Rahim Rebutan

Rahim Rebutan
Undangan


__ADS_3

"Jika tujuan mu hanya untuk membuatku luluh padamu, maaf. Tidak sedikit pun aku luluh dengan sikap mu. Tunggu satu minggu lagi. Aku akan meluruskan segala nya. Sekarang kamu masuk ke kamar kamu dan jangan keluar sebelum saya dan Risma masuk kemara kami, mengerti?!" ucap Arta penuh penekanan pada Dilla yang kini matanya kembali menggenang.


Sulit sekali meluluhkan hati Arta. Sudah tiga hari ia tinggal disana, bukannya mendapat perhatian dan pengakuan malah selalu penolakan yang ia dapat.


Dilla pasrah. Ia mengambil semua paper bag nya dan berjalan menuju ke lantai dua di mana kamar nya berada.


Risma menghela nafasnya. "Bang.. Nggak boleh gitu loh.. Bagaimana pun Mbak Dilla itu istri kamu." Lirih Risma pada Arta


Yang membuat pemuda dewasa itu berdecak sebal dengan ucapan istri tercintanya. "Iya istri. Tetapi hanya istri status!" ketusnya semakin kesal saat mengingat jika belum apa-apa harga dirinya sebagai seorang lelaki sudah di injak oleh Dilla.


"Bang.. Mengertilah. Pahami posisi nya dirumah ini."


"Nggak akan! Sekali Abang mengatakan tidak, selamanya akan tidak! Kamu satu-satu nya dan untuk selamanya. Tidak ada yang lain lagi!" ketus Arta tetapi dengan suara dan tatapan lembutnya pada Risma. Namun, begitu tegas.

__ADS_1


Risma merasa hatinya menghangat saat Arta mengatakan hal itu padanya. Tapi.. Risma menghela nafasnya saat mengingat Dilla yang juga istri Arta. Suka tidak suka, terima tidak terima Dilla tetaplah istri sahnya secara agama.


Entah dengan cara apa Risna harus meluluhkan hati Arta agar mau menerima Dilla. Yang jelas pendirian Arta sangat lah kuat dan tegas.


Sekali ia mengatakan tidak, maka selamanya akan tidak. Ia akan menghormati orang itu tetapi tidak untuk mengakui nya.


*


*


*


Sengaja.

__ADS_1


Agar semua keluarga Dilla bertanya dan mendatanginya secara langsung supaya Arta bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Farhan memberikan undangan itu pada salah satu pelayan di rumah Hermawan yang saat ini sedang tidak berada di tempat.


Ia sedang melakukan perjalanan bisnis dan hari ini mereka akan pulang ke tanah air. Arta tahu semua itu. Maka dari itu Arta sengaja mengirim undangan pernikahan nya dengan Risma sebelum acara mereka dilakukan dua hari lagi.


Arta bisa menebaknya. Saat undangan itu berada di tangan Hermawan, pastilah terjadi kejadian besar yang mengakibatkan keluarga mereka shock bukan main.


Dan tepat seperti dugaan Arta. Pukul sembilan malam, ia dihubungi oleh asisten Hermawan untuk datang kerumah nya. Untuk membahas masalah undangan itu.


Arta menolaknya dengan tegas dengan alasan istrinya saat ini sedang kurang sehat. Arta tidak berbohong dalam hal ini.


Risma memanglah kurang sehat sejak ia sembuh dari demam lima hari yang lalu. Entah kenapa tubuh istrinya itu begitu rentan sakit.

__ADS_1


Berbeda saat sebelum menikah dengannya. Risma sangat lah kuat dan sangat jarang sakit. Itu yang membuat Arta sedikit cemas saat meninggalkan Risma seorang diri dirumah.


Pak Hermawan tidak terima dengan penolakan Arta. Malam itu juga dia dan istrinya bertolak kerumah Arta untuk meluruskan tentang undangan yang baru saja ia terima saat dirinya dan istri baru saja tiba di kediaman mereka setelah dua hari melakukan perjalanan bisnis keluar kota.


__ADS_2