membuat hatimu lapang sedang dengan kamu bersabar, maka kamu bisa membuat dirimu lebih bisa mengontrol diri," nasihat Risma pada Dilla yang tadi sempat membuat ulah padanya.
__ADS_1
Dilla semakin tersedu di dalam kamarnya.