Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Serangan Yang Tiba-tiba


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama.


"Aku yang menang kan? Paman?" Tanyaku padanya.


"Ya, Kamu yang menang!" Jawabnya sambil pasrah melihat lapaknya hancur.


Ditengah kegembiraan yang kurasakan, tiba-tiba terasa sebuah energi sihir yang begitu kuat.


"Energi sihir yang begitu kuat!" Ucapku dalam hati dengan paniknya.


Mencari sumber kekuatan sihir tersebut, Aku kemudian merasakan sebuah bahaya tiba-tiba berada dekat dibelakangku.


"Rama!" Teriak Isabella kepadaku.


Melihatnya, terlihat seorang wanita yang tengah berdiri tepat dibelakangku. Tidak salah lagi, Dia pemilik energi sihir yang kuat ini!


"Isabella, pergi!" Teriakku padanya.


Lengah, Dia kemudian menyerang Diriku menggunakan kekuatan tendangannya.


Seketika Aku terhempas dan menabrak dinding bangunan.


"Rama .. Rama!" Teriak khawatir Isabella sambil mendekatiku.


Aku kemudian memuntahkan darah yang cukup banyak mengingat terkena serangannya begitu telak!


"Aku tidak percaya bahwa Kau lah yang menghabisi nyawa Ao dan Ai sendiri." Ucapnya dengan tenang.


"Siapa Kau?!" Teriakku bertanya padanya.


Dia kemudian tersenyum tipis dan dengan nada sombong kemudian memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan, Namaku Vanisha. Aku adalah salah satu dari mighty fourteen urutan 3. Salam kenal, adik-adik manis." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Ada urusan apa dengan kami, hah?!" Teriak tanya Isabella.


"Urusan? Banyak!"


"Karena kalian menghabisi nyawa Ao dan Ai, Aku harus kehilangan dua bidak sekaligus!" Jawabnya.


"Ditambah lagi, siklus peralihan peringkat the mighty fourteen memakan waktu cukup lama."


"Ya, sekitar satu tahun."


"Tapi, sepertinya Aku sudah menemukan bidak pengganti mereka." Katanya sambil tersenyum.


"Meskipun samar-samar, tapi Aku bisa merasakan energi yang begitu besar darimu!" Lanjut perkataanya sambil menunjukku.


"Sayangnya, Aku sama sekali tidak ingin menjadi bidakmu!" Jawabku dengan tegas.


'"Wuhahahahahaha." Dia tertawa.


"Tidak apa-apa, lihatlah apa yang akan kulakukan!" Ucapnya setelah tertawa.


Dia kemudian mengeluarkan sebuah senjata berupa cambuk dari balik jubah miliknya. Yang sesaat setelah itu langsung membantai orang-orang yang berada disini.

__ADS_1


"Hentikan!" Teriakku.


"Tidak, Aku justru lebih menikmati jeritan dari orang-orang lemah!" Balasnya yang masih menghabisi orang-orang di pasar malam ini.


Terdengar suara jeritan, tangisan, serta mohon ampun ada dimana-mana. Dia secara brutal menghabisi nyawa orang-orang tidak bersalah di tempat ini menggunakan cambuk miliknya.


"Lebih keras lah dalam menjerit!"


"Lebih keras lah dalam menangis!"


"Lebih keras lah dalam memohon!" Teriaknya menikmati malam pembantaian.


Rasa marah, kesal serta dendam tentunya langsung tertuju padanya. Buta arah, Aku kemudian melesat dan langsung menyerangnya menggunakan kekuatan tinju api milikku.


"Rama, berhenti!" Teriak Isabella sesaat setelah Diriku melesat.


Namun, Dia dengan mudah bisa menangkis serangan Dariku dan langsung menyerang balik menggunakan cambuk miliknya.


Terkena cambuknya itu, darah langsung keluar dari tanganku yang disebabkan oleh adanya robekan daging.


"Hem, hebat juga ... "


"Biasanya orang biasa akan langsung tercincang ketika terkena cambukan senjataku." Ucapnya.


"Dan itu membuktikan bahwa Kau bukanlah orang biasa!" Lanjut perkataanya sambil tersenyum jahat.


"Banyak bicara!" Balasku yang langsung melesat kembali berniat menyerangnya.


"Bodoh!" Ucapnya.


Dia kemudian merapalkan sihir es yang merupakan sebuah tingkatan yang jauh lebih tinggi dariku!


Seketika terbentuklah jarum-jarum es yang langsung melesat dengan kecepatan amat sangat tinggi dan seketika menusuk seluruh tubuhku!


"Rama!" Teriak Isabella.


Namun, Aku tidak memperdulikan rasa sakit yang saat ini kurasakan dan tetap melesat mendekati dirinya.


Berada cukup dekat, Aku kemudian melesatkan tinjuan berapiku kembali.


"Makan ini!"


"Red ardor fire strike!"


Bukannya menghindar, Dia malah menerima serangan Dariku.


*Boommmmmm


Seketika suara ledakkan yang begitu keras terdengar akibat dari serangan tinju api jingga milikku.


Aku lalu menyadari bahwa seranganku tadi sama tidak mengenainya. Asap kemudian menghilang dari pandanganku dan terlihat Diriku hanya memukul es.


"Dia berlindung dari balik es ini!" Ucapku dalam hati dengan paniknya.


Saat akan mundur beberapa langkah, tiba-tiba terbentuk beberapa es runcing dari pelindungnya, ukurannya cukup besar mungkin sebesar kepalan tanganku.

__ADS_1


Karena lengah, Aku tertusuk serangan es miliknya dan tidak bisa bergerak sama sekali.


"Aku tidak menyangka, bahwa Kau bisa sampai sejauh ini ... " Ucapnya.


"Sakit ... " Gumamku menahan rasanya.


Ya, rasa sakit begitu sangat terasa di sekujur tubuhku. Tampak bahwa es nya berwarna merah karena dihiasi oleh cipratan darahku.


Tiba-tiba, Renia dan Lisa datang sembari mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing!


"Sihir petir : Kilat!"


"Sihir api : Bola api!"


Vanisha tentunya dengan mudah bisa menghindar dari kombinasi serangan mereka berdua.


"Tampaknya ada dua tikus yang ikut ke dalam pesta, yah!" Ucap Vanisha.


Nyx dengan segera membawaku ke tempat Isabella berada.


"Ayo, Rama!" Ucapnya sambil membawaku.


Aku kemudian di sembuhkan menggunakan dua sihir penyembuh sekaligus, yakni oleh Nyx dan Isabella.


Sembari di obati, Aku bisa melihat serta mendengar mereka berdua bertarung melawan Vanisha, karena saat ini kesadaranku sama sekali tidak menghilang.


"Bagus, Ayo hibur Aku lebih lama lagi!" Ucap senang Vanisha.


Terlihat, baik Renia ataupun Lisa sama sekali tidak bisa memulai Vanisha sama sekali. Serangan mereka berdua tampak sia-sia dan begitu lemah dihadapannya.


"Wuhahaha, hanya ini saja kekuatan kalian berdua?!" Tanya Vanisha dengan sombongnya.


Terlihat, Renia terprovokasi dengan ucapan Vanisha dan langsung menyerangnya tanpa perhitungan. Lengah, Dia langsung melancarkan serangan es kepada Renia.


"Renia!!!" Teriakku agar Dirinya waspada.


Malang, nasib berkata lain. Serangan es tersebut langsung melesat dan menusuk kaki Renia.


"Arggghhh!!!" Renia berteriak kesakitan.


Tanpa ampun, Vanisha kembali menyerang Renia menggunakan serangan es miliknya. Kali ini, Dia mengincar tubuh Renia yang kini terlihat tidak waspada dan lengah terbuka lebar.


"Rasakan ini!" Ucap Vanisha.


Namun, serangan es nya tersebut tidak mengenai Renia sama sekali dan malah mengenai Lisa. Benar! Dia melindungi Renia.


"Li-lisa?!" Ucap tidak percaya Renia.


Akibatnya, Lisa kemudian jatuh tersungkur di atas tanah. Darah seketika membanjiri tubuhnya disusul dengan energi sihirnya yang perlahan ikut menghilang.


"Gawat!!! Jika dibiarkan Lisa akan ... " Ucapku memaksakan Diri.


"Rama, jangan memaksakan diri!" Ucap perintah Isabella.


Tanpa memperdulikan perkataanya sama sekali, Aku kembali ke tempat pertempuran dan menyerang Vanisha sekali lagi.

__ADS_1


"Red ardor fire strike!" Teriakku.


_Bersambung.


__ADS_2