
Sudut pandang orang pertama, Rama.
Setengah bulan kemudian.
"Tring .. Tring .. Sret!"
"Dashhhhhhh!"
"Bruk .. bruk .. Stret!" Suara pertarungan.
"Arah jam 10, Rama!" Teriak Renia.
"Ya!" Balasku.
Dengan segera, Aku menghindar dan menyerang balik menggunakan pedang milikku!
"Kamu hebat!" Ujar Isabella.
"Terimakasih, kalian bertiga juga." Balasku.
"Sungguh disayangkan, kenapa kamu tidak pernah menggunakan energi sihirmu lagi, Rama?" Tanya Renia.
"Itu .. Itu .. Rahasia." Jawabku sambil tersenyum.
Ya, sudah enam bulan berlalu sejak kejadian itu. Aku memutuskan untuk menerima saran dari Dewi Fifi untuk tidak menggunakan energi sihirku secara berlebihan.
Berkatnya saran darinya, Aku dapat menghemat tenaga selama pertarungan, melatih pertempuran jarak dekat baik tangan kosong maupun berpedang. Bukan itu saja, secara bertahap aku bisa memahami konsep mikromagis, dikarenakan selama pertempuran, Aku dipaksa untuk menghemat serta mengeluarkan energi sihir dalam jumlah kecil.
Oh iya, sekarang kami tengah menjalankan misi lanjutan. Dimana kami diminta untuk membasmi dan menghancurkan markas dari para bandit yang kerap meresahkan.
Posisi kami semua sudah bergerak menuju arah utara, lebih tepatnya kami sekarang berada di benua langit!
Orang-orang disini terkenal dengan kemampuannya yang bisa terbang layaknya burung!
Renia mengatakan bahwa kemampuan ini sangat sulit dipelajari, mengingat diperlukannya kontrol serta keseimbangan energi sihir yang baik.
"Mereka menggunakan manipulasi sihir angin agar bisa terbang seperti itu." Ujar Renia menjelaskannya pada kami.
"Meskipun terlihat mudah, tapi tidak semua orang bisa menggunakan kemampuan ini .. mengingat diperlukannya kontrol serta keseimbangan energi sihir yang bagus!" Lanjut perkataanya.
"Seperti apa ya, rasanya bisa terbang?" Ucapku dalam hati sambil melihat orang-orang yang tengah terbang.
Saat ini, Kami sedang menuju tempat penginapan untuk beristirahat.
"Ahhhh .. Lelah sekali .. " Ucap Isabella yang kemudian merebahkan badannya di kasur.
"Benar, Aku juga." Jawab Renia.
"Aku mau makan!" Balas Nyx.
__ADS_1
Mereka bertiga nampak begitu lelah, wajar saja mengingat misi kami memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 5 hari 5 malam.
"Ada apa Rama? Kamu terlihat murung." Tanya Renia menyadari aku sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak, sama seperti kalian Aku hanya kelelahan." Jawabku.
"Oh iya teman-teman, Aku mau mencari udara." Ujarku yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
Berjalan entah kemana, daritadi aku hanya memikirkan perkataan Dewi Fifi. Mengenai alasan kami sebenarnya di teleportasikan oleh Agria si raja Verdifield, pencarian orang bernama Yura dan tentang ayahku yang harus ku tanyai kepada Ibu.
"Ah, semuanya membuatku kesal!" Teriakku.
Aku kemudian menendang sebuah batu dan mengenai seseorang.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucapku sambil berlari ke arahnya.
Aneh, Dia tidak berbicara sama sekali dan malah menggelengkan kepalanya seolah berkata "tidak apa-apa."
Dilihat lebih seksama, Dia ternyata seorang bocah yang kemungkinan berusia 9 tahun.
"Kamu sungguh tidak apa-apa?" Lanjutku bertanya padanya.
Tiba-tiba, terdengar suara seseorang berteriak memanggil-manggil nama "Lyoric."
Bocah ini dengan cepat berlari ke arah orang tersebut.
"Kamu ini darimana saja, hah?!
Aku yang melihat kejadian tersebut tepat didepan mata, tentu merasa geram dan jengkel. Hampir saja Aku membuat sihir api dan berencana membakarnya di tempat!
Namun, dalam sekejap mata Aku malah teringat dengan kejadian saat masih berada di Benua merah.
"Ayo, bawa semua barang-barangnya!" Lanjutnya berteriak pada bocah itu.
Bocah tersebut kemudian membawa sebuah benda berupa koper yang terlihat cukup berat.
Koper itu terlihat lebih besar dari badan bocah malang tersebut. Dan dengan bersusah payah, Dia mengangkat dan membawanya bersama badannya yang kurus kering.
"Budak dan majikan, ya." Ucapku bergumam.
Hal seperti ini memang sudah biasa terjadi, baik di dunia isekai ini atau di dunia ku dulu.
Namun, di dunia isekai yang sekarang ku tempati moral serta hukumnya lebih parah!
Anak seusia itu harus di perbudak dan merasakan rasa sakit dalam mencari uang!
Entah orang tua egois mana yang tega menjual anaknya sendiri demi uang!
Saat akan berbalik pergi, tiba-tiba majikan dari bocah itu kembali berteriak.
__ADS_1
"Dasar tidak berguna!"
"Kau malah menghancurkan semua barang-barangnya!"
"Bahkan hukuman tidak makan selama 3 hari belum cukup untukmu!" Ujarnya berteriak.
Ya, bocah itu secara tidak sengaja menjatuhkan koper yang berisi sesuatu ke tanah.
"Anak sekecil itu mana bisa mengangkat benda sebesar itu, tahu!" Ucapku dalam hati dengan kesal.
Majikan bocah itu terlihat akan menendangnya. Dengan segera, Aku berlari dan menyelamatkannya!
"Siapa Kau, hah?! Kenapa ikut campur dalam urusanku?!" Teriaknya padaku.
"Bacot!" Jawabku meneriakinya balik.
Aku kemudian membuatnya pingsan dengan cara menghajar perutnya menggunakan gagang pedang milikku!
"Dasar .... Om-om yang menjijikkan ... " Ucapku merasa puas setelah menghajarnya.
Bocah ini malah ketakutan denganku, Dia mengira kalau aku juga akan melukainya.
"Tunggu, jangan pergi! Aku tidak akan melukaimu!" Teriakku padanya.
Dia kemudian berlari berusaha menjauh dariku, tentu dengan mudah aku bisa mengerjarnya. Dia pada akhirnya menyerah karena malah berlari ke sebuah sudut bangunan.
Tampak, wajahnya begitu ketakutan, seluruh badannya begitu gemetar dan juga mengeluarkan keringat dingin. Dia terlihat seperti ingin berbicara namun tidak bisa.
Secara perlahan, Aku mencoba untuk menyentuh dan mengelus kepalanya.
"Tenanglah, Aku tidak akan melukaimu ... " Ucapku sambil mengelus kepalanya.
"Oh iya!" Lanjut perkataanku sadar akan sesuatu.
Aku kemudian meraih tas pinggang, dan mengeluarkan sepotong roti untuknya makan.
"Ini, makanlah!" Ujarku tersenyum sambil memberinya sepotong roti.
Dia terlihat begitu senang dan dengan lahapnya memakan roti pemberian dariku.
Melihatnya makan begitu lahap, Aku sadar bahwa Dia pasti tidak diberi makan cukup lama!
"Chc .. Dia pasti tidak memberinya makan dalam kurun waktu satu atau dua hari .. " Ucap kesalku pada majikannya.
"Apa yang harus kulakukan setelah ini ... " Lanjut perkataanku.
Ya, perasaan bingung menyelimuti diriku. Mengingat baru saja menyelamatkan budak dari majikannya. Dan sekarang, apa yang harus kulakukan? mengingat diriku tentu saja tidak bisa membiarkannya sendirian setelah ini.
"Pasrah saja, kubawa ke penginapan ... " Ujarku.
__ADS_1
Dan sekarang, Aku malah mengundi nasib dengan membawa seorang bocah ke dalam party kami. Entah apa reaksi Renia nantinya, Aku sangat penasaran.