
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Dasar lemah!"
"Push-up hanya sebanyak 1000 kali saja Kau sudah kewalahan, Rama!" Teriak Guru padaku.
"1000 kali kau bilang 'hanya,' Guru?" Ucapku dalam hati.
"Jika fisikmu lemah seperti ini, kamu akan kalah dengan mudah!"
"Ayo cepat bangkit dan ulang lagi dari nol!" Lanjut teriak guruku.
"Tidak!!!" Jawabku sambil berteriak.
Sekarang aku dilatih oleh Draven Darkheart yang merupakan salah satu dari the mighty fourteen atau empat belas orang terkuat.
"Aku akan tidur, kalian semua pergilah mencari uang!" Tegasnya.
"Pak tua ini!" Balas kesal Renia.
"Sudah cukup, Renia." Ucapku mencoba menenangkannya.
Sikapnya memang merupakan cerminan dari salah satu tujuh dosa besar, yakni rasa malas.
Setiap hari, pekerjaannya tidak lebih dari makan, buang air besar dan tidur. Sekalinya bangkit, Dia akan melatih fisikku!
"Empat ratus sembilan puluh lima .. empat ratus sembilan puluh enam .. empat ratus sembilan puluh tujuh .. empat ratus sembilan puluh delapan .. empat ratus sembilan puluh sembilan .. lima ratus!" Teriakku menghitung jumlah push-up.
Aku kemudian terjatuh, karena sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan.
"Sudah guru, aku hanya bisa setengah daripada yang diminta ... "
"Lemah!"
"Cepat berdiri dan kembali lanjutkan!"
"Tidak-tidak! Ulangi lagi dari awal!" Balasnya dengan tegas.
"Semua ini merepotkan!"
"Bukankah kita bisa meningkatkan kekuatan fisik hanya dengan energi sihir?!" Ucapku dengan nada kesal.
Secara perlahan, Guru kemudian berjalan datang menghampiriku, tiba-tiba Dia menendang punggungku dengan begitu kerasnya.
*Dashhhhhhhhhhh
Tentu saja hal tersebut membuat retak tanah yang menjadi tempatku melakukan push-up.
"Inilah sebabnya kita selalu harus meningkatkan kekuatan fisik!"
"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh musuh!" Tegasnya menjawab.
"Ini lebih tidak masuk akal!" Gumamku kesal pada guru.
"Apa yang kau bilang, Rama?!" Balasnya bertanya dengan nada kesal.
"Tidak-tidak! Tidak ada guru, hehe." Jawabku.
...****************...
Di lain hari, saat mendapatkan waktu senggang aku memutuskan untuk membersihkan penginapan tempat kami tinggal.
Guru Draven mengatakan bahwa dia ada urusan penting di balai kota. Nyx membawa April untuk diajak bermain, sementara Renia dan Isabella membeli beberapa bahan makanan.
"Yosh tinggal kamar guru yang belum ku bersihkan!" Ucapku.
Masuk kedalam, terlihat kamarnya begitu berantakan dan juga kotor. Seolah mewajarkan itu semua, mengingat sifatnya yang merupakan seorang pemalas.
Aku kemudian menyapu serta membereskan kamarnya dengan sepenuh hati. Semua hal tidak luput ku perhatikan, dimulai dari lantai, kasur, serta perlengkapannya ku bersihkan.
Namun saat akan keluar dari kamar guru, tiba-tiba perhatianku teralihkan oleh sebuah foto yang sedikit terlihat dari balik bantal.
"Apa ini? Tiba-tiba kok ada foto, ya?" Ucapku yang kemudian mengambil foto tersebut.
Setelah melihatnya, Aku kemudian sadar bahwa ini merupakan foto kebersamaan guru Draven bersama dengan partynya.
Terlihat dalam foto tersebut, ada guru bersama dengan tiga orang lainnya. Tiga pria dan satu orang wanita.
"Siapa tiga orang lainnya, ya?" Ujarku sambil melihat foto tersebut.
__ADS_1
Membalikkannya, terdapat nama-nama dengan list :
Draven Darkheart.
Simeone Harist.
Ryuma DragonDark. Terakhir,
Vanisha DragonDark.
Aku kemudian kaget, ketika tahu salah seorang dari mereka ternyata Vanisha DragonDark!
"Mustahil!"
tiba-tiba, guru Draven datang dan mengagetkan diriku.
"Sedang apa kamu disini, Rama?" Tanya Dia dengan tiba-tiba.
"Gu-guru?!" Bagaimana bisa anda tiba-tiba ada disini?!" Jawabku dengan panik.
"Urusanku di balai kota sudah selesai."
"Tidak-tidak! Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu guru, hehe." Jawabku.
"Untung saja aku sempat menaruh kembali fotonya!" Ucapku dalam hati.
"Baiklah, aku percaya."
"Sekarang kau libur, kan?" Balas dan tanya Dia.
"Iya .. kenapa memangnya, guru?" Jawabku berbalik tanya.
"Aku akan mengajarimu sihir manipulasi angin agar kau bisa terbang, Rama." Balasnya.
Mendengar hal tersebut darinya, tentu membuatku bahagia.
"Benarkah? Hore!!!" Ujarku sambil berjoget karena senangnya.
"Tapi tunggu, jangan senang dulu!"
"Aku tidak tahu apakah kau memiliki kemampuan dalam manipulasi elemen angin." Balasnya.
Sejenak, Aku kemudian melamun dan memikirkan apakah pernah menggunakan sihir angin.
"Gawat! Aku tidak pernah menggunakan sihir angin!" Teriakku dengan panik.
"Sudah kuduga!"
"Aku melihat, bahwa Kau tidak memiliki bakat dalam menggunakan sihir angin, Rama." Balasnya dengan jujur.
Mendengar perkataan darinya tersebut, lantas membuatku sedih. Padahal, Aku sangat ingin sekali memiliki kemampuan untuk bisa terbang atau melayang di udara.
"Tapi tenang, masih ada jalan alternatif!" Lanjut perkataanya.
"Hah? Benarkah? Apa itu guru?!" Tanyaku dengan semangat.
"Ikut aku!" Jawabnya.
"Kemana?" Balasku.
__ADS_1
"Cerewet! Sudah ikut saja!" Jawab guru dengan nada kesal.
...****************...
Mengikutinya, Aku kemudian dibawa oleh guru ke sebuah gunung yang begitu tinggi. Sisi jalan kanan dan kirinya terlihat begitu mengerikan, karena saking curam dan dalamnya!
"Kita sebenarnya mau kemana, sih?" Tanyaku.
"Sebentar lagi, kau akan mengetahuinya." Jawabnya.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di puncak gunung.
"Kita sudah sampai!" Ujarnya.
Hawa dingin begitu terasa disini, dengan terpaan angin yang begitu kuat terasa seperti mendorongku untuk segera terjun!
"Ikuti aku, Rama!" Lanjut perkataanya.
Menurut, Aku kemudian mengikutinya dan berjalan ke sebuah tepi gunung yang begitu dalam dan juga curam.
"Kau sangat ingin terbang kan, Rama?" Tanya guru.
Aku kemudian menganggukkan kepala tanda mengatakan "iya." Namun hatiku masih bingung, tidak mengerti dengan semua ini.
"Memang, apa jalan alternatif yang guru bicarakan?" Tanya Dia.
"Akan guru jelaskan dengan menceritakan sebuah kisah dongeng ... "
"Pada zaman dahulu ... "
Tertipu karena mengira dirinya akan menceritakan kisah dongeng, aku kemudian lengah dan dilemparkan olehnya ke tepi gunung.
"Aaaa!!!"
"Guru!!!" Teriakku karena ketakutan.
Namun beruntung, aku sempat memegangi jubah miliknya.
"Lepaskan dasar anak penakut!" Ucapnya dengan begitu kesal.
"Apa yang guru lakukan?!"
"Kenapa malah ingin melenyapkanku?!"
"Padahal guru sudah kuberikan tempat tidur dengan kasur yang empuk, serta makanan yang enak!"
"Tapi kenapa guru malah menginginkan semua ini?!" Teriakku bertanya padanya.
"Siapa juga yang menginginkanmu lenyap dari dunia ini?!" Jawabnya yang bertanya balik padaku.
"Kau sangat ingin terbang, kan?!"
"Maka inilah caranya!"
"Saat dalam keadaan antara hidup dan mati, seseorang biasanya akan dapat meningkatkan kemampuannya!"
"Itulah yang ku yakini sampai detik ini!" Lanjut perkataanya dengan tegas.
"Keyakinanmu sama sekali tidak berujung, guru!"
"Kau kira kita ini hidup di dalam sebuah novel?!"
"Cobalah untuk serius!" Balasku.
"Dasar anak ayam penakut!" Jawabnya sambil melepas jubahnya.
Akibat guru yang melepaskan jubahnya, Aku kemudian terhempas jatuh dari atas gunung yang begitu tinggi!
Dalam keadaan diantara hidup dan mati, aku hanya bisa berteriak ketakutan!
"Aaaa!!!"
"Kau tidak akan pernah ku berikan makanan lagi, guru!" Teriakku.
"Dasar banyak bicara! cepat terbanglah!" Jawabnya yang juga berteriak.
"Gawat, apa yang harus kulakukan?!" Ucapku dalam hati sambil melihat ke arah bawah.
_Bersambung.
__ADS_1