
Singkat cerita kami masih dalam perjalanan menuju kerajaan Verdifield. Sudah 3 hari 2 malam perjalanan yang kami lalui, namun masih belum sampai juga.
"Lama sekali … " Ucapku dalam hati.
Terlihat saat itu, Kak Wulan dan Putri Isabella bermain bersama untuk mengusir rasa jenuh mereka.
"Syukurlah … Mereka rukun." Ucapku sambil tersenyum.
Sebenarnya para prajurit kerajaan, meminta Putri Isabella untuk duduk di kereta kuda depan. Namun, Dia dengan mentah-mentah menolaknya sambil berkata.
"Ha …?
…
Aku ingin duduk di kereta kuda belakang, bersama Rama dan juga Kak Wulan!"
"Tapi, Tuan Putri … " Ucap salah seorang Prajurit.
"Apa Kau tidak mendengar perintahku?!
…
Jika Kau masih menyuruhku, kupastikan kepalaku akan Ku pasung!"
Ucap Putri Isabella sambil mengancam.
Mengingat hal itu tentu saja membuatku menjadi merasa tidak enak. Namun, mau bagaimana lagi.
"Oh iya, Tuan Putri …
…
Apakah perjalanan kita masih lama?"
Tanyaku padanya.
Setelahnya Putri Isabella kemudian menyadari sesuatu, bahwa perjalanan menuju kerajaan seharusnya bisa ditempuh dengan waktu 2 hari 1 malam saja.
Dia kemudian bertanyalah kepada kusir untuk memastikannya. Kusir yang menjadi pengendara kereta kami juga merasakan sesuatu yang janggal. Dimana, Dia merasakan bahwa dari tadi kita seperti berputar-putar di tempat yang sama.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku bertanya-tanya. Bagaimana hal ini bisa terjadi, apakah ada seseorang yang sedang membuntuti kita atau tidak.
Aku bersama Kak Wulan dan juga Putri Isabella keluar dari kereta kuda.
"Semuanya … Berhenti …. !"
Teriak Putri Isabella.
"Apakah kalian tidak merasakan hal aneh?
…
Kita sedari tadi seperti berputar-putar di tempat yang sama!
…
Bukankah perjalanan pulang menuju Kerajaan Verdifield, hanya membutuhkan waktu 2 hari 1 malam saja?"
Ucap teriak Putri Isabella.
__ADS_1
Seketika itu, para prajurit terlihat bertanya ke satu sama lain. Tanda bahwa mereka juga merasakan ada hal yang aneh.
Aku kemudian melihat ke sekeliling, dan melihat adanya sepasang bola mata merah besar sedang melihat kami dari arah rindang pepohonan hutan yang sangat lebat. Saat itu, entah kenapa diriku merasakan sesuatu yang ganjil, dan memiliki firasat bahwa bahaya akan segera datang.
Tiba-tiba, dari belakang dan depan muncul dua sosok manusia bertubuh besar berwarna hijau, keluar dari lebatnya pohon hutan. Ditangan kanan mereka terlihat membawa sebuah kayu dan langsung menghantamnya ke salah satu prajurit. Seketika itu, prajurit tersebut tewas.
"Bu-buto ijo … ?" Ucapku tidak percaya.
Alhasil karena panik dengan kedatangan dua sosok buto ijo secara tiba-tiba, para prajurit terlihat kocar-kacir lari menyelamatkan diri. Namun, sebagian dari mereka ada yang melakukan perlawanan untuk melindungi Putri Isabella.
"Lindungi Putri Isabella!" Ucap teriak salah seorang Prajurit.
"Ya!" Ucap prajurit yang lain.
Walau begitu, kekuatan para prajurit kerajaan saat melawan dua sosok Buto ijo terlihat tidak seimbang. Para prajurit yang mengawal kami terlihat menjadi sasaran empuk, dua buto ijo dengan brutal menghabisi para prajurit dengan sekali ayunan tangan. Terlihat zirah besi yang mereka pakai seolah-olah tidak berguna, dan akan langsung penyok ketika dihantamkan dengan kayu yang kedua Buto ijo itu bawa.
Darah, jeritan, serta tangisan kesakitan ada dimana-mana dan selalu berdengung di kepalaku. Aku kemudian melihat sebuah pemandangan mengerikan, dimana salah satu buto ijo dengan sangat brutal memakan salah seorang prajurit. Terlihat, orang itu kesakitan dan memohon untuk dilepaskan dari cengkraman buto ijo tersebut. Suara remukan tulang tentu saja terdengar sangat jelas di telingaku.
Aku hanya bisa diam seolah tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat sekarang ini. Kemudian, tangan seorang prajurit yang sedang dimakan oleh buto ijo tersebut terlempar ke arahku. Dan saat ku lihat lebih dekat, tangan tersebut sedang memegang foto hitam putih. Nampak, senyum bahagia seorang Ayah, Ibu beserta anaknya terlihat dalam foto tersebut.
"Rama!"
Teriak Putri Isabella memanggilku.
"Apa yang Kau lihat?!
…
Ayo kita segera lari dari sini!"
Lanjut teriakannya.
Dengan perasaan marah yang memuncak, aku kemudian menerjang salah satu buto ijo. Terdengar juga bahwa Putri Isabella berteriak memanggilku lagi saat itu.
"Rama!
…
Teriakannya.
Aku kemudian memperkuat tubuhku menggunakan energi sihir, dan langsung mendaratkan pukulan ke salah satu sosok buto ijo. Terlihat, pukulanku tersebut menimbulkan hempasan angin, namun tidak berpengaruh banyak kepada sosok buto ijo tersebut.
"Ke-kenapa?" Ucapku keheranan karena pukulanku tidak mempan sama sekali.
Seketika itu, terlihat bahwa Buto ijo tersebut tersenyum dan langsung mendaratkan hantaman kayunya. Dengan segera, aku membuat bola api untuk menangkal hantamannya.
Namun, aku justru terhempas dan menabrak serta menembus 3 pohon sekaligus.
"Rama!" Teriak Kak Wulan.
Setelah mendapatkan serangan darinya, aku tidak bisa merasakan apapun. Tubuhku terasa lemas dan juga terus memuntahkan darah. Terlihat, Putri Isabella datang serta langsung menyembuhkanku menggunakan sihir heal.
Dengan pandangan mata yang kabur aku melihat Kak Wulan sedang melawan sosok buto ijo tersebut. Terlihat Dia menggunakan segala cara dengan mengeluarkan seluruh kekuatan yang Dia punya. Namun, serangannya tidak berefek sama sekali.
"Rama!
…
Sadarlah! Aku mohon, jangan sampai mati!"
__ADS_1
Teriak Putri Isabella ke arahku sambil menangis.
Aku kemudian menyadari, salah satu dari sosok buto ijo mulai mendekat ke arah Kak Wulan, saat itu aku ingin berteriak untuk memperingatkannya. Namun, suaraku tidak mau keluar.
Alhasil, Kak Wulan berhasil ditangkap olehnya. Kak Wulan terlihat berusaha untuk keluar dari genggaman sosok buto ijo tersebut. Namun, usahanya sia-sia.
Tangan Kak Wulan kemudian di gigit oleh salah satu sosok buto ijo tersebut, dan karenanya Kak Wulan berteriak karena kesakitan.
"Mu-mustahil …
Kak Wulan … "
Ucap Putri Isabella.
Melihat kejadian tersebut, Aku tidak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa meneteskan air mata, terlihat Kak Wulan tersenyum dan dari gestur bibirnya mengatakan.
"Te-ri-ma ka-sih."
Mataku semakin berkaca-kaca dengan keadaan Kak Wulan, serta mempertanyakan mengapa diriku bisa selemah ini? Mengapa diriku bisa sepayah ini? Dan alasan mengapa Dewi Fifi memilihku?
Dengan tenaga yang tersisa aku mencoba untuk bangkit, sambil menggertakkan gigi aku kemudian berlari dan mengambil salah satu pedang prajurit yang tergeletak begitu saja di tanah. Saat itu, terlintas ingatan perkataan Mama yang mengatakan bahwa jika ingin memaksimalkan energi sihir, aku harus fokus dan harus sadar dari sumber emosi apa yang aku ubah menjadi energi sihir ini.
"Ingat, Rama!
…
Jika Kamu ingin memaksimalkan energi sihirmu, Kau harus sadar dari emosi apa yang kau ubah menjadi energi sihir!" Ucap Mama dalam ingatanku.
"Memangnya emosi apa yang aku ubah menjadi energi sihir, Mama?
Tanyaku pada Mama.
"Mama belum pasti …
…
Jika berkaca pada pertarungan Kita melawan Kak Wulan, Mama bisa merasakan emosi positif dari dirimu.
…
Namun, jika berkaca pada pertarunganmu melawan para bandit pasar, Mama bisa merasakan bahwa dirimu mengubah emosi negatif menjadi sihir."
Ucap Mama dalam ingatanku.
"Bagaimana jika dalam pengkondisian saja?" Lanjut perkataanya.
"Hah pengkondisian? Maksudnya?" Balasku.
"Bagaimana cara menjelaskannya, yah?" Jawab Mama.
"Intinya … Nanti juga dirimu akan sadar!" Lanjut perkataan Mama sambil tersenyum yakin.
Setelah mengingat semua itu, aku kemudian menyadari 'pengkondisian' yang Mama maksud. Sambil berkonsentrasi mengalirkan Mana ke seluruh tubuh dan juga pedang yang kupegang, aku membayangkan semua hal buruk yang pernah ku alami. Dan di saat puncak, aku kemudian membuat diriku begitu dendam kepada dua sosok buto ijo yang ada di hadapanku saat ini.
Tiba-tiba, tubuhku dialiri dibanjiri oleh Mana. Pedang prajurit yang kubawa tadi terlihat diselimuti api berwarna jingga. Tanpa berpikir panjang aku langsung menebas kedua tangan Buto ijo tersebut, dan berhasil membebaskan Kak Wulan dari genggaman mereka.
Saat Kak Wulan akan jatuh, dengan cepat diriku membuat sebuah bola air agar dirinya bisa mendarat dengan aman. Saat mendekatinya, terlihat luka ditangannya cukup dalam. Namun beruntungnya, tangannya tidak sampai lepas.
Dengan cepat aku merapalkan mantra heal padanya, dan dalam hitungan 10 detik lukanya langsung sembuh.
__ADS_1
"Rama … Kamu … " Ucap Kak Wulan.
Bersambung